• Dr. Baskara T. Wardaya, S.J.

    Dr. Baskara T. Wardaya, S.J.

    Dr. Baskara T. Wardaya, S.J.

    “Kita bisa memperluas pikiran kita melalui kisah-kisah orang lain,” katanya memberi alasan.

    Menyembuhkan Masa Lalu

    Di pinggiran Chuuk Lagoon, atol berpasir di Mikronesia, seorang Jesuit muda dipanggil ke sebuah sekolah desa terpencil.

    Dia diberitahu bahwa guru sejarah sekolah itu, seorang relawan Amerika, pulang ke Iowa. Apakah lulusan seminari dari Jawa itu bersedia mengesampingkan tugastugasnya yang lain demi menerima penugasan baru ini? Baskara Wardaya langsung mengiakan. Sejarah bisa membawanya ke banyak tempat baru, sungguhpun Chuuk jauh dari mana-mana. “Kita bisa memperluas pikiran kita melalui kisah-kisah orang lain,” katanya memberi alasan.

    Dalam perjalanan menyongsong sejarah, dia menerima panggilan kedua. Setelah menyelesaikan penugasannya di Chuuk pada tahun 1989, dia kembali ke Indonesia dan ditahbiskan sebagai pastor pada tahun 1992. Baskara lalu mengambil program doktor dalam ilmu sejarah pada tahun 2001. Kini, sang rohaniwan sekaligus ilmuwan yang dikenal sebagai Romo Baskara itu memainkan peran penting dalam mendorong rakyat Indonesia menelaah kembali masa lalu bangsa mereka dengan pemikiran kritis dan empati.

    Dengan dukungan Fulbright, sejarawan 56 tahun itu mengejar minat utamanya: meneliti hubungan antara Amerika Serikat dan Indonesia untuk memperoleh pemahaman lebih utuh tentang geopolitik di balik peralihan kekuasaan penuh malapetaka dari Presiden Sukarno ke Presiden Soeharto pada tahun 1965–1966. Beasiswa Fulbright Visiting Scholar periode 2004–2005 memberinya akses pada sumber-sumber primer di perpustakaan mantan presiden Amerika Serikat Lyndon B. Johnson dan bahan-bahan lain yang tersimpan di University of Wisconsin-Madison.

    Dia berupaya memahami peristiwa pembunuhan enam jenderal TNI pada dini hari 1 Oktober 1965 dan pembantaian sesudahnya terhadap orangorang yang dituduh kiri. Tragedi yang menelan korban sampai setengah juta jiwa itu menyisakan racun ketakutan yang menghantui selama setengah abad. Romo Baskara yakin bahwa diskusi terbuka mengenai periode menyakitkan dan kontroversial itu diperlukan untuk menyembuhkan luka di tingkat akar rumput.

    “Sebagian besar generasi muda siap untuk rekonsiliasi,” ujar Romo Baskara, Kepala Pusat Sejarah dan Etika Politik Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dalam pandangannya, bagaimanapun juga, banyak individu di kalangan generasi tua—warga negara yang berusia 15 tahun atau lebih pada tahun 1965—“tidak sepenuhnya siap” untuk berdamai dengan tetangga-tetangga mereka, untuk sebagiannya karena narasi sejarah dogmatis pemerintah Orde Baru Soeharto, yang melekatkan stigma kepada partai terlarang PKI (Partai Komunis Indonesia) sebagai kekuatan laten yang bisa bangkit lagi sewaktu-waktu. Lengsernya Soeharto pada tahun 1998 membuka akses terhadap berbagai buku, film, dan artikel yang menggugat versi sejarah ini. Namun, kelompok-kelompok paramiliter terus-menerus meneriakkan “ancaman komunis” gaya baru, pesan-pesan mereka disampaikan melalui demonstrasi, spanduk-spanduk, dan teror telepon.

    Kendati atmosfer politiknya demikian, Romo Baskara dengan tenang dan konsisten memimpin diskusi-diskusi tentang kemelut geopolitik 1960-an dan korban jiwa yang ditimbulkannya. Dalam berbagai acara yang digelar mulai dari kota-kota kecil di Jawa hingga kampus-kampus besar di Amerika Serikat, dia membagikan temuan-temuannya dari buku-buku yang ditulis maupun disuntingnya, termasuk Membongkar Supersemar—sudah cetakan keempat—Bung Karno Mengugat, dan Suara di Balik Prahara, yang diterbitkan dalam terjemahan bahasa Inggris pada tahun 2013 dengan judul Truth Will Out. Tulisan-tulisannya dikenal dengan gaya komunikatif yang menarik bagi para pembaca muda.

    Romo Baskara memuji penggunaan sejarah lisan sebagai “alternatif bagi narasi besar resmi yang diproduksi dan direproduksi penguasa.” Truth Will Out menyertakan keterangan-keterangan tangan pertama dari para saksi maupun korban pertumpahan darah itu, dan mendeskripsikan berbagai reaksi hierarki Gereja Katolik setempat. Mengantisipasi para pengritiknya, Romo Baskara mengatakan bahwa bukunya tidak dimaksudkan sebagai “pemutihan” dan menegaskan agar para pembaca jangan menerima semua keterangan itu begitu saja. Ingatan bisa hadir dalam banyak bentuk. Dia juga menyarankan agar para pembaca jangan “gamang atau pasrah tidak berdaya, melainkan harus melangkah maju penuh harapan.”

    Sebagai pastor yang terbiasa dengan penderitaan manusia, Romo Baskara membawa pesan yang sama dalam perjumpaan-perjumpaan personal dengan orang-orang yang bertekad mengatasi stigma 1965. Saat menemui mereka satu demi satu dalam kelompok-kelompok kecil, dia mendorong mereka untuk tetap menjaga semangat dan menjalin pertemanan dengan menghadiri rapat-rapat RT/RW atau ikut gotong royong bekerja bakti. Menurut rohaniwan ini, langkah-langkah sederhana menuju rekonsiliasi komunitas bisa membuat perubahan besar. “Romo punya karisma, dan ketika dia menggunakan kata ‘harapan’, kata itu menguatkan,” kata Winarso, koordinator Sekretariat Bersama ’65, sebuah kelompok di Jawa Tengah yang bertujuan membantu para mantan tahanan politik dan keluarga mereka. Banyak anggota kelompok itu yang beragama Islam, tetapi Romo Baskara tidak menggunakan waktunya untuk menyebarkan agama Katolik, Winarso menjelaskan.

    Belum lama ini, dalam mengupayakan persatuan, pastor Jesuit itu menyarankan agar anggota keluarga kraton Yogyakarta bertemu dengan perempuan-perempuan tua yang dahulunya adalah tahanan politik. Pertemuan itu menghasilkan janji-janji yang bermanfaat.

    Guna membangkitkan lebih banyak minat publik terhadap sejarah, terutama di kalangan anak muda, Romo Baskara berinteraksi dengan para seniman komik, novelis, dan pelukis. “Yang istimewa pada Romo Baskara adalah ketekunannya dalam menggeluti topik ini,” kata Amrih Widodo, seorang dosen senior di Australian National University, Canberra. “Bukan hanya produksi pengetahuan yang penting, melainkan sirkulasi dan repetisi pengetahuan itu juga penting.”

    Pada November 2015, misalnya, Romo Baskara mendukung sebuah prakarsa sejarawan Universitas Sanata Dharma, Yerry Wirawan, dan kawan-kawan untuk menggelar pameran bertajuk Museum Bergerak 1965. Diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, pameran itu menampilkan antara lain panci masak dan sepatu milik para mantan tahanan politik yang melakukan kerja paksa di Pulau Buru. Pameran itu menyedot banyak pengunjung muda, dan tidak ada satu pun yang berusaha membubarkan acara tersebut.

    Topik itu bisa menggugah emosi mendalam. Pada Juni 2015, Romo Baskara mengikuti sebuah tim pembuat film ke Pulau Buru. Peneliti Ita Nadia menceritakan bahwa perjalanan itu membuat sang sejarawan menitikkan air mata.

    Dibesarkan di sebuah desa dekat Purwodadi, Jawa Tengah, Baskara tahu bahwa ayahnya adalah pendukung setia Sukarno dan pembaca tekun bukubuku babon nasionalis seperti Di Bawah Bendera Revolusi, kumpulan pidato Sukarno. Ayah Baskara adalah kepala sekolah yang menikahi seorang perempuan pekerja keras yang membesarkan tujuh anak dan bangun sebelum fajar untuk memasak bagi para buruh tani yang memanen hasil bumi di tanah milik keluarga—padi, ketela, kacang, jagung, kedelai. Mereka berdua penganut Katolik. Desa mereka, Rejosari, luput dari kekerasan 1965. Tetapi pada tahun 1969 terjadi pembantaian di Purwodadi bersamaan dengan penangkapan mereka yang diduga orang-orang kiri. Tujuh guru Katolik dikabarkan termasuk mereka yang ditahan. Sejarawan kita ini mengatakan bahwa keluarganya tidak tertimpa masalah.

    Pendidikan adalah jalan keluar dari Rejosari. Orang-orang Jesuit selalu kuat dalam filsafat dan matematika. Namun, mereka memerlukan lebih banyak sejarawan untuk mengajar di SMA dan universitas. Pada tahun 1993, Romo Baskara bertolak ke Amerika Serikat dengan dana Jesuit untuk meraih gelar PhD di Marquette University di Wisconsin. Segera saja dia terlibat dalam dialog dengan para profesor Cornell University dan para akademisi lain yang gigih membantah sejarah versi Soeharto. Ini menambah motivasinya untuk belajar lebih banyak

    Untuk disertasinya, dia berfokus pada pemerintahan mantan presiden Amerika Serikat Harry Truman, yang dukungan sesaatnya bagi aksi-aksi Belanda untuk kembali menduduki Indonesia menggusarkan kaum nasionalis. Penelitiannya menghasilkan sebuah buku, Cold War Shadow: United States Policy toward Indonesia, 1953–1963. Beasiswa Fulbright Visiting Scholar 2004 memungkinkannya melanjutkan penelitiannya hingga ke masa kekuasaan Presiden Johnson, dari tahun 1963 hingga 1969. Romo Baskara menyimpulkan bahwa presiden Amerika Serikat itu, bersama para pejabat Central Intelligence Agency (CIA), memiliki pandangan tidak akurat tentang pendirian kiri Sukarno dan mengabaikan kecenderungan Jawanya pada ide persatuan di antara berbagai kekuatan politik yang bertikai. Mereka menganggap Sukarno sebagai “demagog pro-komunis, pro-Uni Soviet” yang tidak hanya akan menentang kepentingan ekonomi AS di Indonesia, tapi juga memicu sentimen global anti-Amerika di kalangan negara-negara yang baru merdeka.

    Pendahulu Presiden Johnson, Presiden John F. Kennedy, menunjukkan wajah lebih ramah terhadap Sukarno, menjanjikan peningkatan bantuan ekonomi. Tetapi pembunuhan terhadap Kennedy membuat para pemain yang ingin melihat Sukarno tumbang berada di atas angin. Sebagian besar pembantaian 1965 ditutup-tutupi di dalam dan di luar negeri. Johnson dan orang-orangnya merasa puas mengetahui bahwa PKI sudah dibasmi dan seorang pemimpin yang lebih pro-Amerika memegang kekuasaan. Demikian yang dipelajari pastor Jesuit itu.

    Di bawah bimbingan sejarawan University of Wisconsin-Madison Alfred McCoy, seorang ahli tentang sejarah CIA di Asia Tenggara, Romo Baskara mempelajari dengan cermat sejumlah memo dan sumber-sumber intelijen lainnya. Tujuh tahun kemudian, berkat beasiswa Fulbright Scholarin-Residence kedua pada 2011–2012, dia memperluas pengetahuannya tentang konflik politik dan warisan-warisan kolonial lain di kawasan tersebut dan mengajar sejarah Asia Tenggara di University of California, Riverside. Ini juga menjamin kedekatannya dengan perpustakaan-perpustakaan mantan presiden AS Richard Nixon dan Ronald Reagan.

    Romo Baskara belum menemukan siapa, tepatnya, yang paling bertanggung jawab atas kekerasan 1965–1966 di Indonesia. Dia mengatakan bahwa tidak ada perpustakaan yang memberikan “bukti” final. Bersama banyak sejawat sesama sejarawannya, dia menunggu-nunggu akses online pada penyimpanan dokumen-dokumen pemerintah AS yang baru dibuka untuk publik di Washington, DC.

    Pada tahapan ini, bagaimanapun juga, dia cenderung merujuk pada banyak sekali sumber kekerasan ketimbang berfokus pada dalang tunggal. Memilih sebuah metafora untuk peristiwa 1965, dia menunjuk Sungai Hudson di dekat Columbia University di New York—universitas tempat dia menjadi anggota komite pengarah Aliansi untuk Dialog dan Akuntabilitas Historis. “Dari mana Sungai Hudson besar ini berasal?” tanya Romo Baskara. “Bukan hanya satu sumber. Banyak sumbernya.” Mengingat begitu banyak cerita dan begitu banyak pemain, sejarawan ini memperkirakan bahwa kebenarannya tidak akan sederhana.

    Last Updated: Apr 18, 2019 @ 1:52 pm

    Artikel ini tampil di buku Efek Riak: Alumni Fulbright Mengukir Jejak di Dunia (halaman 29-34) yang diterbitkan pada tahun 2017 memperingati ulang tahun ke-25 AMINEF dan ulang tahun ke-65 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah The Ripple Effect: How Fulbright Alumni are Marking Their Mark on the World. Penulis: Margot Cohen. Penerjemah: Anton Kurnia.

    WordPress Video Lightbox