• etty

    Etty Indriati

    ILMU TIDAK BERDINDING

    Etty Indriati adalah nama biasa di Pulau Jawa, mau pun di seluruh Indonesia. Tetapi Etty yang satu ini harus ditulis istimewa. Ia lulus Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan mendapat beasiswa Fulbright untuk mengambil gelar doktor di Universitas Chicago, Amerika Serikat. Hal ini sangat membanggakan, karena Etty berpikir, beasiswa Fulbright diberikan kepada yang pintar di antara yang paling pintar, “the brightest of the bright,” menurutnya.

    “Saya disuruh mempelajari ilmu tanah sebagai bagian program studi saya di bidang forensik,” katanya. “Sejak itu saya berpikir ilmu tidak berdinding. Sungguh sedih kalau melihat bangsa Indonesia terkotak-kotak di dunia keilmuan. Sejak di sekolah menengah seakan nasibnya sudah ditentukan: pastialam, ilmu sosial, atau bahasa dan budaya.”

    Padahal, menurut perempuan yang lahir di Solo, 1963 ini, semua ilmu saling terkait. Tidak disekatsekat. Ia sendiri telah membuktikannya. Berawal dari profesinya sebagai dokter gigi, ia menjadi dosen dan peneliti forensik pada Fakultas Kedokteran, UGM kemudian menjadi ahli paleontologi, serta pakar antropometri ragawi. Kalau ada pesawat jatuh, bencana tsunami atau bencana kebakaran yang memakan banyak korban, Etty mendapat tugas penting yaitu mengidentifikasi mayat-mayat tak dikenal.

    Dua hal penting yang didapatnya di Amerika Serikat. Pertama, ilmu tidak berdinding. Kedua, pencapaian pribadi sangat penting. Individual achievement! Etty suka menanamkan dua hal ini pada para mahasiswanya. Ia memberikan contoh pencapaian pribadi Barack Obama menjadi presiden dan Steve Jobs, sebagai seorang pengusaha dan ahli komputer.

    Prestasi Etty sendiri pun tidak berhenti di bidang keilmuan. Di usia ke 42, ia dikukuhkan menjadi guru besar. Pada ulangtahunnya yang ke 45, ia menanam 45.000 pohon di lereng Gunung Sindoro. Sedangkan pada umur 48, ia tampil sebagai pelukis dengan pameran tunggal di Hotel Ritz Carlton, Jakarta. Dalam pameran akbar itu – Etty menuangkan bakatnya sebagai pelukis impresionis, dengan obyek kotakota besar dunia yang pernah dikunjunginya sebagai obyek lukisannya: Chicago, Moscow, London, Paris, Singapura, Nairobi, dan banyak lagi.

    “Pengalaman multi-kultural, membuat manusia menjadi besar,” kata Etty berdasarkan pengalamannya sendiri. Ia menikah dengan seorang Amerika, dan telah dikaruniai sepasang anak. Etty berpikir, kearifan lokal dan teladan hidup multikultural adalah tawaran utama bagi para cendekiawan Amerika yang datang ke Indonesia. “Suami saya, John, bisa lulus menjadi menantu ibu saya, karena ia pandai menyesuaikan diri bersopan santun,” ceritanya.

    Etty terpaksa sering meninggalkan suami dan dua anaknya di Jakarta, karena harus mengajar di Yogyakarta di Universitas Gadjah Mada. Dalam kesendiriannya itulah Etty banyak melukis, menulis novel dan buku laris lainnya, yang membuatnya dikenal sebagai cendekiawan dengan multi talenta. Apa saran Etty mengenai hubungan Indonesia dan Amerika? “Semakin lama semakin baik. Fulbright bisa lebih berperan dengan memperbanyak yang dikirim ke sana, maupun yang diterima di sini,” katanya. Dalam sejumlah kesempatan Etty juga sering diundang mengajar di beberapa universitas Amerika, serta mempublikasi penelitiannya di sana.

    Menilik semangatnya yang hebat, Etty bukan hanya dikenal sebagai guru besar antropometri ragawi, ahli forensik, pelukis, novelis dan dokter gigi, melainkan juga seorang penggiat lingkungan dan filantropis. Alumna Fulbright yang multi bakat ini terkenal rajin menyumbang; ia telah membagikan ratusan kursi roda untuk anak-anak kurang mampu yang memang memerlukannya.

    Last Updated: Jun 3, 2019 @ 3:06 pm

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 109 – 111) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox