• ikranagara

    Ikranagara

    BERTUKAR PIKIRAN SISTEMATIS

    Antara tahun 1957 dan 1960, seorang gadis Amerika bernama Kay, datang ke Jakarta. Ayahnya, Dr. Bruce Glassburner dari Universitas California, Berkeley, menjadi dosen tamu di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Sepuluh tahun berikutnya, gadis itu kembali dan menikah dengan seorang pemuda dari Bali, bernama Ikranagara.

    Ikra, begitu panggilannya, lahir di Loloan Barat, Bali, 1943, sulung dari 10 anak. Semula belajar di Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta tetapi lebih tertarik dengan dunia panggung, sebagai teaterawan, baik sutradara maupun aktor panggung dan film.

    Ikra sendiri pernah bermukim di Amerika tiga kali sebagai penyandang beasiswa Fulbright. “Mula-mula pada tahun 1978. Saya diundang untuk melihat teater di Pantai Barat dan Pantai Timur Amerika. Sempat juga mampir di East-West Center, Hawaii. Di kampus Universitas Hawaii ini saya menyaksikan mural megah yang dibuat oleh Affandi, pelukis maestro dari Indonesia. Lukisan pada tembok di Jefferson Hall itu menggambarkan dialog antara Mahatma Gandhi, Konfusius dan Semar, tokoh pewayangan Jawa.

    “Dari Hawaii saya pergi ke Los Angeles untuk belajar pembuatan film, tapi tidak lama. Yang lama saya berada di New York, karena lebih berminat pada teater kontemporer – Off Broadway. Di Universitas New York (NYU) saya membawakan tari topeng,” katanya. “Kebetulan tuan rumahnya, Richard, suka menggunakan topeng untuk bercerita pada anak-anak. Lakonnya Si Topi Merah.”

    Ikra membawakan tari topeng tradisional Bali, yaitu pajegan. Seorang aktor topeng Pajegan harus mampu menjadi dalang, menggunakan vokal yang berbeda-beda untuk memainkan beberapa tokoh sekaligus. “Tetapi saya tidak mengikuti pakem aslinya. Saya menggunakannya untuk membuat seni topeng yang baru dan melahirkan cerita-cerita sendiri.”

    Tahun 1989 Ikra mendapat lagi beasiswa Fulbright. “Kalau sebelumnya saya diundang sebagai Visiting Artist, tahun itu menjadi Fulbright Asian Scholar-in-Residence di Universitas Ohio State (OSU). Di sana saya mendapat kesempatan untuk mengajar, memberikan lokakarya dan mengadakan pementasan bersama para mahasiswa pasca sarjana.”

    Itulah kesempatan Ikra untuk belajar berpikir sistematis dan struktural. “Meskipun begitu, kesenian jangan dibuat terlalu ilmiah. Nanti kering,” katanya. Selama dua tahun ia berada di Ohio, Ikra melakukan tiga tugas. “Pertama, mengajar sejarah teater Indonesia dari realis sampai perkembangan terbaru. Kedua, memberikan lokakarya satu semester untuk latihan akting Pranayama Number 9. Ini sebuah tafsiran dan tambahan baru, karena secara tradisional Pranayama terdiri dari delapan bagian. Ketiga, mengadakan pementasan drama Zaman Kalong yang diterjemahkan menjadi The Era of Bats.

    Sebetulnya, sebelum dan sesudah mendapatkan beasiswa Fulbright, Ikra sering mengunjungi berbagai universitas di Amerika. Dengan biaya sendiri ia datang ke Michigan, Ohio, California, Oregon, dan beberapa lagi. Ikra turut memberikan rekomendasi bagi calon penerima beasiswa Fulbright dan peserta International Writing Program yang termahsyur di kalangan penulis di Indonesia yang mengambil tempat di Universitas Iowa.

    “Indonesia dan Amerika perlu bertukar lebih banyak seniman. Kalau seniman AS kesini, sebaiknya mereka memberi banyak latihan dan lokakarya seperti yang saya lakukan di sana,” kata Ikra. “Sebaiknya mereka menyempatkan diri berkunjung ke kota-kota kecil juga.”

    Setiap kali kembali dari Amerika, Ikra selalu membawa banyak buku. “Inilah yang paling baik dilakukan oleh para seniman Indonesia. Kita harus membangun perpustakaan dan memupuk kesenangan membaca,” kata Ikra. Di rumahnya, kawasan Tebet, Jakarta Timur, Ikra menghimpun koleksi buku-buku teater dan sastra pemenang Nobel yang dapat dibaca siapa saja yang berminat.

    Last Updated: Jun 3, 2019 @ 3:16 pm

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 119 – 121) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox