• maria

    Maria Bodmann

    KEKUATAN DAN KERENDAHAN HATI DALAM BAYANGAN

    Pengalaman Fulbright benar-benar mengubah hidup saya. Saya menciptakan alat musik nontradisional ketika duduk di program S-1 di Institut Kesenian California (CalArts). Sewaku kuliah di program pascasarjana, kunjungan ke Bali sebagai akademisi Fulbright membawa saya ke arah yang sama sekali berbeda. Saya temukan bahwa wayang merupakan media yang sempurna buat saya karena wayang menggabungkan semua seni, dan saya memang suka melakukan banyak hal pada waktu bersamaan.

    Berdiam di Bali membantu saya memusatkan perhatian dan menuntun saya untuk mewujudkan impian menjadi seorang seniman mandiri. Saya sudah lama tertarik pada seni Indonesia; CalArts memiliki tradisi gamelan yang besar, jadi saya sudah mendengarnya setiap hari. Hal ini menarik saya, memikat saya, dan ketika semakin terlibat di dalamnya, saya menyaksikan adanya suatu keterampilan yang luar biasa. Dan saya suka karena mereka tidak memisahkan masyarakat dari para musisi dan bagaimana mereka mengintegrasikan seni – teater memerlukan iringan musik.

    Saya belajar di Sukawati, Bali, selama dua tahun. Mereka adalah kelompok pengiring wayang terhebat. Saya belajar musik dengan orang terbaik yang bisa Anda bayangkan, dan terus belajar di bawah bimbingan beliau sampai wafat tahun 2006. Sekarang saya belajar dengan keponakannya. Guru wayang saya adalah keponakannya yang lain lagi, jadi semuanya berasal dari satu keluarga besar, yang lebih rumit dari keluarga di kisah Mahabharata! Di desa tempat tinggal dalang terkenal ini, saya belajar tentang kerendahan hati. Ketika saya baru datang, guru wayang saya ini orangnya pemalu, ramah, pria manis yang mengajar di STSI, yang beberapa bulan kemudian, saya saksikan naik ke atas panggung – dan tiba-tiba muncullah segi memukau dari seniman ini. Dia memiliki tasku, kekuatan spiritual yang besar. Dari sini saya belajar bahwa jauh lebih penting membiarkan tasku keluar pada waktu yang tepat dan pada kesempatan lain hendaklah orang bersikap rendah hati.

    Saya bersama mitra musik saya Cliff DeArment mendirikan kelompok Bali & Beyond pada tahun 1990. Misi kami adalah mempromosikan musik, teater, dan budaya Bali. Kami sudah tampil dan mengajar di seluruh penjuru Amerika Serikat – di perguruan tinggi, festival, museum, kebun binatang – pokoknya di mana saja. Selama 20 tahun, setiap musim panas kami mengajar 60 siswa SMA bermain gamelan. Selama bertahun-tahun antara kegiatan mengajar siswa-siswa tadi dan orang-orang yang menonton pementasan kami, puluhan ribu orang telah memperoleh kesempatan menikmati musik gamelan. Dan tanggapan orang telah berubah sesuai dengan berjalannya waktu.

    Pada awal tahun 1990-an, orang tidak mengenal gamelan; sekarang sudah banyak yang mengenalnya. Ketika pentas, kami melakukannya dalam bahasa Inggris dan Kawi, dan penonton sering mengatakan bahwa mereka bahagia sekali dapat mengikuti jalan ceritanya. Para wisatawan datang berkunjung ke Indonesia dan menikmati pertunjukan wayang, tapi sering kali mereka tidak tahu persis jalan ceriteranya.

    Sebagian dari tujuan saya adalah untuk mempelajari wayang tradisional selengkap mungkin sehingga saya nantinya mampu “dengan cerdas” menciptakan wayang Barat. Setelah 10 tahun memainkan wayang tradisional, akhirnya pada tahun 1998 terciptalah: “Alice in the Shadows,” pertunjukan wayang rock ‘n’ roll gilaku. Proyekproyekku yang lain termasuk pembuatan wayang untuk Disney Hollywood Pictures, Warner Brothers, dan “Images of Singapore” di Pulau Sentosa. Baru-baru ini mimpi saya yang lain menjadi kenyataan ketika saya membawa rombongan ke Bali untuk belajar seni pertunjukan. Kami tinggal di istana Sukawati dan guru wayang saya dan keluarganya mengajar kami wayang, gamelan, dan tari. Saya berharap acara ini dapat dijadikan kegiatan tahunan!

    Saya sangat bersyukur menjadi akademisi Fulbright. Dalam beberapa hal, pengalaman tersebut tidak pernah berakhir. Saya terus-menerus mengurung diri saya dengan Bali – di rumah, di saat pentas dan mengajar, dan terutama dalam mimpi-mimpi saya. Saya pergi ke sana sesering mungkin agar dapat terus mempelajari musik serta cerita-cerita dan juga untuk tampil di upacara-upacara keagamaan. Saya tetap berhubungan secara online dengan “generasi muda” dan menelepon guru musik saya setiap bulan. Sebagai anak tunggal dengan orang tua yang sudah tiada, saya memiliki keluarga yang jauh lebih besar di Bali daripada yang di Amerika Serikat. Setiap kali ke Sukawati, rasanya seperti saya mau pulang ke rumah.

    Last Updated: Jun 3, 2019 @ 3:41 pm

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 142 – 144) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox