• din

    Din Syamsuddin

    ETOS KEMAJUAN AMERIKA DAN ISLAM

    “Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, Amerika Serikat memberikan inspirasi luar biasa bagi saya. Saya sangat bersyukur, karena mendapat beasiswa Fulbright, dan diterima di universitas yang terkemuka,” kata Din Syamsuddin. Ia termasuk yang khusus terpilih mendapat kesempatan belajar tentang Islam di Universitas California di Los Angeles (UCLA).

    Universitas itu menurut penilaiannya hebat karena dalam studi Islam yang dipelajari tidak hanya melulu segi keagamaannya saja, tetapi juga dilengkapi dengan kajian bahasa dan sosiologi. Dalam hal bahasa ada dua yang wajib dipelajari, yaitu bahasa Arab dan satu bahasa lagi yang dipakai di negara yang mayoritas warganya beragama Islam.

    “Pembimbing saya orang Yahudi yang sangat fasih berbahasa Arab. Jadi kami berkomunikasi dan berdiskusi dalam bahasa Arab. Berkat bimbingannya, program doktor saya selesai dalam waktu dua setengah tahun,” kenangnya. “Pada saat menjadi mahasiswa itulah saya terpilih menjadi Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah. Kebetulan saya sedang pulang berlibur saat itu, dan mendapat jabatan itu.”

    Pria kelahiran Sumbawa Besar, 1958 ini bersyukur mendapat dasar intelektual yang kuat dan sekaligus pengalaman politik.

    “Sebagai lulusan universitas Amerika, sebagai alumnus program Fulbright, saya mendapat rasa percaya diri yang baik. Bagi saya, etos keunggulan, etos kompetisi dan kemajuan yang saya lihat dan alami di Amerika sangatlah mencerminkan nilai-nilai Islam. Semuanya adalah juga nilai Muhammadiyah. Jadi, lepas dari kekurangan yang ada, sebenarnya masyarakat Amerika telah menerapkan ajaran Islam,” tuturnya. Selama di Amerika, ia mendapat kesempatan berceramah, bahkan membentuk Kelompok Keislaman, Keindonesiaan dan Kemodernan yang berjalan dengan baik.

    Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhamadiyah ini mengaku pada suatu fase ia pernah bersikap sangat kritis terhadap Amerika. “Setelah terjadi Peristiwa 11 September 2001, saya menjadi yang paling vokal menolak kebijakan Presiden Bush yang menimbulkan sentimen yang luas. Saya melihat yang dilakukan Bush sangat tidak bagus bagi harmoni dunia. Kalau kita mengeritik politik presiden Bush, tidak sama artinya dengan membenci Amerika.”

    Din Syamsuddin juga dikenal sebagai inisiator Aksi Sejuta Umat menentang invasi Amerika di Irak. “Itu tanggung jawab keumatan saya. Saya yang mengambil prakarsa, saya komandannya. Tetapi aksi itu merupakan keputusan bersama dari berbagai elemen bangsa. Saya mengundang seratus elemen bangsa, termasuk Amien Rais, Nurcholish Madjid dan tokoh-tokoh lain untuk mengutuk invasi Amerika di Irak.”

    Sekalipun demikian, Din tetap membangun kerjasama untuk membangun dialog untuk meningkatkan saling pengertian dengan pihak perwakilan pemerintah Amerika Serikat di Indonesia; bersama Duta Besar Amerika di Indonesia kala itu, Ralph Boyce, ia menyelenggarakan beberapa kali dialog dengan tokoh-tokoh Islam garis keras membahas berbagai isu hangat yang terjadi saat itu.

    “Greta Morris, mantan public affairs officer di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, yang sekarang menjadi Duta Besar di Marshall Islands adalah sahabat saya. Bersamanya kami beberapa kali mengadakan forum dialog, untuk menjembatani Amerika dan umat Islam. Waktu itu hubungan kita buruk sekali. Di Indonesia lebih dari 54 persen umat Islam anti Amerika. Angka itu konon sama dengan 54 persen warga Amerika yang mengidap Islamophobia, tidak suka pada Islam,” katanya. Situasi ini harus diperbaiki melalui pertemuan dialogis yang diprakarsainya itu.

    Mengenai kerjasama dan bantuan dari Amerika untuk Indonesia, Din Syamsuddin berharap lebih fleksibel. “Hendaknya bukan hanya hubungan Pemerintah dengan Pemerintah, tetapi juga dengan lembaga-lembaga non pemerintah,” katanya. Sebagai contoh yang bagus, ia menceritakan hubungan antara Muhamadiyah dengan Universitas Johns Hopkins di Baltimore, Maryland, yang sudah berlangsung lebih dari 40 tahun. “Kami bekerja-sama untuk proyek-proyek kesehatan,” katanya.

    “Khusus untuk beasiswa Fulbright, perlu digiatkan lagi program studi Islam. Dulu, kajian bahasa negara-negara mayoritas Islam hanya tersedia untuk bahasa Persia, Turki dan Urdu. Belakangan ini mulai ditambahkan juga penggunaan bahasa Indonesia sebagai bagian dalam studi Islam, karena memang di sini pemeluknya paling banyak,” pesan Din Syamsuddin.

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 103 – 105) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox