• Imam

    Imam B. Prasodjo

    ADA LANGIT DI ATAS LANGIT

    “Memang penting untuk mendapat beasiswa Fulbright bagi orang Indonesia. Pertama, karena hal ini merupakan kesempatan untuk belajar ke luar-negeri. Kedua, supaya mereka tahu ada langit di atas langit,” kata Imam Budidarmawan Prasodjo. Dia mendapat beasiswa Fulbright untuk meraih master dalam bidang sosiologi dari Universitas Kansas State.

    Pria kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 1960 ini percaya, program Fulbright membuka kesempatan seluas-luasnya untuk bertemu dengan sesama cendekiawan dari seluruh dunia. “Ada semacam kurikulum tersembunyi – hidden curriculum – yang lebih bermanfaat selain program perkuliahan itu sendiri,” katanya

    Baginya, kesempatan mendapat beasiswa Fulbright boleh dianggap sebagai lanjutan dari proses pendidikannya di Amerika. Kali pertama ia datang ke Amerika Serikat adalah sebagai siswa program pertukaran American Field Service (AFS) pada 1978. “Pengalaman untuk bertemu, ikut konferensi, bertukar-pikiran dengan para pendekar, pencari ilmu, saudara seperguruan, memberi dorongan dan energi untuk melakukan perubahan,” katanya.

    “Pendidikan di Amerika membuat saya berpikir bebas dan menemukan dunia yang lebih luas. Ibaratnya kalau saya bermain bola, lapangannya menjadi berlipat-lipat lebih luas daripada ukuran standar yang 110 X 90 meter,” katanya. Dalam pikiran Imam, hasil penting dari proses pembelajarannya adalah menjadikan dirinya lebih dari sekadar ilmuwan sosial, tetapi juga seorang agen perubahan.

    Imam memberi contoh, kiprahnya lebih dari sekadar seorang sosiolog atau periset biasa. Ia juga mewujudkan pemikiran dan temuan-temuannya dalam program perbaikan lapangan. Dengan Yayasan Nurani Dunia yang didirikannya, ia memperbaiki rumahrumah dan sekolah di daerah yang rawan konflik. Imam dikenal bukan hanya sebagai sosiolog, tapi juga pejuang masyarakat yang bekerja keras untuk perdamaian dan kemaslahatan orang banyak.

    Kegiatannya tersebar di daerah-daerah miskin dan kawasan kumuh yang memerlukan akses air bersih, sarana publik, perpustakaan dan layanan pendidikan. Dalam pandangan Imam, “Sekarang diperlukan manusia yang mampu memberikan perhatian lebih luas di luar bidangnya sendiri. Tantangan bagi Fulbright adalah bagaimana memilih dan mempertemukan orang-orang yang unreasonable untuk menghadapi jaman yang juga unreasonable – yang tidak masuk akal.”

    Maksudnya adalah mencari dan mendukung kegiatan inovasi dalam masyarakat, dengan memperkuat inovator publik – yang berani dianggap gila karena ingin memberikan kontribusi secara optimal. Orang-orang yang tidak masuk akal ini, adalah pembawa perubahan yang punya misi pribadi untuk memperbaiki masyarakat di masa depan.

    “Fulbright harus memfasilitasi program pelayanan pendidikan yang inovatif dan melahirkan wirausahawan sosial – social entrepreneur. Kalau tidak, maka Fulbright hanya akan menjadi lembaga pelayanan pendidikan – educational service biasa saja,” katanya.

    Konsekuensinya, penerima beasiswa Fulbright harus dipilih lebih selektif. Bukan banyaknya jumlah yang menerima, tetapi kualitas penerimanya. “Yang datang dari Amerika pun harus mempunyai semangat lebih dari sekadar ingin belajar, menimba ilmu, melakukan riset di sini. Mereka harus membawa cita-cita, menyumbangkan sesuatu yang inovatif dan diperlukan di sini – bukan program wisata,” katanya.

    Imam sendiri telah berulang-kali menampung para penyandang beasiswa Fulbright dari Amerika. Menurut pegalamannya, program pertukaran mahasiswa dan sarjana bisa lebih berbobot, berdaya guna bila ditingkatkan lebih dari membangun persahabatan yang fungsional. Ia menyarankan agar setiap cendekiawan menemukan cara untuk mewujudkan pikirannya, dan memperhatikan hal-hal lain yang sepintas kelihatan di luar bidangnya.

    “Memang ada yang mengritik saya sebagai terlalu banyak perhatian, tidak fokus, kemanamana,” katanya. “Tetapi kita memerlukan inovasi kebajikan, dan itu hanya mungkin kalau kita punya semangat untuk memperkaya minat keilmuan kita dengan dimensi yang lebih personal.”

    Imam merasa hal itu tercapai, bila seorang Fulbrighter dapat berkata kepada sesama teman Fulbrightnya, “Saya titip anak-anak saya ya.” Dengan membangun keakraban, menurut Imam, kecurigaan bisa dikikis, kerjasama dan persaudaraan antarbangsa bisa diwujudkan. Sebagai contoh, Imam telah menyediakan rumahnya menjadi semacam pusat kebudayaan – art center. Di sana para Fulbrighter, keluarga, pendukung dan penerusnya bisa berdiskusi, berkolaborasi untuk menciptakan dan mengolah program nyata bagi masyarakat.

    Last Updated: Jun 3, 2019 @ 3:20 pm

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 122 – 125) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox