• abdur

    Abdur Rabb Watkins

    KONEKSI

    Penugasan sebagai Asisten Guru Bahasa Inggris (English Teaching Assistant/ ETA) Fulbright saya mulai untuk membuktikan apakah para ahli psikologi perkembangan Piaget, Vygotsky, dan Erikson benar adanya. Saya telah menggunakan dan menguji sebagian dari teori tersebut dengan mempraktekkannya di Clemson, Carolina Selatan. Dengan kurikulum dan praktik budaya yang relevan, sebagai prasyarat untuk pengajaran yang efektif dan populasi dunia yang semakin terhubung dengan kecepatan yang tinggi, bagaimana seorang guru yang dididik di selatan Appalachia dapat berhubungan dengan seorang anak berumur 9 tahun, 12 tahun, 16 tahun yang tinggal di utara Makassar? Di mana kita ketemunya?

    Pengalaman Fulbright saya di Indonesia memberikan pengalaman nyata sebagai pengganti kuliah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Salah satu pelajaran pertama saya terima ketika gempa berkekuatan 7,6 skala Richter mengguncang enam hari setelah saya tiba di tempat mengajar saya di Sumatera Barat. Jam pelajaran di SMK 9, sebuah sekolah menengah kejuruan di Padang, baru saja usai. Saya telah berganti pakaian, mengirim sms kepada rekan saya, Pak Zul, “sampai jumpa lagi minggu depan,” memasukkan daftar sekumpulan restoran yang direkomendasikan oleh para siswa ke kantong saya, dan menemui siswa senior jurusan perhotelan kami untuk meminta petunjuk arah jalan. Gempa terjadi begitu mendadak. Saya masih ingat kelincahan seorang anak laki-laki saat ia melompati meja, dan dua anak perempuan yang dengan cepat mengitari meja depan sebelum lari ke luar pintu. Sulit untuk melukiskan sensasi ketika merasakan sesuatu yang biasanya stabil dan tenang tiba-tiba mulai bergerak dan merekah di bawah kaki. Sebagian besar dari kami kemudian berkumpul di lapangan sekolah menunggu selesainya gempa susulan. Menara-menara pemancar telekomunikasi tumbang dan asap pun mulai membubung. Dua pria tua duduk dengan tenang layaknya teman lama di sebuah bangku. Saya duduk beberapa meter jauhnya dari mereka di atas rumput yang belang bonteng, memutuskan bahwa kalau mereka beranjak pergi, akan lebih aman buat saya untuk kembali ke kamar kerja saya di sekolah.

    Selayaknya seorang pahlawan, Pak Zul datang menjemput saya malam berikutnya dan melaju di atas sepeda motornya menyibak lalu lintas yang padat dan curah hujan ke arah bandara. Kami berbincang-bincang duduk di tanah di luar gerbang masuk mengenai rumahnya yang tergenang air dan anak-anaknya, yang kesemuanya selamat. Saya selalu ingat akan kebaikannya. Nellie Paliama, senior program officer untuk penerima beasiswa Amerika di AMINEF, menyambut saya di Bandara SoekarnoHatta di Jakarta dengan pelukan hangat dan segera menyambungkan saya ke ibu saya melalui telpon, dan mereka berdua merasa lega dan di luar dugaan senang mendengar keputusan saya untuk melanjutkan tugas mengajar saya. Mereka telah dipersatukan selama masa penantian menunggu berita keselamatan saya.

    Barana, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, menjadi tempat tugas baru saya. Para siswa berhasil membuat saya betah di sana. Waktu belajar bersama di kelas, bermain di lapangan basket, mendaki kaki bukit di sekitar kami, duduk di kantin yang gelap gulita ketika listrik padam, bertanya dan menjawab pertanyaan adalah pendidikan yang berharga. Gadis kecil tetangga saya memiliki senyuman yang dapat menyembuhkan rasanya. Kerbau yang bergerak lamban dan hujan yang turun tepat waktu mengingatkan saya agar menurunkan tempo kegiatan. Pemadaman listrik yang sering terjadi membuka mata saya betapa terang bintang-bintang dan bulan jika kita matikan lampu. Untuk tatapan aneh dan tawa cekikikan yang masih saya jumpai di seluruh Indonesia, menunjukkan adanya kesamaan di manamana. Sisi kemanusiaan kita yang tidak tergantikan merupakan koneksi di antara kita. Seberapa jauh kita menerima, menghormati, dan menghargai kebenaran ini menentukan kualitas hidup kita bersama. Di ruang kelas 4 baru saya di Sekolah Internasional Mentari di Jakarta dan dalam kehidupan pada umumnya, inilah hal terpenting dari proses pengajaran dan pembelajaran.

    Last Updated: May 8, 2019 @ 7:06 pm

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 68-70) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox