• Biranul

    Biranul Anas Zaman

    SENI KRIYA AKAN LEBIH BERPERAN

    Biranul Anas Zaman adalah guru besar seni kriya di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia dikenal juga sebagai seniman yang setia mengembangkan seni serat, khususnya tapestri. Biranul menjadi peneliti Fulbright di Universitas California di Berkeley di tahun 2000. Ia melihat peran Fulbright dalam karirnya sebagai berikut:

    “Secara intelektual saya memperoleh wawasan yang lebih luas tentang bidang yang saya tekuni, khususnya dalam konteks keterkaitannya dengan berbagai aspek sains dan teknologi. Di bidang sains saya berkesempatan bergaul dengan banyak saintis dari berbagai negara yang menempuh ilmu di Amerika Serikat (AS) sehingga mendapatkan pemahaman yang lebih luas dan rinci tentang cara berfikir mereka dalam menghadapi permasalahan di bidang atau peri kehidupan di negeri masing-masing.

    “Demikian pula di bidang teknologi yang banyak memberikan pengetahuan, cara, dan inspirasi dalam memecahkan berbagai persoalan di bidang saya. Semuanya itu kemudian memberikan dampak positif bagi perkembangan keahlian saya, baik dalam hal aspek konsepsional, pengembangan gagasan maupun implementasinya. Oleh sebab itu yang penting diterapkan di Indonesia pertama-tama adalah semangat pemahaman antar budaya serta pembentukan jaringan antar disiplin keilmuan. Yang kedua adalah konsistensi dalam ketajaman pemikiran, inovatif dan kreatif dalam gagasan, serta efektif dan efisien dalam implementasinya.”

    Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 1947 itu merasa nyaman dalam hal hubungan antara Indonesia dan Amerika Serikat. “Hubungan AS dengan Indonesia, dalam konteks budaya, amat baik. Saya tidak pernah mengalami permasalahan selama di sana. Saya kira karena Indonesia dan AS samasama merupakan negara demokratis dan multi kultural sehingga tingkat toleransi kedua bangsa amat tinggi.

    Fulbright dalam hal ini memegang peranan signifikan karena pada dasarnya mengusung prinsip pemahaman budaya dalam kegiatannya. Ini khususnya tampak pada program-program pendidikan tinggi yakni adanya pertukaran para ahli/ akademisi dalam berbagai tingkat pendidikan (tinggi). Ini saya garis bawahi karena justru dari pendidikan yang mumpuni akan lahir orang-orang dengan kemampuan adaptif serta ketrampilan berfikir yang tinggi, siap menghadapi serta memecahkan persoalan secara baik.”

    Mengenai pertukaran cendekiawan Fulbright, Biranul yang juga dikenal sebagai “rajanya” desain tekstil tradisional Nusantara itu memberikan rekomendasi sebagai berikut: “Saya ingin agar program-program Fulbright (Indonesia ke AS) secara khusus memperhatikan disiplin keilmuan yang amat penting bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Geografi Indonesia mengetengahkan permasalahan yang amat kompleks baik di bidang ilmu, teknologi, hukum, ekonomi, politik, sistem komunikasi dan transportasi dan banyak lagi.

    Pemahaman Indonesia sebagai negara kepulauan menunjuk pada kepentingan skala prioritas yang harus diberikan pada kawasan “luar Jawa,” khususnya yang berada jauh dari kontrol pusatpusat kekuasaan untuk menghindari kerawanan sosial, budaya dan politik. Untuk orang-orang AS yang dikirim ke Indonesia sedapatnya juga demikian, hendaknya diprioritaskan bagi mereka yang mau bekerja di daerah-daerah periferi, di bidang-bidang yang sesuai dengan permasalahan yang ada.

    Hal yang sebaiknya dikembangkan di kedua negara adalah pengetahuan, konsep-konsep, gagasan, implementasi yang bersangkut paut dengan pengembangan pribadi. Kedua negara mirip dalam hal pluralitas budaya dengan segenap permasalahannya. Masing-masing memiliki sejarah kelam maupun cerah dalam menanggulanginya.

    Keduanya bisa belajar dari pengalaman masingmasing sehingga ke depan dapat semakin baik memecahkan persoalan yang selalu akan menghadang dalam isu-isu tersebut. Karena itu sektor kebudayaan, khususnya program-program pengembangan dan pertukaran di bidang seni, desain, dan kriya menjadi amat berperan.”

     

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 91 – 93) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox