• Ben Zimmer

    Ben Zimmer

    Ben Zimmer

    Ben mengungkap “kehidupan rahasia kata-kata dan frasa” untuk menunjukkan bagaimana “kata-kata sepele dalam kosakata kita ternyata memiliki kisah yang kaya secara kultural untuk diceritakan.” 

    Detektif Kata

    Para penggemar Sherlock Holmes tak pernah berhenti mengagumi mata detektif fiktif yang jeli menangkap petunjuk paling samar: bercak bubuk mesiu, abu cerutu, bahkan goresan halus di sepatu berlumpur.

    Kerja detektif seorang linguis bisa sama mengesankannya. Ben Zimmer, penerima beasiswa Fulbright yang memulai kariernya dengan mengungkap misteri permainan kata bahasa Sunda di Jawa Barat, muncul sebagai salah satu detektif kata papan atas Amerika. Dalam kolom populer untuk The Wall Street Journal, The New York Times, dan berbagai media digital, Ben mengungkap “kehidupan rahasia kata-kata dan frasa” untuk menunjukkan bagaimana “kata-kata sepele dalam kosakata kita ternyata memiliki kisah yang kaya secara kultural untuk diceritakan.”

    Ingin tahu bagaimana istilah “mealy-mouthed” (bicara berbelit-belit) masuk leksikon modern? Percayakan pada Ben untuk menggali referensi sampai ke sebuah buku berbahasa Jerman terbitan 1566, di mana para pengikut reformis Protestan Martin Luther mengabadikan penggunaan idiom Jerman Mehl im Maule behalten, secara harfiah berarti membawa makanan—bijibijian sereal—di mulutnya. Luther menggunakan istilah itu “untuk menggambarkan mereka yang tidak jujur dalam pandangan mereka tentang Reformasi [Protestan],” tulis Ben dalam sebuah kolom di Wall Street Journal, Agustus 2017. Dan 451 tahun setelah penerbitan buku berbahasa Jerman itu, para jurnalis menggunakan istilah yang sama untuk mengritik orang yang tidak cukup tegas mengutuk gerakan supremasi kulit putih di Amerika Serikat.

    Banyak pembaca mengapresiasi kemampuan Ben mengungkapkan pengetahuannya dengan prosa yang jernih dan komunikatif. “Tulisan kebanyakan linguis hanya bisa dipahami oleh linguis lainnya, sedangkan kebanyakan penulis populer tentang bahasa di media umum cenderung membuat linguis berteriak ketakutan,” kata Uri Tadmor, linguis Boston dan direktur penerbitan Brill, sebuah penerbit buku akademik internasional. “Tulisan dan ceramah Ben termasuk di antara sangat sedikit yang menarik minat spesialis sekaligus orang awam.”

    Sebagai bocah yang tumbuh di New Jersey, Ben terpikat pada kata-kata, asyik membaca Webster’s New International Dictionary edisi 1930-an. Saat kuliah di Yale University, “Pembawaan Ben yang seenaknya tidak menutupi bakatnya,” kenang antropolog linguistik Joseph Errington.

    Namun, kolumnis 46 tahun itu menganggap pengalamannya di Indonesia pada tahun 1990-an adalah batu loncatan menuju pemahaman sesungguhnya tentang kekuatan bahasa. Di sebuah negeri yang dilanda kegilaan birokratis terhadap akronim dan jargon, permainan kata adalah senjata ampuh kaum lemah.

    Masa beasiswa Fulbright Student Research pertamanya di Bandung adalah “saat mencerahkan melihat betapa permainan kata bisa melayani tujuantujuan lebih dalam, entah untuk penafsiran mistis maupun subversi politis,” ungkap Ben. “Melakukan riset awal di ujung penghabisan masa kekuasaan Soeharto memberi saya pemahaman bagaimana permainan linguistik bisa secara cerdik merongrong wacana resmi Orde Baru.” Setelah kembali ke Amerika Serikat, Ben mengandalkan saluran internet untuk mengikuti peristiwa-peristiwa yang berujung pada kejatuhan Soeharto pada tahun 1998. “Saya melihat permainan kata subversif seperti yang saya pelajari dalam konteks bahasa Sunda, sekarang meledak di pentas nasional,” katanya mengenang.

    Misalnya, para aktivis mahasiswa mencuatkan akronim SDSB—Sumbangan Dana Sosial Berhadiah, lotere nasional resmi—dan memelesetkannya menjadi Soeharto Dalang Segala Bencana. (Untuk memahami ungkapan-ungkapan semacam itu, Ben mengarahkan pembaca pada kajian Mikhail Bakhtin tentang bakat François Rabelais dalam parodi pada Abad Pertengahan.) Sekali lagi, dengan beasiswa disertasi doktoral Fulbright-Hays, Ben kembali ke Indonesia untuk melakukan riset pada tahun 1999–2000.

    Pada mulanya negeri kepulauan ini nyaris tidak masuk dalam radarnya. Selama tahun keduanya di Yale, Ben berniat mencoba berbagai bahasa nonEropa, mungkin bahasa Persia atau Swahili. Dia memutuskan untuk memusatkan perhatian pada bahasa Indonesia setelah mengikuti kuliah pengantar inspiratif yang disampaikan Joseph Errington dan menghadiri kuliah Tinuk Yampolsky, penutur asli bahasa Indonesia dan penulis fiksi. Sebuah kursus bahasa tingkat menengah intensif di Cornell University pada musim panas 1990 membawanya pada kursus lanjutan di Malang, Jawa Timur, tahun berikutnya. “Setelah perjalanan pertama ke Indonesia itu, saya benar-benar terpikat dan tahu bahwa saya akan kembali setelah lulus,” kata Ben.

    Bagaimanapun juga, sudah banyak peneliti yang menangani evolusi bahasa Indonesia dan seluk-beluk bahasa Jawa. Ben menginginkan sesuatu yang berbeda. Dia teringat pada profesornya di Yale, Joseph Errington, yang mengarahkannya ke salah satu bahasa yang paling sedikit dipelajari di planet ini, mengingat jumlah penuturnya: bahasa Sunda, digunakan oleh sekitar 30 juta orang.

    Karena amat jarang orang asing yang berusaha menguasai bahasa Sunda, sulit menemukan buku teks yang memadai. Ben akhirnya menulis sebuah artikel untuk Jurnal Sastra (diterbitkan oleh Universitas Padjadjaran Bandung) yang menunjukkan perlunya bahan-bahan pengajaran yang lebih baik, selain buku-buku yang biasa dipakai oleh siswa sekolah dasar di Bandung.

    “Kemampuan bocah Sunda berumur 6 tahun biasanya jauh di atas orang asing yang sudah dewasa!” tulis Ben.

    Ben juga kesal pada kecenderungan untuk memperkenalkan orang asing pada bentuk paling halus dan sopan bahasa Sunda, dikenal sebagai basa lemes, sebelum memasuki ragam bahasa lebih akrab, basa kasar/loma yang dipakai dalam percakapan sehari-hari. Ini menyulitkan dalam percakapan dengan kawan baru yang sebaya, atau dalam memahami berbagai macam seni kreatif seperti cerpen, lirik lagu pop, dan wayang golek yang sarat makna filosofis.

    Untunglah Ben menemukan bermacam-macam guru, musisi, santri, dan banyak lagi lainnya yang mendukung upayanya menyerap kosakata mereka dan konteks kulturalnya. Fakta bahwa seorang asing bisa berbahasa Sunda dengan fasih “mengingatkan orang Sunda akan pentingnya menjaga dan melestarikan bahasa mereka,” kata Cece Sobarna, guru besar sastra Universitas Padjadjaran.

    “Saya sangat terkesan. Dengan latar belakang pendidikan yang luas dan pilihan-pilihannya yang nyaris tak terbatas, Ben ingin mempelajari linguistik Sunda,” kenang Frances Affandy, seorang antropolog budaya yang tinggal di Bandung. “Minat personal dan keahlian Ben meningkatkan penilaian saya atas kelayakan mempelajari linguistik bahasa Sunda, dan itu berharga buat saya.”

    Di meja makan, Ben senang berbagi temuan-temuannya berupa beragam permainan kata bahasa Sunda. Misalnya, ungkapan bahwa Anda bokek adalah tongpés, singkatan dari dua kata kantong kempés, yang artinya “kantong kosong”. Untuk mengritik politisi, Anda bisa menyebut kongrés, kependekan dari ngawangkong teu bérés-bérés yang artinya “omong kosong tak beres-beres”.

    Selama penelitian lapangannya, Ben sering membantu sesama rekan peneliti. “Ben mengajak saya menemaninya dalam perjalanan dua hari mengunjungi superstar dalang wayang golek, Cecep Supriadi, dan istrinya yang penyanyi Sunda terkenal, Idjah Hadidjah,” kenang Henry Spiller, yang kini menjadi etnomusikolog di University of California, Davis. “Kedua orang yang menakjubkan itu [yang kecil kemungkinannya saya temui kalau tidak diajak Ben] adalah sumber kekayaan bagi penelitian saya.”

    Dalam diskusi dengan Uri Tadmor, yang saat itu sedang mempelajari bahasa Melayu Betawi di Jakarta, Ben menunjukkan kepadanya “bahwa ciri-ciri tertentu bahasa Betawi, termasuk pola-pola spesifik intonasi, sesungguhnya berasal dari bahasa Sunda.” Minat Ben pada campuran verbal juga membuatnya berkesimpulan bahwa warga Bandung sering menyisipkan kata-kata bahasa Sunda dalam percakapan bahasa Indonesia mereka untuk “menyampaikan emosi atau sensasi, yang sering dirasa tidak ada dalam bahasa Indonesia bagi penutur bahasa Sunda.” Wawasan semacam ini membantu Cece Subarna merumuskan sebuah tulisan akademis berjudul “Basa Karedok (Bahasa Campuran),” tentang kecenderungan anak-anak muda mencampur bahasa Sunda dengan bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa asing.

    Kemurahan hati Ben tidak terbatas pada berbagi gagasan. Ketika krisis keuangan menghantam Indonesia pada tahun 1998, setelah Ben kembali ke Amerika, dia menelepon Cece dan bertanya: Apakah keluarganya masih bisa makan? Ben langsung mengirimkan dana untuk membantu mereka mengatasi kesulitan. “Luar biasa!” kata Cece.

    Namun, akhirnya Ben memutuskan bahwa dirinya tidak cocok dengan karier mengajar. Dia menginginkan pembaca lebih luas bagi karyanya, bukan cuma anggota komite PhD di University of Chicago. Tentu saja, dunia yang lebih luas pun menyambutnya. Misalnya, Ben mengetuai Komite Kata-Kata Baru untuk American Dialect Society, memimpin perdebatan tentang apakah “nom,” sebuah kata benda yang artinya makanan enak, yang diperkenalkan oleh Cookie Monster di acara TV Sesame Street, layak dipilih sebagai Word of the Year. (Tidak—para linguis memilih kata “app.”)

    Selama bertahun-tahun, Ben bekerja sebagai penyunting kamus-kamus Amerika di Oxford University Press, mengambil alih kolom William Safire selama setahun di New York Times, dan mengembangkan perangkat online yang bisa membantu orang menjelajahi dunia kata-kata. Di Thinkmap, Inc., sebuah perusahaan rintisan di New York, Ben bertindak sebagai leksikograf tetap di balik Vocabulary.com dan VisualThesaurus.com. “Dibandingkan dengan kamus cetak, kamus online menjanjikan data yang lebih banyak dan lebih baik,” kata Ben menegaskan.

    Tahun lalu dia meninggalkan Thinkmap untuk mencurahkan lebih banyak waktu bagi tulisan-tulisannya sendiri, termasuk sebuah buku yang akan terbit mengenai bagaimana teknologi baru mengubah bahasa.

    Tetapi pola-pola lama masa kecil bisa sama pentingnya dengan kejutankejutan teknologi baru itu. Misalnya, ketika presiden AS Barack Obama mengunjungi lingkungan masa kecilnya di Indonesia pada tahun 2010, Ben diundang tampil dalam sebuah acara radio WNYC untuk menganalisis bahasa Indonesia sang presiden. Ben memuji keluwesan Obama menggunakan frasa seperti “baik-baik”. Pembawa acara, Brian Lehrer, ragu-ragu menanyakan pengucapannya: “Like bicycle? Bike, bike?” Kemudian Ben meyakinkan para pendengar bahwa Obama “sangat bagus berinteraksi dengan audiensnya” dalam sebuah pidato di Universitas Indonesia.

    Ben menikmati hubungan interaktif dengan para pembacanya, menanggapi hujan komentar di Twitter, blog, dan email. Tampaknya dia tampil ajek di dunia online yang mudah berubah, di mana “perubahan instan sudah menjadi aspek tak terhindarkan kehidupan digital kita.”

    Last Updated: Apr 18, 2019 @ 1:31 pm

    Artikel ini tampil di buku Efek Riak: Alumni Fulbright Mengukir Jejak di Dunia (halaman 9-14) yang diterbitkan pada tahun 2017 memperingati ulang tahun ke-25 AMINEF dan ulang tahun ke-65 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah The Ripple Effect: How Fulbright Alumni are Marking Their Mark on the World. Penulis: Margot Cohen. Penerjemah: Anton Kurnia.

    WordPress Video Lightbox