• syafii

    Ahmad Syafi’i Ma’arif

    TIMUR DAN BARAT MILIK ALLAH

    H. Ahmad Syafi’i Ma’arif mendapat beasiswa Fulbright pertama kali pada 1972. Tetapi baru tiga semester di Amerika, beliau terpaksa pulang karena putranya sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Tahun 1976 ia kembali lagi ke Athens, Ohio, untuk menyelesaikan program masternya di bidang sejarah.

    “Aduh, beratnya. Saya baru boleh membawa anak dan istri, kalau semua nilai saya A. Untuk orang setua saya, keharusan itu sungguh menyiksa. Jadi saya pontang-panting,” kenangnya. Ia ingat, nilai tes kefasihan berbahasa Inggris, TOEFLnya kurang dari 500. Tetapi, dengan upaya keras akhirnya bisa meningkat, dan akhirnya berhasil menyelesaikan kuliah dengan baik.

    “Anak kampung” kelahiran Sumpurkudus, Sumatera Barat, 1935 ini akhirnya memperoleh beasiswa lain untuk meraih gelar doktor di Universitas Chicago, 1993. Almamaternya, IKIP Negeri Yogyakarta mengangkatnya menjadi guru besar pada 1996. Selanjutnya ia sering dipanggil dengan nama “Buya Syafi’i” dan dikenal luas sebagai guru bangsa yang tulus dan sederhana.

    “Fulbright memberi kesempatan untuk pergi ke Amerika. Di sana mata kita dibuka, jantung dibuka, dan kita diajar berpikir merdeka,” katanya.

    Selama di Athens, anggota Muhammadiyah sejak 1955 ini merasa masih fundamentalis. “Setelah banyak berdialog, ternyata beberapa hal yang saya kagumi harus dikoreksi.”

    Buya Syafi’i berpendapat, Islam lebih dipraktikan di Amerika Serikat daripada di negeri Islam seperti Indonesia, Tanah Airnya. “Prinsip egalitarian berjalan dengan benar. Setiap orang dihormati sebagai pribadi yang bermartabat. Orang Amerika itu suka pada mereka yang menjunjung harga diri,” kata penggemar berkayuh naik sepeda ini.

    Hampir setiap hari ia naik sepeda berkeliling ke kampung-kampung. Sebagai anak Minang, ia juga suka memasak. Makanan kegemarannya adalah sate dan soto kambing. Di Amerika ia suka masak yang enak-enak, sekaligus menjadi pencuci piring.

    “Ketika bertemu Presiden Bush pada 2003, saya banyak protes. Tapi beliau senang. Acara bincang-bincang yang semula hanya dijadwalkan 25 menit, molor menjadi 55 menit. Presiden Bush suka kalau kita berani mendebatnya. Saya katakan: Amerika punya segala-galanya. Punya banyak uang, bom nuklir, pesawat tempur, kapal induk, macam-macam. Tetapi sayang, Amerika belum punya global wisdom.” Begitu kata “guru bangsa” dan pemuka agama Islam yang diundang khusus untuk memberikan konsultasi pada George Bush, selapas peristiwa pengeboman World Trade Center dan Paddy Cafe di Bali.

    Apa yang dimaksudnya dengan global wisdom? “Kearifan global adalah pemahaman dan penerapan prinsip hatihati bahwa setiap bangsa memiliki kebudayaan yang harus dipertimbangkan. Juga, bahwa Islam tidak bisa dipandang monolitik, tidak boleh disamaratakan bahwa semua sama seperti para teroris,” ulasnya.

    Fulbright bisa berperan dengan memperbanyak cendekiawan Amerika yang dikirim ke Indonesia untuk ikut belajar tentang kearifan global. Pada saat yang sama, Fulbright juga membantu orang Indonesia saling menyapa dan memahami keanekaragamannya sendiri. Buya Syafi’i berpendapat, sebetulnya orang Indonesia selama di Amerika dibuka jantungnya untuk memahami kekayaan dan keindahan kampung halamannya.

    “Alam Indonesia sangat elok. Kalau orang Indonesia juga cantik budi-pekertinya, akan lebih banyak yang dapat disumbangkan pada dunia. Program pertukaran cendekiawan membantu orang Indonesia menjadi manusia yang lebih beradab, lebih cantik. Begitu juga bagi para cendekiawan Amerika yang datang untuk belajar di sini.”

    “Timur dan Barat milik Tuhan. Islam mengajarkan kita harus belajar dari mana saja,” kata pemenang Hadiah Magsaysay dan Habibie Award itu. Buya Syafi’i dihormati karena ketulusan hatinya dalam mengembangkan kerukunan antar bangsa dan antar agama. Ia berterima kasih dan bersyukur memperoleh kesempatan berkunjung ke negara lain. Negeri asing pertama yang didatanginya adalah Amerika.

    Last Updated: Jun 3, 2019 @ 2:04 pm

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 78-79) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox