• Jessica Peng

    Jessica Peng

    Jessica Peng

    Memilih kajian internasional, Jessica sebetulnya tidak terlalu yakin dengan jalan masa depannya. Namun, sebuah penugasan English Teaching Assistantship (ETA) dari Fulbright pada 2011–2012 di Kupang, daerah tertinggal di wilayah Indonesia Timur, terbukti menjadi titik balik.

    Memperluas Lingkaran

    Ketika berumur sembilan tahun, Jessica Peng harus belajar bahasa Inggris secepatnya.

    Keluarganya baru saja pindah dari Taiwan ke Amerika Serikat dan dia perlu bekerja keras untuk mengejar kemampuan kawan-kawannya di kelas 4 di Syosset, New York.

    Untunglah, Jessica tidak harus berjuang sendirian. Di kelas, para gurunya memasangkan dia dengan murid-murid cerdas yang membuatnya merasa diterima. Di rumah, ibunya mengandalkan sejumlah besar buku teks untuk mengerjakan PR—kerja tim yang membantu mereka berdua mencapai kemajuan dalam belajar bahasa Inggris. Kelas pagi English as a Second Language (ESL) meningkatkan kepercayaan diri Jessica untuk berbicara dan tidak lagi menggunakan bahasa aslinya, Mandarin. Tak lama, dia sudah lancar berbahasa Inggris. Dan, saat menginjak umur 18 tahun, dia mendapatkan akses untuk mendapatkan pendidikan terbaik di Amerika; dia diterima di Vassar College.

    Memilih kajian internasional, Jessica sebetulnya tidak terlalu yakin dengan jalan masa depannya. Namun, sebuah penugasan English Teaching Assistantship (ETA) dari Fulbright pada 2011–2012 di Kupang, daerah tertinggal di wilayah Indonesia Timur, terbukti menjadi titik balik. Para murid SMA di sana memperkenalkan Jessica pada keragaman budaya di Indonesia Timur, termasuk musik, di antaranya nada-nada yang dimainkan dengan sasando, alat musik petik serupa kecapi yang dibuat dari bambu dan daun lontar. Jessica menjadi amat tertarik dengan semangat mereka untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih tinggi, terutama di pulau Jawa.

    Teringat pengalaman dirinya sendiri dengan migrasi—dan pentingnya menumbuhkan rasa memiliki—Jessica bertanya-tanya bagaimana muridmurid dari timur itu bisa beradaptasi dengan kehidupan baru di universitas, jauh dari keluarga dan tradisi pulau mereka yang nyaman. Beberapa siswa khawatir tentang kemampuan mereka untuk bisa menyesuaikan diri dan berhasil.

    Beasiswa Vassar Maguire yang diterima Jessica membuat dia bisa mengajar bahasa Inggris di dua kampus berbeda di Yogyakarta selama setahun. Di sana dia mendengar keluhan para mahasiswa asal Flores, Sumba, Kalimantan, Timor Barat, dan Papua. Akhirnya, Jessica memutuskan untuk menekuni antropologi pendidikan.

    “Saya memahami pragmatisme dalam bidang pendidikan. Orang melihat bahwa persoalan dipecahkan dengan cara-cara yang nyata dan bisa dicerap,” kata Jessica, 28, yang kini menjalani tahun kedua program doktor di University of Pennsylvania. Dia menghabiskan sebagian besar musim panasnya pada tahun 2017 berdiskusi dengan para ahli pendidikan di Indonesia, mencari tahu kecenderungan dalam pengembangan pendidikan agar topik disertasinya relevan untuk meningkatkan inklusi dan kesempatan.

    Dia menghabiskan sebagian waktunya di Vassar dalam upaya-upaya proaktif untuk berinteraksi dengan para mahasiswa minoritas dan membuat mereka merasa diterima. Sebagai seorang peserta magang perekrutan multibudaya di Vassar’s Office of Admission, Jessica berbicara dengan para lulusan baru universitas yang dianggap potensial melalui telepon dan lalu mengatur kunjungan bermalam. Untuk memudahkan transisi mereka, dia membentuk kelompok advokasi yang memasukkan mahasiswa generasi pertama di keluarga mereka serta para mahasiswa yang berasal dari latar belakang sosial ekonomi kurang beruntung.

    Di Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim, Jessica ditugaskan di SMA Kristen Mercusuar di Kupang, di mana banyak siswanya beragama Kristen. Terbiasa menonton film dan acara TV dengan wajah-wajah bule, mereka tidak mengira seorang perempuan muda Cina datang sebagai guru bahasa Inggris mereka. Namun, tidak dibutuhkan waktu lama bagi Jessica untuk akrab dengan mereka melalui musik pop dan aspek lain budaya anak muda global. Beberapa siswa berbicara terbuka tentang standar kecantikan warna kulit yang mengingatkan Jessica pada masa remajanya.

    Ariyani Manu, guru bahasa Inggris di Mercusuar, mengagumi Jessica karena bisa membuat ruang kelas menjadi tempat yang menyenangkan untuk belajar secara interaktif. Jessica membawa pemanggang roti ke ruang kelas, menjelaskan bagaimana cara membuat roti bakar kacang mentega dan roti lapis selai lalu mengudap roti itu bersama para siswa setelah pelajaran berakhir. “Dia selalu menunjukkan hal baru kepada para siswa,” kenang Ariyani. “Saya belajar banyak tentang budaya Amerika dari dia.”

    Jessica juga mendorong orang-orang Indonesia menjelajahi akar mereka sendiri. Setiap murid diminta menyelesaikan sejarah lisan ringkas tentang keluarganya. Untuk kompetisi WORDS, kegiatan tahunan American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF), dia bekerja sama erat dengan siswa bernama Glenn Saudale untuk memoles pidatonya tentang sejarah Pulau Rote tempat kedua orang tuanya bekerja sebagai dokter. Glenn meningkah kisah Jessica dengan memainkan sasando dan membuat terkesan para juri di Jakarta. Kini Glenn mengambil kuliah kedokteran, dan bahasa Inggrisnya yang bagus sangat berguna dalam pendidikannya.

    Di Yogyakarta, Jessica mengenal Ria Ongabelle, mahasiwi asal Flores yang kuliah di Universitas Sanata Dharma. Seperti diingat Ria, “Saat yang paling mengesankan adalah ketika dia meminta kami menyiapkan presentasi tentang bagaimana kami memandang diri kami sendiri dan apa yang kami senang lakukan ketika orang lain tidak memperhatikan. Sulit berbicara tentang diri sendiri, tetapi dia mendorong kami.”

    Jessica juga meyakinkan Ria untuk mendaftar ke sebuah program yang dikelola AMINEF bernama Global UGRAD yang menyediakan beasiswa satu semester untuk belajar dan melakukan pengayaan budaya di AS. Ria awalnya enggan, merasa bahasa Inggrisnya kurang lancar bila dibandingkan dengan teman-teman kuliahnya. Namun, Jessica menyemangatinya. “Dia bilang saya pemberani dan dia menyukai bagaimana saya aktif di kelas,” kenang Ria. “Dia bilang, ‘Kamu bisa, Ria. Jangan takut.’”

    Ria mendapatkan beasiswa itu pada tahun 2013. Dia ditempatkan di Bennett College, satu kampus liberal arts swasta di Greensboro, North Carolina, yang berkomitmen mendidik para perempuan Afrika Amerika. Ria mengatakan bahwa dia terpukau oleh perhatian terhadap kehidupan orang Afrika Amerika. “Saya bisa mengalami sejarah mereka, budaya mereka, kehidupan sehari-hari mereka, dan melihat betapa mereka berbeda dengan orang kulit putih Amerika,” kata Ria. Ria berbicara tentang pengalaman luar biasanya di lokakarya Global UGRAD di Washington, DC, dan kemudian dia berhasil mengunjungi Jessica di New York pada hari Thanksgiving. Kini Ria bekerja di Jakarta sebagai guru bahasa Inggris di BPK PENABUR, satu jaringan sekolah swasta Protestan.

    Sayangnya, para mahasiswa dari Indonesia Timur hanya menjadi segelintir minoritas di universitas-universitas terbaik di Indonesia. Dalam sebuah makalah akademis, Jessica mengutip penelitian Bank Dunia yang menunjukkan bahwa hanya 2,24 persen dari seluruh mahasiswa yang diterima di lima perguruan negeri terbaik pada 2007 yang berasal dari Indonesia Timur. Kompetisi sangat ketat. Misalnya, pada 2010, hanya terdapat 80.000 kursi di universitas negeri, berbanding dengan 447.000 orang yang mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri. Ketika universitas swasta mencoba mengisi kesenjangan itu, biaya menjadi hambatan.

    Menurut pengamatan Jessica, ini menghambat impian banyak pelajar dari Indonesia Timur. Sebagian harus meninggalkan kampus dan terpaksa bekerja saat keluarga mereka kehabisan sumber biaya dan baru kemudian mencoba melanjutkan sekolah. Di luar persoalan ekonomi, mereka sering mengalami diskriminasi di tempat kos dan dikucilkan oleh teman-teman kuliah mereka yang asli Jawa.

    Jessica mengisahkan bahwa dalam salah satu kuliahnya di Yogyakarta, “Satu-satunya mahasiswa Indonesia Timur selalu dikucilkan dan dicemooh dalam gurauan atau kegiatan lain di kelas.” Dia mengatakan sangat lazim melihat para mahasiswa Indonesia Timur duduk bersama di bagian belakang ruang kuliah dan tampak enggan berbicara dalam perkuliahan. Ketika Indonesia mengupayakan pembangunan lebih cepat di kawasan timur, tantangan untuk menyetarakan bidang pendidikan menjadi kian penting. Seperti diamati Jessica, desentralisasi yang dilakukan setelah era Soeharto membutuhkan kader pegawai negeri sipil lokal yang lebih mumpuni. Lebih banyak kesempatan dibuka untuk pendidikan kejuruan, terutama di tempattempat seperti Papua dan Sulawesi.

    Pada tahun 2015, setelah menyelesaikan gelar master di University of Pennsylvania, Jessica meliput lebih banyak ranah lagi dalam pendidikan Indonesia. Dia terlibat dalam pemantauan dan tim evaluasi untuk Chemonics, sebuah konsultan pembangunan di Washington yang tengah menggarap sebuah proyek lima tahun bernama Higher Education Leadership & Management (HELM) untuk United States Agency for International Development (USAID). Jessica meneliti sejumlah persoalan, termasuk kepemimpinan kaum perempuan dalam pendidikan tinggi dan kemitraan perusahaan/pendidikan untuk mengembangkan keterampilan dalam kewiraswastaan. Sebuah laporan pada tahun 2016 menyatakan bahwa 68 persen lembaga yang ikut serta dalam HELM berhasil mengembangkan prosedur operasional standar dalam bidang keuangan.

    Kesenjangan dalam sistem pendidikan juga ditemukan, termasuk metode pengajaran satu arah, keterbatasan teknologi, dan “budaya kepemimpinan yang telah mengakar yang mengabaikan kaum perempuan dan para mahasiswa generasi pertama dari latar belakang minoritas”—menurut laporan Chemonics.

    Banyak negara menghadapi tantangan serupa. Untuk melanjutkan penelitiannya, Jessica mungkin perlu memilih tempat baru untuk dieksplorasi. Dia pernah bekerja di Vietnam dan Afrika Selatan, dan baru-baru ini menghabiskan waktu di Nepal. Namun, dia terus bolak-balik ke Indonesia dan tim kerjanya yang hangat.

    Last Updated: Apr 18, 2019 @ 3:54 pm

    Artikel ini tampil di buku Efek Riak: Alumni Fulbright Mengukir Jejak di Dunia (halaman 73-77) yang diterbitkan pada tahun 2017 memperingati ulang tahun ke-25 AMINEF dan ulang tahun ke-65 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah The Ripple Effect: How Fulbright Alumni are Marking Their Mark on the World. Penulis: Margot Cohen. Penerjemah: Anton Kurnia.

    WordPress Video Lightbox