• Jen Shyu

    Jen Shyu

    Jen Shyu

    [ Jen] pernah berguru pada para musisi pribumi di Jawa, Kalimantan, TimorLeste, Korea Selatan, Jepang, dan banyak lagi yang lainnya. Fulbright berperan dalam mendanai keterlibatan Jen di Indonesia pada periode 2011–2012. Di negeri ini, dia berjumpa dengan para empu yang sangat murah hati dalam jiwa tetapi sangat menuntut dalam standar mereka.

    Nada-Nada Lintas Benua

    Dalam album Sounds and Cries of the World 2015, suara Jen Shyu mengalun melintas batas.

    Dalam lagu “Mother of Time”, misalnya, Jen menyanyikan sebuah melodi Jawa dengan lirik berbahasa Inggris yang diilhami oleh sebuah puisi Taiwan, dan ditutup dengan sebuah doa berbahasa Korea.

    Di atas panggung, seniman 39 tahun itu bisa beralih genre dalam sekejap, mirip montase sinematik. Mengiringi penampilannya dengan instrumen-instrumen yang merentang dari siter Korea sampai piano besar dan tongkat perkusi Vietnam, dia yakin musiknya menyampaikan “esensi tradisi” dalam bentuk kontemporer. Dia tidak menyukai label “fusion”—menganggap bahwa istilah ini sering dipakai pada komposisi-komposisi yang ditempelkan bersama secara dangkal. Bagi Jen, kedalaman emosi dan latihan disiplin mengasah keterampilan mengalir dalam setiap penampilannya.

    Jen pernah berguru pada para musisi pribumi di Jawa, Kalimantan, TimorLeste, Korea Selatan, Jepang, dan banyak lagi yang lainnya. Fulbright berperan dalam mendanai keterlibatan Jen di Indonesia pada periode 2011– 2012. Di negeri ini, dia berjumpa dengan para empu yang sangat murah hati dalam jiwa tetapi sangat menuntut dalam standar mereka. “Makin tekun Anda, makin keras Anda bekerja, makin banyak pula yang akan mereka berikan kepada Anda,” kata Jen. Karyanya melibatkan berjam-jam latihan penuh konsentrasi, mencatat dengan tekun, dan hubungan manusiawi secara intuitif yang bisa dirasakan tanpa kata.

    Kini, meski para pendengar tidak bisa langsung memahami makna harfiah seluruh lirik lagunya, Jen berharap mereka akan menanggapi secara intuitif suasana dan melodi musiknya.

    Musik “bekerja pada tubuh—itu membangkitkan perasaan yang kita miliki,” ujar Vijay Iyer, seorang musisi dan kurator ternama, yang memilih Jen untuk tampil di Ojai Music Festival di California pada Juni 2017, di samping beberapa tempat lain. “Saya pikir eksplorasi lintas budaya Jen yang amat mendalam telah membuat dia bersentuhan dengan beberapa realitas esensial dalam keberadaan manusia—terutama persoalan-persoalan yang dihadapi kaum perempuan di seluruh dunia. Dia memiliki suara indah yang cocok untuk beragam musik dengan kedalaman dan jangkauan yang luar biasa, dan dia mampu menampilkan ekspresi dari batas-batas pengalaman manusia.”

    Kecakapan dalam berbagai hal adalah ciri kehidupan Jen sejak usia dini. Tumbuh di Peoria, Illinois, dia belajar piano, biola, menyanyi, dan balet. Para gurunya mengenali bakatnya yang besar. Pada usia 13 tahun, dia mengenakan gaun berlengan gembung dan duduk di depan piano memainkan karya Tchaikovsky, Piano Concerto No. 1 in B Flat Minor bersama Peoria Symphony Orchestra—jauh berbeda dengan sarung lembut dan atasan hitam tak bertali yang dia gunakan untuk penampilan terakhirnya, “Nine Doors,” yang dipentaskan di New York pada Juni 2017.

    Dari musik klasik Barat, Jen beralih ke jazz, meluncur ke sejumlah kolaborasi bergengsi dalam lingkaran jazz di pesisir barat dan timur Amerika Serikat. Namun, dia terus gelisah. Benaknya terus kembali ke leluhurnya. Ayahnya dibesarkan di Taiwan, sedangkan ibunya keturunan Cina Hakka yang menetap di Timor Timur (kini negara merdeka Timor-Leste). Setelah bertemu di Syracuse University, kedua orang tuanya membina hidup baru di bagian barat-tengah Amerika yang tidak terlalu cocok untuk putri mereka. Kawan-kawan Jen di komunitas jazz mendorongnya untuk berkelana lebih jauh agar tidak menjadi katak dalam tempurung  dan “cuma gadis berwajah Cina yang menyanyi mirip Sarah Vaughan.

    Jen mengawali pengembaraannya di Taiwan, di mana sepupu perempuannya yang biasa dipanggil “Acid” (karena tergila-gila pada musik acid rock) bercerita kepadanya tentang ikon musik folk tahun 1970-an Chen Da, penyanyi langsing yang dikenal karena petikan kecapi tradisional Taiwan. Melihat keindahan kecapi itu dan kemungkinannya sebagai alat bercerita, Jen lalu menggunakannya sebagai salah satu instrumen khasnya. Kemudian, tiga bulan tinggal di Timor-Leste membuat Jen bersentuhan dengan para penyanyi yang suara nyaringnya nyaris terkubur di bawah warisan perang dan terabaikan. Berada amat dekat dengan Indonesia, Jen pun memutuskan untuk singgah—dan seminggu di Yogyakarta pada tahun 2010 itu menandai perubahan mendalam pada hidupnya.

    Sedikit pelajaran dalam sindhenan, seni vokal Jawa yang rumit, sudah cukup meyakinkan Jen untuk mengajukan beasiswa Fulbright demi menambah daftar karyanya di Solo, Jawa Tengah. “Bagaimana agar suaraku bisa mendekati kejernihan yang bisa mengatasi bunyi gamelan?” Jen bertanya-tanya.

    Kisah evolusi musikal Jen di Solo pada tahun 2011–2012 memberi gambaran jelas atas efek riak Fulbright. Inilah kisah tentang para seniman yang mempengaruhi seniman lain, baik secara kreatif maupun terkait akses terhadap jaringan internasional. Misalnya, setelah berkolaborasi dengan Jen di Jawa Tengah, musisi jazz Indonesia Djaduk Ferianto mendapatkan dana hibah untuk mengunjungi New York dan disambut oleh lingkaran jazz garda depan Jen. Persinggahan itu mengajari Djaduk sesuatu tentang nilai sistematika perencanaan dalam karier artistik. Rekomendasi Jen juga membantu sejumlah seniman Jawa berbakat lainnya yang kemudian mendapat perhatian para penyokong di luar negeri.

    Lebih dari itu, kisah Jen juga menunjukkan bagaimana seorang seniman asing bisa bertindak sebagai jembatan untuk menghubungkan senimanseniman lokal, sekaligus mengilhami banyak orang dalam prosesnya. Tidak lama setelah kepergiannya dari Indonesia, Jen menghabiskan waktu di New York dengan pengarah gamelan I. M. Harjito yang memuji seorang pesinden bernama Nyi Ngatirah. Sebagai legenda pada masanya, Ngatirah yang telah menua masih berkarya di Semarang, tampil seminggu sekali dengan kelompok wayang orang. Perlu waktu dua jam untuk menempuh perjalanan dari Solo ke Semarang, meski begitu Jen mengunjungi Ngatirah sampai enam kali, meminta panduan vokal dan membuat rekaman untuk dipelajari. Jen mengumpulkan sumbangan guna membantu meringankan beban hidup Ngatirah dan mengatur perjalanan Ngatirah ke Solo untuk berinteraksi dengan para musisi yang lebih muda dan belum pernah berjumpa dengan sang legenda.

    Dengan bergurau pesinden senior itu mendorong Jen untuk mengucapkan kata-kata secara tepat. “Dia bilang, ‘Gigi saya ompong, tetapi saya masih bisa menembang lebih jelas ketimbang anak-anak muda,’” kenang Jen. Begitu Jen mulai belajar bahasa kromo, tingkat bahasa paling sopan dalam bahasa Jawa, keahliannya sebagai sinden meningkat. Salah seorang teman barunya, pesinden terkemuka Peni Candra Rini, memutuskan ikut ke Semarang. Dia tumbuh dengan mendengarkan suara Ngatirah di radio. Awalnya sosok idola yang jauh, Ngatirah kemudian menjadi kekuatan karismatis bagi karya Peni. “Energinya sungguh penting bagi saya untuk bisa menyentuh realitas,” kata Peni yang belajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta (Solo).

    Menghadapi sulitnya tangga nada pentatonik slendro, Jen belajar pada dosen ISI Darsono. “Saya tidak pernah menulis sesuatu dalam notasi Barat untuk mengingat melodi. Saya melakukannya dengan telinga,” kata Jen. Menyadari bakat itu, Darsono takjub dengan cara Jen yang berbeda. “Saya merasa seperti orang tuanya,” ujar Darsono. Dia mengenang bagaimana Jen selalu menyediakan makanan dan minuman kesukaan Darsono pada pelajaran privat. Darsono dengan senang hati bernyanyi pada upacara selamatan rumah Jen, berlepotan lumpur saat dia mengelilingi rumah tiga kali.

    Sebagai orang yang selalu merasakan pentingnya menyerap bahasa dan bentuk seni baru, Jen belajar bagaimana bergerak perlahan-lahan. “Anda akan belajar lebih banyak jika Anda sabar. Kerjakanlah satu hal saja pada satu waktu,” kata Jen. Filosofi ini juga membantunya dalam menirukan gerakan tari Jawa kraton.

    Jen juga mendekati sutradara Garin Nugroho yang karyanya dia kagumi dalam film Opera Jawa, sebuah film musikal surealis. Garin bersedia menyutradarai Jen dalam pertunjukan “Solo Rites: Seven Breaths.” Jen menjadi lebih nyaman dengan penonton, berbaur untuk adegan berkelakar mirip jeda goro-goro dalam pentas wayang kulit. Jen juga mendapat pelajaran dalam pengaturan waktu dramatik. Atas saran Garin, pada adegan terakhir, Jen mengacungkan gunting ke lehernya lalu memotong segenggam rambutnya sebagai simbol perpisahan dengan masa lalu.

    Untuk pertama kalinya, Garin menyadari ketertarikannya sendiri untuk membuat karya solo yang menurutnya bisa benar-benar menampilkan bakat dan fokus terhadap tubuh seorang seniman. Garin menyutradarai pertunjukan solo untuk penari Jawa Rianto pada tahun 2016. Dia berencana kembali bekerja dengan Jen pada tahun 2018 dalam nomor berjudul “Zero”. Judul itu mengacu pada daratan yang menjadi rata disapu tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004, menewaskan sekitar 170.000 orang. “Teknologi berkembang amat pesat, tetapi kemampuan manusia memahami alam menyusut hingga nol,” kata Garin

    Ingatan pada kematian mendominasi “Nine Doors.” Karya itu menyampaikan kesedihan Jen atas kecelakaan fatal yang menimpa Sri Joko Raharjo, seorang musisi dan dalang muda berbakat yang selalu menemani Jen dan Peni di ISI. Pada Juni tahun 2014, sebuah truk menabrak mobil yang ditumpangi Joko, istrinya, dan kedua anaknya. Hanya anaknya Nala, 6 tahun saat itu, yang selamat.

    Dalam satu adegan, Jen menghadirkan momen tepat setelah tabrakan, menggambarkan Nala yang limbung dan kesepian. Jen memetik gayageum (siter Korea) dan kemudian memainkan piano. Dalam tradisi sinden, Jen menyanyikan sebuah melodi Jawa yang digubah almarhum Joko di ISI. Musik itu berbaur dengan untaian ingatan: sebuah rekaman obrolan antara Peni, Joko, dan Nala. Lalu terdengar larik-larik dalam bahasa Indonesia tentang perlunya “terus berjalan” meskipun merasa kehilangan.

    Banyak di antara musik karya Jen dan perjumpaan-perjumpaan dalam perjalanannya keliling dunia seakan bertaut dengan nama Cina-nya, Qiu Yan, yang berarti Angsa Musim Gugur. Seperti digambarkan dalam puisi kuno, unggas ini adalah perwujudan “lingkaran pergi dan kembali, tidak terhindarkannya kedua hal itu, serta kerinduan yang menyertai orang yang pergi dan orang yang ditinggalkan.”

    Last Updated: Apr 18, 2019 @ 2:10 pm

    Artikel ini tampil di buku Efek Riak: Alumni Fulbright Mengukir Jejak di Dunia (halaman 37-41) yang diterbitkan pada tahun 2017 memperingati ulang tahun ke-25 AMINEF dan ulang tahun ke-65 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah The Ripple Effect: How Fulbright Alumni are Marking Their Mark on the World. Penulis: Margot Cohen. Penerjemah: Anton Kurnia.

    WordPress Video Lightbox