• Evi Mariani Sofian

    Evi Mariani Sofian

    Evi Mariani Sofian

    Di sana, Evi berfokus mewawancarai anak-anak muda di dua wilayah bermasalah di mana transaksi narkoba, pembunuhan, dan penyakit mental menimbulkan banyak persoalan dalam kehidupan keluarga.

    Dua Sisi

    Di gang sunyi tepian Anak Kali Ciliwung sebuah rapat redaksi dimulai.

    Tidak ada meja, tidak ada komputer—cuma terpal oranye terbentang di atas lantai beton kasar. Duduk dalam lingkaran, redaktur senior Evi Mariani menjawab bermacam-macam pertanyaan dengan suara lembut. Dia tahu, kelompok ini membutuhkan dukungan moral ekstra agar bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

    Tujuan mereka: hadir online dan memberikan wawasan baru tentang komunitas-komunitas Jakarta yang tiba-tiba digusur oleh proyek-proyek pembangunan. “Apa kita harus menulis tentang asal usul kampung, atau bercerita tentang orang-orang yang sekarang tinggal di kampung?” tanya seorang peserta. “Biasanya seorang wartawan menanyakan apa saja, lalu memilih mana yang ingin ditulis,” Evi, 41, menjelaskan. “Pertama, cari informasi sebanyak-banyaknya. Baru kemudian kita putuskan mana yang menurut kita paling menarik.”

    Para reporter pemula yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai pedagang asongan, tukang ojek, dan satpam itu tidak keberatan memulai dari nol. Mereka melihat lingkungan mereka dikoyak oleh kontroversi penggusuran. “Saya senang sekali melihat ada orang luar mau membantu kita,” kata Haris yang sehari-hari berjualan jam tangan plastik di sekitar Taman Fatahillah.

    Selama bekerja sebagai reporter dan redaktur kota The Jakarta Post, Evi menyukai perannya dalam membentuk liputan tentang penggusuran perkotaan. Meski begitu, dia juga meyakini bahwa orang-orang dari komunitas yang terdampak harus memainkan peran lebih besar dalam membangun narasi. Jika dia membantu mereka membuat situs web mereka sendiri, mungkin mereka punya kesempatan untuk mempengaruhi media besar—dan dengan demikian masyarakat luas—agar tidak menganggap penggusuran hanya merugikan masyarakat kelas bawah preman, pelacur, dan pecandu narkoba. “Wartawan yang kami percaya adalah Mbak Evi,” kata Gugun Muhammad, koordinator advokasi untuk Urban Poor Consortium, sebuah LSM yang mendukung prakarsa ini. “Dia melihat orang miskin bukan sampah.”

    Rapat pada bulan Juli itu membawa kembali kenangan Evi pada pengalamannya di Amerika Serikat saat dia berkunjung ke sana pada 2011–2012 dengan program beasiswa Hubert H. Humphrey untuk para profesional di pertengahan karier. Beasiswa itu berada di bawah payung program yang berhubungan dengan Fulbright. Dari sepuluh penerima beasiswa seangkatannya, hanya dia yang menjadi relawan magang selama empat bulan di Street Sense, sebuah surat kabar di Washington, DC yang khusus meliput dinamika kaum tunawisma. Para redaktur bermurah hati memberinya banyak kontak dan mendorongnya untuk menulis.

    Di sana, Evi berfokus mewawancarai anak-anak muda di dua wilayah bermasalah di mana transaksi narkoba, pembunuhan, dan penyakit mental menimbulkan banyak persoalan dalam kehidupan keluarga. Walaupun dibesarkan dalam lingkungan yang jauh lebih terlindung di Bandung, Jawa Barat—di mana dia belajar di sekolah Katolik yang ketat—Evi mau menyimak dengan penuh simpati. Dia terkejut mendapati betapa banyak remaja dan anak muda usia dua puluhan Amerika hidup di jalanan, setelah dilepas dari sistem pengasuhan anak yang tak efektif. “Saya berbicara dengan tiga atau empat remaja perempuan yang berumur 16 dan 17 tahun. Selama masa pengasuhan, mereka dipindahkan terus-menerus ke 12 rumah yang berbeda.

    Mereka mengeluh bahwa anak perempuan lain memperlakukan mereka dengan buruk, barang mereka dicuri, dan tempatnya kumuh,” Evi mengenang. Pengalaman meliput itu meneguhkan sebuah kebenaran pahit. “Ketimpangan ada di mana-mana. Ini persoalan global. Dan saya sungguh percaya bahwa pers seharusnya berperan aktif dalam mempersempit kesenjangan,” ujar Evi. Itulah salah satu alasan dia memilih kuliah etika sebagai bagian dari tugas akademisnya di Philip Merrill College of Journalism di University of Maryland.

    Evi juga memiliki alasan pragmatis saat mendaftar untuk Humphrey Fellowship. “Saya perlu nilai lebih dalam karier saya,” kata Evi mengenang. Walaupun sudah meraih gelar master dalam kajian urban dari Belanda, dia memperhatikan bahwa teman-temannya di meja redaksi yang naik jabatan sudah menyelesaikan kuliah dan magang jurnalisme di luar negeri. Apalagi, The Jakarta Post adalah salah satu mitra paling setia program Humphrey, dengan para redaktur yang meyakini pentingnya memoles kemampuan bahasa Inggris dan penyajian liputan internasional. Surat kabar ini adalah satu dari sedikit media di Indonesia yang tetap membayar gaji dan mempertahankan jabatan wartawan yang sedang belajar di luar negeri.

    Dalam kasus Evi, The Jakarta Post juga mendapatkan pengetahuan berharga bagaimana menangani perubahan sulit dari sebuah raksasa cetak menjadi sebuah media gesit yang bersaing memperebutkan pembaca online. “Dia semakin menyadari, bukan hanya persoalan yang dihadapi surat kabar dengan gempuran dahsyat media digital, tetapi juga bagaimana mencari solusinya,” kata Endy Bayuni, pemimpin redaksi The Jakarta Post, yang mengenal Evi sejak dia bergabung dengan koran itu sebagai reporter pemula pada tahun 2003 dan menyaksikan dia berkembang menjadi seorang redaktur yang penuh semangat. Dia memuji Evi yang menyiapkan sebuah diagram alir efektif untuk meja redaksi online yang baru. Guna memaksimalkan sumber daya manusia, Evi teringat pada upaya terus-menerusnya untuk menyatukan para reporter yang sebelumnya terpisah dalam tim cetak dan tim online.

    Meski begitu, Evi mengakui bahwa dia tidak datang ke Amerika Serikat dengan pendekatan antusias terhadap media digital. Saat itu dia masih sangat meyakini bahwa jurnalisme berkualitas, termasuk reportase investigatif, disajikan terbaik dalam bentuk cetak. Tetapi kuliah jurnalisme multimedia dan magang tambahan di The Washington Post mengubah pikirannya. Dia terkesan dengan pendekatan “optimistis” para redaktur terhadap lanskap digital, dan memperhatikan bagaimana mereka mengubah desain interior ruang redaksi untuk mengakomodasi arus berita. “The Washington Post tidak berkompromi soal kualitas,” kata Evi. “Jelas, media digital adalah masa depan.”

    Sekembalinya ke Indonesia, Evi juga bekerja secara dekat dengan kolega-kolega mudanya di The Jakarta Post. “Dia selalu mendorong kami untuk berpikir lebih jauh dan menggali lebih dalam tentang setiap hal,” kata reporter Corry Elyda. Ketika bahan yang dikumpulkan dari lapangan terasa kurang menarik, Evi mengadakan pertemuan curah gagasan untuk menemukan sudut pandang yang signifikan. Dalam pengembangan karier, dia juga seorang mentor. “Dia mendorong saya untuk pindah ke bagian lain untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas. Dia juga mendukung saya agar melanjutkan studi,” reporter muda itu menambahkan.

    Lima tahun setelah Humphrey Fellowship, dan setelah membantu The Jakarta Post melewati masa transisinya, Evi memutuskan untuk membuat transisi besar dalam kariernya. Pada pertengahan 2017, dia meninggalkan surat kabar itu dan bergabung dengan sebuah tim kecil untuk meluncurkan versi Indonesia The Conversation, sebuah situs web asal Australia yang bertujuan mempromosikan perdebatan yang lebih berbobot ilmiah di ranah publik. Portal online itu mendorong para akademisi untuk menulis bagi pembaca umum tentang bidang keahlian mereka, termasuk sains, kesehatan masyarakat, lingkungan hidup, dan perencanaan kota. Evi bertugas menyunting dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

    Idealnya, kejelasan tidak boleh dikalahkan karena kerumitan topik. “Tantangannya adalah menyunting sedemikian rupa hingga seorang anak sekolah 16 tahun pun bisa paham,” kata Evi dalam peran barunya sebagai redaktur sosial politik. Sementara itu, dalam kapasitasnya sebagai relawan, dia masih membantu para reporter pemula yang disebut di depan dalam menciptakan situs web mereka sendiri bagi berita penggusuran perkotaan.

    Sesuai minatnya, di The Conversation Evi berharap bisa menampilkan perdebatan seputar proyek-proyek pembangunan besar di Jakarta, seperti Giant Sea Wall, sebuah tanggul laut sepanjang 32 kilometer untuk meningkatkan pengendalian banjir di Jakarta. Walaupun Evi mengatakan bahwa secara pribadi dia tidak yakin megaproyek miliaran dolar itu adalah jawaban tepat bagi bencana air ibu kota, dia berharap bisa mengangkat pandangan para ilmuwan, yang pro maupun yang kontra.

    Polarisasi politik menyangkut pembangunan urban sangat tajam di Jakarta belakangan ini, memisahkan teman-teman dan bekas sekutu. Kendati demikian, Evi selalu yakin bahwa perdebatan yang sehat, didukung sains, tetap mungkin dilakukan di Indonesia. Sudah lama dia tertarik pada berbagai sudut pandang yang berlawanan. Karena itulah untuk penelitian skripsinya pada 1990-an di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dia berusaha menganalisis tajuk rencana yang berlainan di empat surat kabar berbeda pada tahun 1950-an. (Ternyata proposal itu terlalu ambisius, sehingga dia mempersempit fokus penelitiannya.)

    Pada pertengahan 1990-an, Evi adalah salah satu dari sedikit mahasiswa Tionghoa yang memilih masuk “Sospol” (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik) UGM dan meraih gelar sarjananya dalam bidang komunikasi massa. Dia berharap ada lebih banyak anak muda Tionghoa yang menekuni jurnalisme, di mana dia merasa tidak menghadapi hambatan rasial selama bekerja. “Saya ingin melihat lebih banyak lagi reporter Tionghoa,” kata Evi. Aktivis miskin kota Gugun tahu betul bahwa latar belakang Evi berbeda dari para reporter baru yang duduk bersila di atas terpal oranye. Tetapi dia tidak peduli. Bagi Gugun, yang penting adalah komitmen Evi. “Mbak Evi siap turun dan membantu. Tidak banyak wartawan seperti itu,” kata Gugun.

    Last Updated: Apr 18, 2019 @ 3:18 pm

    Artikel ini tampil di buku Efek Riak: Alumni Fulbright Mengukir Jejak di Dunia (halaman 55-59) yang diterbitkan pada tahun 2017 memperingati ulang tahun ke-25 AMINEF dan ulang tahun ke-65 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah The Ripple Effect: How Fulbright Alumni are Marking Their Mark on the World. Penulis: Margot Cohen. Penerjemah: Anton Kurnia.

    WordPress Video Lightbox