• melani

    Melani Budianta

    TEORI DAN PRAKTIK MULTIKULTUR

    Melani Budianta dua kali menerima beasiswa Fulbright. Pertama kali pada tahun 1980 – 1981 untuk menyelesaikan program master di Universitas Southern California (USC), Los Angeles. Kedua kalinya antara 1988 – 1992 ketika mengambil program doktornya di Universitas Cornell, Ithaca.

    “Beasiswa Fulbright mengubah hidup saya. Yang utama, saya mendapat dasar kokoh untuk membangun pengetahuan sastra dan budaya — melalui kajian Amerika di tahun 1980an dan Sastra Inggris-Amerika di tahun 1990an.” Begitu kata lulusan Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, yang kemudian bekerja sebagai dosen di almamaternya.

    “Berkat beasiswa Fulbright saya dapat belajar tentang Amerika bukan hanya dari buku dan film, tapi langsung melalui interaksi dengan orang Amerika di negeri mereka. Dengan tinggal di daerah kumuh di sekitar kampus mewah USC di antara kelompok geng etnis Hispanik dan AfroAmerika, dikunjungi murid-murid sekte Moon, saya secara langsung mengalami dinamika demokrasi dan keragaman di Amerika Serikat.

    “Teori dan praktik multikulturalisme yang saya alami di Amerika di tahun 1990an membantu saya menggeluti persoalan yang sama dalam menghadapi persoalan keragaman di Indonesia. Amerika menjadi cermin bolak-balik – melihat Amerika sekaligus merefleksikan apa yang terjadi di Indonesia, dan sebaliknya.”

    Di antara tahun 1980an sampai 1990an, ketika Melani mendalami permasalahan keragaman di Amerika yang tercermin pada sastra dan konteks budayanya, kebijakan sentralistik dan sensor telah menekan ekspresi keragaman di Indonesia. Ada kebijakan SARA (suku–agama–ras–antar golongan) yang pada intinya bertujuan meredam atau membatasi pembahasan mengenai masalah-masalah kesukuan, agama, ras, dan antar golongan yang waktu dianggap teramat peka.

    Melalui diskusi atas karya sastra Amerika, Melani membuka ruang bagi para mahasiswanya untuk membahas persoalan yang pada awal 1990-an tidak boleh disuarakan secara kritis di Indonesia. Ketika membaca novel Maxine Hong Kingston, misalnya, mahasiswa bertanya mengapa pengalaman diskriminasi rasial tidak muncul dalam novel yang ditulis oleh sastrawan Indonesia keturunan Tionghoa.

    Dalam konteks yang agak berbeda, di Amerika Serikat orang mulai resah terhadap gerakan anti-rasisme yang dianggap menyebabkan demam “political correctness” di masyarakat. Di perumahan mahasiswa di Ithaca, Melani – yang keturunan Tionghoa – sempat merasakan atmosfir tersebut ketika suatu sore ia dipanggil oleh manajer apartemen karena anak laki-laki Melani yang berusia empat tahun dituduh telah mengeluarkan ucapan bernada rasis terhadap seorang tetangga dari Cina.

    Pengalaman sehari-hari bagi Melani adalah suatu yang sangat berharga dalam meningkatkan pemahaman lintas budaya. Itu sebabnya, menurut Melani, “sukses Fulbright tidak hanya diukur dari banyaknya pemimpin dan intelektual terkemuka yang tumbuh dari persemaian program Fulbright, tetapi juga dari berbagai dampak yang tidak kasat mata: interaksi interpersonal yang mengoreksi stereotip Amerika di media massa, pengalaman Amerika bagi anak-anak dan pasangan hidup alumni Fulbright yang membawa keluarganya ke Amerika.”

    Sebaliknya, pendekatan sosial budaya yang dilakukan keluarga Indonesia di Amerika maupun sebaliknya adalah buah pertukaran program Fulbright yang paling nyata. Untuk mengoreksi stereotip tentang Islam di mata teman-teman sekelas di Ithaca, putri sulung Melani yang berusia 10 tahun berinisiatif untuk membagikan pengetahuan dan pengalamannya sebagai minoritas yang hidup di tengah masyarakat Islam yang moderat di Indonesia. Bagi Melani, para alumni Fulbright, baik dari Indonesia maupun Amerika—beserta keluarganya telah ikut berperan sebagai jembatan lintas budaya.

    “Program Fulbright bukan hanya telah meningkatkan jumlah dan kualitas sumberdaya manusia Indonesia, tetapi juga telah membangun jembatan antar budaya yang terus berlanjut di masa depan. Berkat program Fulbright, bangsa Indonesia dan Amerika mendapat duta antar-budaya. Indonesia beruntung mendapat, misalnya, Janet Steele, seorang dosen tamu di Kajian Wilayah Amerika di Universitas Indonesia yang akhirnya berkembang menjadi pakar media Indonesia. Amerika mempunyai Paul Lauter, guru besar terkemuka Kajian Wilayah dan Kesusasteraan Amerika di Trinity College di Hartford, Connecticut, yang melalui berbagai kunjungan dan lokakarya yang diadakannya telah merajut jejaring Kajian Wilayah Amerika lintas negara dan kawasan.”

    Lebih dari itu, Melani melihat “multiplier effect” dalam peningkatan proses produksi pengetahuan di Indonesia dan juga di Amerika. “Perlu disimak juga berbagai modul, mata kuliah, program-program baru yang digagas para alumni Fulbright dari Indonesia maupun Amerika – dan para mahasiswa yang menikmatinya. Melani berharap program Fulbright terus ditingkatkan di berbagai ranah, termasuk seni, sastra dan budaya.

    Last Updated: Jun 3, 2019 @ 4:00 pm

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 155 – 158) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox