• juwono

    Juwono Sudarsono

    LEBIH MEMAHAMI, LEBIH MENCINTAI

    “Dengan datang ke Indonesia, para cendekiawan Amerika bisa lebih memahami dan mencintai sejarah dan tanah airnya sendiri. Mereka akan merasakan semacam nostalgia akan sejarah bangsanya. Kalau diperhatikan Indonesia sedang melewati fase-fase yang dulu pernah dilalui oleh Amerika,” kata Juwono Sudarsono.

    Juwono lahir di Ciamis, Jawa Barat, 1942. Ayahnya, Dr. Sudarsono, pernah menjadi Menteri Sosial ketika Indonesia baru saja merdeka. Juwono percaya, Indonesia dapat diibaratkan sebagai laboratorium yang besar bagi Amerika. “Jadi, para cendekiawan Amerika bisa belajar banyak di sini,” katanya. Juwono sendiri pertama kali ke Amerika, pada 1963 dengan beasiswa United States Information Service (USIS) untuk para tokoh pimpinan mahasiswa. “Ternyata itulah tahun yang paling menyedihkan. Saya menyaksikan dan merasakan sendiri betapa sunyi negeri itu karena saat itulah Presiden Kennedy ditembak di Dallas,” kenangnya.

    Selanjutnya pada tahun 1969 – 1970, Juwono menerima beasiswa Fulbright untuk meraih gelar masternya. Ia belajar di Universitas California di Berkeley bersama tujuh temannya. Mereka bersepakat membentuk kelompok “The Berkeley Eight.” Dalam bahasa Indonesia nama kelompok ini dipelesetkan menjadi “Berkelahi Berdelapan.” Anggota kelompok itu antara lain Gondomono yang belajar Sastra Cina, Soerjono Soekanto belajar Sosiologi, dan dia belajar Ilmu Politik.

    “Kami berdelapan menyebut program studi kami Politics and Chinese Food Studies,” kelakar Juwono lagi. Temannya yang lain adalah James Danandjaja, Harsja Bachtiar, dan Basuki Soehardi yang mengajar di Universitas Indonesia; Imran Manan yang di kemudian hari menjadi Rektor IKIP Medan, dan Budiman Christiananta yang mengajar di Universitas Airlangga, Surabaya. Juwono sendiri pernah menjadi Dekan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia; dan mengajar di Universitas Columbia, New York, 1986 – 1987.

    Selanjutnya ia diangkat menjadi Menteri Negara Lingkungan Hidup pada masa pemerintahan Presiden Soeharto; Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di masa Presiden Habibie, serta Menteri Pertahanan di masa Presiden Abdurahman Wahid dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Di masa Presiden Megawati ia diangkat menjadi Duta Besar di Inggris.

    “Bagi saya, mungkin juga bagi banyak teman, beasiswa Fulbright memberi kesempatan untuk menemukan kepribadian – self discovery – dan proses untuk menjadikan yang terbaik bagi diri kita. Kesempatan belajar di Amerika itu menumbuhkan visi keilmuan,” katanya.

    “Para Fulbrighters Indonesia membuat pengalamannya di Amerika menjadi patokan sejarah pribadinya. Kaitannya adalah siapa yang sedang berada di Gedung Putih pada masa itu. Misalnya, ada penyandang Fulbright pada jaman Eisenhower di tahun 1950-an. Kemudian 1960-an pada masa Kennedy dan Johnson, dan 1970-an jaman Nixon- Ford, Carter. Lalu 1980-an masa Reagan, Bush, Clinton di tahun 1990-an dan seterusnya.”

    juwono1Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Juwono Sudarsono berbicara di Konferensi Fulbright Kawasan Asia Timur-Pasifik di Bali tahun 1999.

    INDONESIA DAN PENGALAMAN FULBRIGHT

    Merupakan kehormatan besar bagi saya untuk berada di sini pagi ini sebagai alumnus program Fulbright di Universitas California di Berkeley pada tahun 1969 – 1970, dan sebagai dosen tamu Fulbright di Universitas Columbia pada tahun 1986 – 1987. Saya ingin berterima kasih dan memuji USIS, AMINEF dan penyelenggara konferensi ini yang telah bekerja keras dalam persiapannya.

    Mungkin ada baiknya menempatkan program pertukaran Fulbright ke dalam perspektif historis, dengan menceriterakan pengalaman pribadi saya sendiri, yang mungkin menarik bagi Anda sebagai pengelola program ini.

    Wakil Duta Besar [Michael] Owens mengatakan dengan benar bahwa Fulbright dimulai dengan sederhana tetapi telah dapat melampaui semua harapan dalam hal efektivitas biaya. Fulbright jelasjelas diakui membawa dampak pendidikan dan budaya yang luar biasa bagi banyak dari kita di Asia Timur. Banyak di antara orang Amerika peserta program ini selama beberapa dasawarsa belakangan memperoleh manfaat yang sangat besar juga darinya.

    Program Fulbright dimulai di awal Perang Dingin, di masa terjadinya persaingan ideologis yang tajam antara Timur dan Barat yang berpusat di kawasan Eropa tetapi secara luas membawa implikasi besar di seluruh Asia Timur dan Pasifik.

    Dari awal tahun 1950-an, formasi aliansi militer AS – mulai dari Jepang, Korea dan Taiwan di Asia Timur Laut ke Filipina dan Muangthai di Asia Tenggara sampai ke Australia dan Selandia Baru di Pasifik Selatan – merumuskan perimeter kepentingan strategis Amerika Serikat.

    Lima puluh tahun kemudian dan setelah berakhirnya Perang Dingin pada tahun 1990, kita semua sekarang terlibat dalam transformasi perimeter pertahanan tersebut menjadi forum regional rekonsiliasi dan kerjasama antara masyarakat dan ide-ide dari beragam budaya dan ideologi. Saya yakin bahwa kelahiran dan pertumbuhan yang berhasil dari ASEAN pada tahun 1967 dan APEC pada tahun 1989 dalam beberapa hal mencerminkan keberhasilan mereka yang menjadi peserta Program Fulbright.

    Fulbright berperan penting dalam mendorong gagasan pertukaran pendidikan dan kebudayaan, baik dengan cara melupakan dan belajar kembali di kedua belah pihak, di Asia Timur serta di Amerika Serikat. Gagasan dari program ini sangat maju jauh melampui masanya, dan kita semua menjadi lebih baik karenanya.

    Pengalaman Fulbright menjadi proses penemuan diri dan realisasi diri untuk banyak pesertanya. Saat ini, Amerika Serikat adalah satu-satunya negara adidaya yang paling komprehensif: secara politik, ekonomi, militer, budaya dan teknologi. Beruntung, sebagian besar para pemimpinnya amat menyadari bahwa untuk memimpin secara efektif, Amerika harus lebih mengandalkan kemampuannya untuk membujuk melalui kekuatan ide-idenya, dinamika budaya dan jangkauan ekonomi domestiknya, yang disokong oleh “generasi Internetnya” yang muda, energik dan berbakat.

    Saya mengunjungi Amerika Serikat pertama kalinya pada bulan Oktober sampai Desember 1963 dengan hibah dari USIS untuk para tokoh pimpinan mahasiswa. Masa itu adalah masa terbaik dan, ternyata, juga masa yang paling menyedihkan. Setiba di San Francisco pada pertengahan Oktober, saya gembira berada di Amerika Serikat pada saat Presiden John F. Kennedy menjadi lambang dari harapan dan semangat banyak orang muda dari generasi saya di Asia dan Pasifik. Namun demikian setelah tragedi di Dallas pada 22 November tahun itu, Amerika Serikat tampaknya jatuh dalam keputusasaan yang menyakitkan. Bagi banyak dari kita sekarang yang berusia di atas lima puluh, dampak mendalam dari pembunuhan Kennedy pada begitu banyak orang di seluruh dunia masih terekam kuat dalam ingatan kita.

    Kebanyakan dari kita sering secara tidak sadar berpikir tentang sejarah dunia yang dikaitkan dengan masa jabatan kepresidenan Amerika. Para penerima beasiswa Fulbright dari Indonesia mengaitkan ingatan masa studi atau penelitian mereka dengan siapa yang berada di Gedung Putih pada saat mereka tinggal di Amerika. Masa Eisenhower di tahun 1950-an, masa Kennedy-Johnson di tahun 1960-an, masa Nixon-Ford-Carter di tahun 1970- an, masa Reagan-Bush di tahun 1980-an dan masa Clinton di tahun 1990-an — hal ini telah menjadi patokan pengalaman hidup kita.

    Begitu banyak dan begitu cepat hal-hal terjadi di Amerika sehingga kita masih merasa kesulitan memahami bagaimana perubahan ini telah membawa dampak pada masyarakat dan budaya kita di Asia Timur. Banyak dari perubahan ini terjadi karena dorongan kuat ekonomi Amerika, jangkauan kuat dari televisi dan film-filmnya, serta gaya hidup konsumen yang memikat terus menerus. Tidak semua perubahan dan pengaruh ini berguna atau bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat kita di Asia Timur. Namun tidak ada yang bisa menyangkal dampaknya yang sangat besar terhadap nilai-nilai, gaya hidup dan pandangan hidup kita, termasuk di bidang-bidang penting tata kelola politik, ekonomi dan sosial.

    Anda akan memahami bahwa pada saat ini dalam sejarah Indonesia, kami merasakan dorongan kuat untuk demokratisasi dan keterbukaan politik menjelang pemilihan umum di Indonesia tanggal 7 Juni nanti. Banyak warga serta organisasi sipil Amerika terlibat dalam membantu Indonesia melalui proses penemuan diri dalam meningkatkan tata kelola politik dan ekonomi negara kami.

    Bagi orang Amerika yang hadir di auditorium ini, asumsi-asumsi dan dasar-dasar demokrasi, masyarakat madani, kebebasan pers dan kebebasan berserikat, merupakan suatu hal yang biasa. Namun, bagi kami di Indonesia, dasar-dasar sosial-ekonomi gerakan masyarakat, pelayanan publik yang efektif dan suksesi politik secara damai tidak dapat dianggap sepele. Bahkan, justru kelemahan – atau bahkan ketiadaan – dari lembaga-lembaga sipil dan ekonomi yang diperlukan ini yang menjadikan demokratisasi politik dan ekonomi sebuah tantangan yang jauh lebih sulit bagi kami….

    Bagaimana pun menakutkan dan sulitnya masalah tersebut, saya tahu bahwa para penerima beasiswa Fulbright dari Indonesia berkomitmen untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut dengan cara mereka masing-masing. Dalam arti penting, Fulbright telah memperkuat harapan kita akan masa depan yang lebih baik dan akan keyakinan kita bersama bahwa meskipun terdapat kesulitan-kesulitan tersebut, pada akhirnya kita bisa dan pasti akan berhasil.

    Teman-teman sebangsa saya yang telah mengecap pengalaman lintas budaya Fulbright sebagai akademisi, sebagai seniman dan penari, sebagai wartawan, sebagai profesional dalam pelayanan publik, perbankan, hukum, akuntansi, ilmu biologi, teknik — memiliki komitmen yang sama dengan saya untuk membangun masyarakat madani yang didasarkan pada partisipasi yang lebih luas yang menyangkut keadilan sosial, kompetensi pendidikan dan ketahanan budaya seluruh rakyat Indonesia di seluruh kepulauan yang luas ini. Atas nama mereka semua, saya mengucapkan terima kasih kepada Program Fulbright karena telah memperkaya kehidupan kami.

    Last Updated: Jun 3, 2019 @ 3:39 pm

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 133 – 135) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox