• Farsijana

    Farsijana Adeney-Risakotta

    BERBAGI PANGGUNG UNTUK PERDAMAIAN

    Farsijana Adeney-Risakotta, penerima beasiswa Fulbright untuk program Interfaith Community Action ini bersuamikan orang Amerika, Bernard T. Adeney. Ia mengaku banyak belajar dari masyarakat Amerika Serikat, yang dinilainya kuat dalam hal volunteerism – kerelawanan. “Di sana setiap warga didorong untuk menyediakan waktu, melakukan kerja suka-rela. Kontribusi untuk kegiatan sosial seperti itu akan dihargai dalam bentuk keringanan pajak. Kalau hal ini bisa diterapkan di Indonesia akan baik sekali,” katanya.

    Lulusan SMA Negeri 1, Yogyakarta ini meraih gelar doktor dari Radboud University di Nijmegen, Belanda. Ia menjalani beasiswa Fulbright di Barnard College, Universitas Columbia, New York pada 2007. Salah satu pelajaran terpenting dari Amerika yang diterapkan Farsijana di Indonesia adalah mendorong para mahasiswanya agar suka bertanya, suatu hal yang memang belum lazim dilakukan mahasiswa di Indonesia. “Saya akan ingat kamu, kalau kamu suka bertanya,” begitu semboyannya.

    Di Barnard College, seorang mahasiswa pernah bertanya kepadanya, “Bagaimana menjelaskan bahwa kekerasan yang terjadi sekarang berakar di masa lalu?” Farsijana menjelaskan, ada memori kolektif masyarakat yang diteruskan dari generasi ke generasi. “Beberapa gerakan dari masa lalu diteruskan melalui adat-istiadat, kebudayaan, termasuk tari-tarian. Beberapa hal dari ingatan bersama itu dapat dipakai untuk membangkitkan semangat dan tindakan di masa kini,” katanya.

    Hal-hal positif pada masa lalu bisa dihidupkan untuk menciptakan hal-hal positif pada masa sekarang. Hal tersebut tampak pada tata cara masyarakat menyelesaikan konflik yang muncul di tengah kehidupan mereka. Nilai-nilai masa lalu yang telah ada, seperti kebersamaan, keragaman, kesamaan, kesatuan patut diturunkan kembali dengan cara yang menyentuh penonton.

    Bersama suaminya, Farsijana tinggal di lingkungan Islam. Rumah mereka diberi nama “Tali Rasa” dengan semangat yang kuat untuk menciptakan perdamaian. “Disinilah tempat kami merenung, berdiskusi dengan mahasiswa, aktivis dan tetangga-tetangga. Mereka bisa mencicipi masakan saya, karena saya suka memasak; bisa menyelenggarakan pameran dan kegiatan seni budaya karena anak-anak dan muda-mudi berlatih tari setiap Sabtu di sini. Saya juga menari bersama mereka. Kemudian kami melakukan pertunjukan keliling bersama kelompok-kelompok lain. Salah satunya yang telah diliput harian Kompas berjudul “Berbagi Panggung untuk Perdamaian”

    Mengenai pengalamannya menjalin kerukunan antar agama dia punya cerita: “Di New York, saya mengunjungi komunitas Kristen Katolik dan Yahudi yang mempunyai kegiatan bersama paling sedikit dua kali setahun. Mereka bertamasya dan makan bersama pada saat Thanksgiving. Upaya menjaga kebersamaan di tingkat akar rumput dilakukan dengan tujuan menjaga perdamaian di lingkungan tempat mereka berdiam.

    “Setahun kemudian, saya kembali ke New York lagi untuk memfasilitasi pertemuan aktivis akar rumput Indonesia dan AS untuk merefleksikan pengaruh mayoritas dan minoritas dalam memulai usaha menjaga perdamaian di tempat masing-masing. Kegiatan ini dilakukan di Union Theological Seminary di New York pada tahun 2008 dan kegiatan yang sama dilakukan di Indonesia pada tahun 2009.

    “Tujuannya adalah untuk mendorong aktivis akar rumput agar aktif membangun perdamaian antara agama. Kegiatan di Indonesia, dipusatkan di Indonesia Consortium of Religious Studies di Universitas Gadjah Mada, tempat saya mengajar. Fokusnya pada peran perempuan dalam perdamaian di Indonesia. Keterbukaan Fulbright untuk memberikan tempat bagi peran agama dalam memelihara perdamaian dunia memang bisa terlihat langsung dalam program-program ini.

    “Sebagai sekretaris Wilayah Koalisi Perempuan Indonesia di Daerah Istimewa Yogyakarta, saya memfasilitasi pembentukan Balai Perempuan di Sedayu. Keanggotaan kelompok berlatar belakang Kristen dan Muslim. Mereka bertemu setiap bulan untuk membahas kebijakankebijakan di tingkat desa yang berdampak pada perempuan. Tujuan dari semua kegiatan tersebut adalah mendorong ibu-ibu tersebut untuk mengerti hak dan kewajiban mereka termasuk untuk menjaga perdamaian tanpa kehilangan kekritisannya untuk terus memperjuangkan keadilan dan demokrasi.”

    Farsijana berkata, “Sebagai alumni program Fulbright, saya ingin mendorong agar Amerika lebih memperhatikan kepentingan negaranegara yang sedang dibantunya agar mampu tinggal landas sendiri.”

    Selain itu Farsijana senang juga kalau Amerika ikut melatih generasi muda Indonesia untuk mengembangkan ketrampilan mengolah sumber alam. “Misalnya dengan meningkatkan pendidikan lingkungan dan teknologi tepat guna di level menengah ke bawah,” katanya.

    Last Updated: Jun 3, 2019 @ 3:11 pm

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 112 – 115) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox