• Dr. Syafaatun Almirzanah

    Dr. Syafaatun Almirzanah

    Dr. Syafaatun Almirzanah

    Perjumpaannya dengan berbagai sudut pandang yang berlainan meliputi analisis teknologi pembebasan di Amerika Latin kontemporer, mistisisme sufi di Spanyol Abad Pertengahan, dan mistisisme Katolik di Jerman Abad Pertengahan. Menandai keahliannya dalam perbandingan agama, Syafa menjadi orang Islam pertama yang meraih gelar doktor dari Catholic Theological Union di Chicago pada tahun 2008—dan yang luar biasa, secara bersamaan meraih gelar doktor juga di Lutheran School of Theology di Chicago. 

    Keindahan dalam Keberagaman

    Berjalan bersama 15.000 biksu, biksuni, dan umat Buddha, Syafaatun Almirzanah mengikuti prosesi bulan purnama dari Candi Mendut yang dibangun pada abad kesembilan menuju stupa-stupa kuno Candi Borobudur.

    Ini bukan kali pertama peneliti Muslim taat itu mengikuti perjalanan tiga kilometer di Jawa Tengah tersebut— prosesi yang menandai peringatan khotbah pertama Sang Buddha di India. Bahkan, Syafa sering berdiskusi dengan Sri Pannavaro Mahathera, biksu senior di Candi Mendut, membandingkan ajaran-ajaran Buddha dan Islam. Percakapan semacam itu mengilhami serangkaian acara di televisi lokal, yang juga meliputi agama lain seperti Hindu dan Katolik.

    Bedanya, tahun ini Syafa membawa pendatang baru ke Mendut yang juga ikut dalam prosesi 8 Juli 2017 itu. Dialah R. Scott Appleby, profesor sejarah University of Notre Dame, yang mempelajari peran agama-agama global dalam konflik dan perdamaian. Menyebut prosesi itu sebagai “peristiwa penting dalam hidup saya”, Scott menggarisbawahi komitmen tulus Syafa terhadap pemahaman lintas iman. Dia memiliki “kemauan untuk mendengarkan dan belajar dengan penghormatan besar terhadap integritas tradisi dan para pengamalnya,” kata Scott. “Ini sangat penting untuk memperkuat pengaruhnya.”

    Bagi peneliti berusia 54 tahun itu, toleransi berawal di rumah. Syafa memperoleh pengalaman tangan pertama tentang banyak nuansa Islam. Keluarga dari garis ayahnya berasal dari lingkungan Nahdlatul Ulama, sedangkan keluarga ibunya mendukung Masyumi. Walaupun membangun keluarga di Purwokerto, Jawa Tengah, kedua orang tuanya satu suara dalam mendorong pencapaian akademis tanpa membedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan. Sebagai bocah, Syafa belajar bahasa Inggris, bahasa Arab, dan ilmu Al-Qur’an. Menginjak umur 12 tahun, Syafa dimasukkan ke pesantren modern di Pabelan, Jawa Tengah, yang didirikan oleh seorang alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor. Gontor adalah pondok pesantren terkemuka yang dikenal dengan semangat pemikiran yang luas dan mengutamakan prestasi akademis.

    Saat ini, salah satu kutipan favorit Syafa berasal dari novel Harper Lee, To Kill a Mockingbird, di mana Atticus berkata, “Kamu tidak akan pernah memahami seseorang sampai kamu mempertimbangkan segala hal dari sudut pandangnya . . . sampai kamu merayap ke kulitnya dan berjalan-jalan di situ.”

    Jika itu ukurannya, Syafa sudah mencatat jarak yang jauh. Perjumpaannya dengan berbagai sudut pandang yang berlainan meliputi analisis teologi pembebasan di Amerika Latin kontemporer, mistisisme sufi di Spanyol Abad Pertengahan, dan mistisisme Katolik di Jerman Abad Pertengahan. Menandai keahliannya dalam perbandingan agama, Syafa menjadi orang Islam pertama yang meraih gelar doktor dari Catholic Theological Union di Chicago pada tahun 2008—dan yang luar biasa, secara bersamaan meraih gelar doktor juga di Lutheran School of Theology di Chicago.

    Salah satu wawasan utama kajian Syafa dalam mistisisme komparatif adalah peran kerendahan hati dalam memupuk pemahaman lintas iman. Ahli mistik sufi Ibnu Arabi maupun ahli mistik Jerman Meister Eckhart mengajarkan bahwa Tuhan berada di luar jangkauan pemahaman manusia. Jadi, meskipun setiap agama menyampaikan gagasan-gagasan tertentu tentang Tuhan, orang-orang beriman harus tetap rendah hati dalam mengakui betapa luas ruang penafsiran yang terlibat dalam peribadatan. “Saya rasa kita bisa berdialog jika kita memiliki kerendahan hati. Jika kita tidak memiliki itu, kita tidak akan belajar apa pun,” kata Syafa yang mengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga di Yogyakarta dan meneliti di Pusat Kajian Bioetika dan Humaniora Kedokteran di Universitas Gadjah Mada (UGM).

    Tidak memandang para ahli mistik sebagai semacam sempalan spiritual eksentrik, Syafa bergabung dengan para ilmuwan dalam memahami “sebuah relevansi mendalam terhadap upaya-upaya orang-orang beriman arus utama untuk mengintegrasikan tantangan pluralisme ke dalam identitas keagamaan mereka sendiri”.

    Gagasan semacam itu dengan mudah diterima di Chicago, di mana Syafa terbiasa dengan lingkaran para pemikir kosmopolitan. Dia juga menjumpai beragam sudut pandang liberal di Washington, DC, selama masa mengajar di Georgetown University pada tahun 2011–2012.

    Tetapi kesediaannya meluangkan waktu setahun sebagai Fulbright Scholar-in-Residence di Eastern Mennonite University di perdesaan Harrisonburg, Virginia, pada tahun 2016–2017 membawanya pada pengalaman yang sama sekali berbeda.

    Di sana dia berjumpa dengan para mahasiswa yang dibesarkan dalam lingkungan yang lebih konservatif. Syafa merasa perlu menekankan bahwa memahami agama lain tidak berarti hendak pindah agama. Itu hanya berarti menjauhi stereotip dan menggali lebih jauh dalam kajian tentang tradisi agama mereka sendiri. Dalam ajaran Kristen, misalnya, Syafa menjelaskan bahwa ada banyak sekali tafsir biblika tentang Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam.

    Muslim di kampus sangat langka. Syafa menjawab pertanyaan bertubi-tubi tentang pilihannya memakai kerudung, sikap Muslim terhadap poligami dan perlakuan terhadap perempuan. Syafa menunjukkan video tentang Iran, Arab Saudi, dan Indonesia yang menampilkan banyak variasi pengamalan Islam. Dia juga mendorong para mahasiswanya untuk mengambil pendekatan lebih aktif dalam pembelajaran, menyarankan mereka mengunjungi masjid Turki dan kuil Buddha di sekitar kampus untuk mengamati metode ibadah yang berbeda.

    Syafa memiliki beberapa mahasiswa yang mengatakan orang tua mereka khawatir mereka akan “terkontaminasi” oleh kunjungan semacam itu. Tetapi dia bersikukuh dan meminta mereka menulis tentang “perjumpaan dengan agama lain” untuk makalah akhir. Sesekali, dia juga menyarankan para mahasiswanya menerima “rekonsiliasi spiritual”, mendorong pemaafan dalam konteks keluarga.

    Beasiswa Fulbright juga memungkinkan Syafa untuk bepergian ke kampus-kampus lain. Pada Februari 2017, misalnya, dia mengunjungi Wake Forest University di North Carolina untuk berdiskusi di ruang kuliah dan memberikan dua kuliah umum: satu tentang kerja sama antar-agama dan satu lagi tentang bioetika Islam (topik yang saat ini sedang ditelitinya untuk menulis sebuah buku). “Semua pembicaraan itu diterima dengan baik dan kami melakukan diskusi yang hidup tentang persoalan-persoalan seperti transplantasi organ tubuh dan bayi tabung,” kenang Nelly van Doorn-Harder, seorang guru besar Kajian Islam.

    Syafa kembali ke Indonesia pada Juni 2017. Di tanah air, dia terutama dikenal karena pemikiran kritisnya dalam diskusi-diskusi tentang Islam. Misalnya, dalam bukunya yang terbit pada tahun 2014, When Mecca Becomes Las Vegas: Religion, Politics and Ideology, dia menyesalkan perluasan infrastruktur untuk haji yang mengorbankan situs-situs bersejarah dan pemenuhan spiritualitas yang lebih dalam. Di forum publik dan tulisan surat kabar, dia menentang ujaran kebencian yang ditujukan kepada non-Muslim. “Pengaruhnya ada, khususnya kepada para mahasiswa yang diajar dan dosen-dosen yang sebidang,” kata filsuf M. Amin Abdullah, mantan rektor UIN Sunan Kalijaga. Meski kalah jumlah dibanding kolega laki-laki, Syafa mendapatkan tempat terhormat sebagai dosen perempuan, tambah Amin.

    “Dia berusaha menunjukkan bahwa kewajiban Muslim tidak hanya beribadah, tapi juga mewujudkannya dalam perbuatan—terutama berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dengan non-Muslim,” kata guru besar teologi Universitas Sanata Dharma Heru Prakosa, seorang pastor Jesuit yang menulis disertasi tentang teolog Muslim Sunni dari Iran, Fakhruddin Razi. Dia beberapa kali mengundang Syafa untuk berbicara kepada calon pastor, antara lain tentang perbandingan mistisisme. Syafa juga pernah mengundang Heru untuk memberikan kuliah kepada para mahasiswanya.

    Tak lama setelah kembali dari kunjungan terakhirnya ke Amerika Serikat, Syafa mengatakan bahwa dia masih merenungkan apa “Amerika yang Sesungguhnya” itu. Baginya, Amerika masih merupakan sebuah negeri di mana orang bisa hidup berdampingan secara damai. Misalnya, dia berhasil melewati enam hari berpuasa Ramadan di Las Vegas (melompat dari metafora yang digunakan dalam judul bukunya yang terbit pada 2014 menuju ke kenyataan di lapangan). “Orang bilang Las Vegas hanyalah kasino dan judi, padahal tidak begitu kenyataannya!” katanya.

    Syafa tertarik menyaksikan pertumbuhan pesat gereja-gereja Pentekosta di wilayah itu, juga kehadiran umat Islam yang cukup signifikan—setidaktidaknya ada enam masjid dengan kapasitas sekitar 12.000 jemaah. Dalam perjalanan itu, Syafa takjub menyaksikan sejumlah Muslim berhasil mencari nafkah dengan jujur di tengah ekses kegemerlapan semacam itu.

    Di Las Vegas, dia juga mengamati toleransi yang ditunjukkan kepada orang-orang yang biasanya langsung dicap sebagai “para pendosa”. Dengan sedikit bantuan dari Fulbright, perjalanan itu adalah peluang lain untuk menikmati spektrum beragam kemanusiaan.

    Last Updated: Apr 18, 2019 @ 2:16 pm

    Artikel ini tampil di buku Efek Riak: Alumni Fulbright Mengukir Jejak di Dunia (halaman 43-47) yang diterbitkan pada tahun 2017 memperingati ulang tahun ke-25 AMINEF dan ulang tahun ke-65 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah The Ripple Effect: How Fulbright Alumni are Marking Their Mark on the World. Penulis: Margot Cohen. Penerjemah: Anton Kurnia.

    WordPress Video Lightbox