• Harkristuti Harkrisnowo1

    Harkristuti Harkrisnowo

    BELAJAR HAK ASASI DARI BUI

    “Pada suatu hari saya diajak makan siang di penjara di Amerika Serikat. Ah, apa istimewanya, pikir saya. Ternyata sajian makannya lengkap. Mulai dari sup, salad, menu utama, sampai eskrim dan buah pencuci mulut pun tersedia.Aduh, enak sekali. Lebih enak dari makan siang seorang mahasiswa Fulbright,” kata Harkristuti Harkrisnowo, Direktur Jendral Hak Asasi Manusia (HAM), Kementerian Hukum dan HAM, Republik Indonesia.

    “Memang beasiswa Fulbright itu prestijius. Susah dapatnya dan relatif kecil uangnya,” katanya disambung tertawa lepas. Wanita kelahiran Bogor, tahun 1956 ini biasa dipanggil Ibu Dirjen, atau Ibu Tuti. Ia mendapat beasiswa Fulbright setelah lulus dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia. “Saya memilih tinggal dan kuliah di kota kecil, Huntsville, Texas, yang ternyata memiliki lima penjara.” Di sana di Universitas Sam Houston State dia belajar ilmu kriminologi dan sekaligus dapat mendatangi bui demi bui untuk melihat bagaimana ilmu yang diperoleh di ruang kuliah dipraktekkan di lapangan.

    Dari pengalaman berkunjung ke penjara itulah ia mendapatkan ilmu yang mengantarnya hingga menduduki jabatannya sebagai Direktur Jenderal HAM. Tuti dikenal sebagai pejabat yang banyak memperhatikan kondisi penjara di berbagai pelosok Tanah Air. “Sangat menyedihkan,” katanya. “Kapasitas penjara di seluruh Indonesia hanya cukup untuk 90,000 orang. Sedangkan jumlah narapidana dan tahanan sekitar 135,000 orang.” Menurut yang dipelajarinya, sebuah penjara tidak boleh sampai penuh seratus persen. “Supaya pengamanan dan perhatian pada penghuni optimal, paling banyak hanya boleh 90 persen daya tampung,” kata Tuti.

    Ia menjadi senang tinggal di kota kecil Huntsville karena diberi kesempatan mengunjungi dan mengamati keadaan lima penjara yang ada di sana. Fasilitas penahanan di Amerika rupanya memang sangat bagus. Seorang narapidana yang ingin menjalani operasi kosmetik, misalnya untuk mengubah profil wajah, bahkan mendapat bantuan gratis atas biaya negara.

    Ada perbedaan mencolok dalam hal jumlah tahanan dibanding penduduk. Amerika dengan sekitar 300 juta warga, memiliki 2,2 juta narapidana dan tahanan tersebar di berbagai kota. Sedangkan Indonesia dengan 230 juta hanya memiliki sekitar 135,000 tahanan dan narapidana. “Rationya sangat rendah, tetapi kondisinya sangat menyedihkan,” kata Tuti.

    Selama belajar di Texas, peristiwa apa yang menurutnya paling mengesankan? “Pada suatu siang, di depan sebuah bank, tak jauh dari kampus saya menemukan seorang ibu menangis. Ternyata ibu itu berasal dari Indonesia. Ia tidak tahu bagaimana cara kembali ke apartemennya, dan tidak berani bertanya. Padahal apartemennya hanya 500 meter dari tempatnya berdiri,” cerita Tuti. Pengalaman yang mengejutkan ini membuatnya sadar bahwa banyak orang Indonesia tidak siap hidup di negara lain karena kurang menguasai bahasa. “Para penerima beasiswa Fulbright tentu disaring benar-benar agar tidak mengalami hal seperti itu,” katanya.

    Ketika Tuti berangkat ke Huntsville, dirasakan pertukaran sarjana di bidang hukum masih sangat jarang. “Kebanyakan yang dikirim ke Texas adalah para calon penyuluh pertanian. Di antara mereka banyak yang kurang kuat bahasa Inggrisnya. Mungkin karena pekerjaan sehari-harinya ada di pedesaan,” katanya.

    Hikmah paling besar yang dirasakan Tuti dengan pergi ke Amerika adalah belajar hidup mandiri. Kepergiannya ke Texas dengan beasiswa Fulbright adalah perjalanannya pertama kali ke luar negeri. Ia masih ingat, pada malam terakhir menjelang keberangkatannya, Tuti minta diajari cara menggoreng telur. “Untuk pertama kalinya, saya diajari nyeplok telur oleh pembantu saya,” katanya. Tetapi setelah berada di Amerika, Tuti terbiasa mengerjakan semua hal sendiri seperti misalnya mencuci, memasak, dan berbelanja.

    Di Indonesia, hal itu sudah dijamin beres oleh keluarganya. “Tapi ada juga yang terbalik. Ketika menjadi mahasiswa, di Amerika saya mendapat ruang kerja sendiri dengan fasilitas telpon dan internet. Ketika pulang dan diangkat menjadi pembantu dekan, ruang kerja saya kecil dan itu pun dipakai beramai-ramai dengan para dosen. Jangankan fasilitas internet, pesawat telpon pun tidak ada,” katanya.

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 116-118) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox