• Mengajar Sekaligus Jadi Mahasiswa di Harvard

    rahmawati-bustamam-penerima-beasiswa-fulbright-program-flta-foreign-language-teaching-assistant

    OLEH RAHMAWATI BUSTAMAM, penerima Beasiswa Fulbright program FLTA (Foreign Language Teaching Assistant) tahun 2018-2019 di Harvard Kennedy School, Harvard University, USA, melaporkan dari Amerika Serikat

    Baru-baru ini saya mendapatkan e-mail dari website beasiswa langganan saya tentang program beasiswa yang sedang saya ikuti sekarang sudah dibuka lagi. Beasiswa tersebut adalah beasiswa Fulbright program Foreign Language Teaching Assistant (FLTA). Ini merupakan program nondegree untuk mengajar bahasa Indonesia dan juga belajar di kampus-kampus yang ada di Amerika Serikat selama satu tahun akademik atau sembilan bulan.

    Salah satu syarat utama untuk mengikuti program ini adalah mempunyai pengalaman mengajar bahasa Inggris atau BIPA selama setahun. Saya sendiri adalah penerima beasiswa tersebut di Harvard Kennedy School, Harvard University, tahun 2018-2019. Oleh karena itu, saya ingin sekali menceritakan pengalaman saya menjalani program ini yang akan berakhir bulan Mei 2019.

    Program beasiswa ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, tapi baru tiga putri Aceh yang mengikutinya. Dua grantees (penerima beasiswa) sebelum saya bahkan mengikutinya sebelum tsunami Aceh dan mereka lulus di Johns Hopkins University dan Carrol College. Saya kurang tahu mengapa sedikit sekali grantees yang berasal dari Aceh. Apakah karena kurangnya informasi tentang beasiswa ini? Ataukah karena kurangnya minat atau banyak yang mencoba tapi tidak lulus seleksi? Jika jawabannya karena kurangnya minat, sangat disayangkan karena program ini sangat menarik. Jarang-jarang orang Indonesia bisa mengajar di kampus-kampus di Amerika, apalagi kampus terkenal, seperti Universitas Harvard, Columbia, dan Yale.

    Dengan mengikuti program ini Anda bisa melakukannya sekaligus merasakan menjadi mahasiswa di kampus itu. Mungkin dengan mendengar cerita saya, bisa jadi Anda akan lebih termotivasi untuk mengikuti program ini yang pendaftarannya akan ditutup 15 April 2019.

    Di Harvard Kennedy School, tepatnya di Ash Center for Democratic Governance and Innovation, saya menjadi pengajar utama untuk kelas bahasa Indonesia. Nah, bagusnya program FLTA di Harvard ini adalah mengajar untuk kelas audit, artinya bukan kelas wajib atau kredit. Oleh karena itu, guru tidak perlu sibuk untuk mengadakan ujian akhir dan siswa yang mengikutinya pun tidak akan mendapatkan nilai pada akhirnya. Tentu saja program FLTA di Harvard tidak sama dengan program di kampus yang lain, yang FLTA mengajar di kelas kredit bahasa Indonesia.

    Sejauh ini saya sudah memiliki 16 siswa dengan kemampuan bahasa Indonesia yang berbeda-beda. Ada yang masih pemula bahkan ada yang sudah lancar seperti orang Indonesia pada umumnya. Kebanyakannya, mereka mempelajari bahasa ini untuk penelitian, pekerjaan, atau melawat ke Indonesia. Karena kelas ini terbuka untuk umum, jadi tidak semua siswa berasal dari Kampus Harvard. Ada juga dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Tufts University.

    Akan tetapi, semuanya begitu antusias untuk mempelajarinya. Bahkan ada satu siswa yang sudah berumur 60-an dan berprofesi sebagai dokter, tapi masih sangat semangat mengikuti pelajaran dan tak menolak saat diberi pekerjaan rumah (PR). Ada juga seorang siswa yang saking tertariknya dengan bahasa Indonesia, dia telah mempelajarinya sendiri selama satu tahun sebelum mengikuti kelas ini.

    Selama mengajar saya sering sekali mendapatkan pertanyaan-pertanyaan tentang politik, hak asasi manusia, budaya, dan agama di Indonesia, khususnya di Aceh. Dengan berita yang terkadang tidak sesuai dengan kenyataan, saya senang sekali bisa menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Misalnya, tentang penerapan syariah Islam di Aceh yang kebanyakan orang berpikir bahwa itu diberlakukan juga untuk yang nonmuslim. Padahal tidak. Sering juga saya mendapatkan pertanyaan tentang pemilu dan calon presiden karena beberapa siswa saya ingin meneliti tentang itu. Tentu saja saya harus bersikap netral dan tidak boleh menunjukkan siapa yang saya dukung. Menghadapi berbagai pertanyaan tersebut, membuat saya harus banyak membaca dan terus mengikuti perkembangan isu terbaru apa saja di Indonesia.

    Di satu sisi saya menjadi guru, di sisi lain saya menjadi mahasiswa. Akan tetapi, saya hanya boleh mengaudit mata kuliah di sini. Artinya, saya hanya harus menghadiri kelas tanpa mengerjakan tugas apa pun, termasuk mengikuti ujian akhir.

    Sebaliknya, ada juga profesor yang mewajibkan saya untuk membaca materi kuliah agar saya bisa ikut dalam diskusi kelas atau kelompok. Materi yang harus saya baca itu cukup banyak dan belum tentu bisa saya pahami dalam sekali baca. Kemudian, di kelas pun sang profesor bertanya pendapat mahasiswanya tentang materi yang dibaca bukan bertanya isi materi tersebut. Jadi, di sini membaca kritis itu sangat diperlukan, bukan membaca untuk menghafal. Sang profesor akan lebih menyukai jika kita bisa berargumen tentang apa yang sudah kita baca.

    Menariknya, di Harvard dan mungkin kebanyakan kampus lainnya di Amerika, mereka mempunyai teaching fellow. Bisa di katakan seperti asdos (asisten dosen) di tempat kita. Hanya saja setiap professor di sini mempunyai teaching fellow yang rata-ratanya adalah kandidat PhD. Merekalah yang akan membantu profesornya dalam mengajar, mengisi nilai, memeriksa tugas, dan lain-lain. Setiap profesor dan teaching felow juga mempunyai office hours. Itu adalah masa tidak mengajar mereka dan bisa dimanfaatkan bagi mahasiswa untuk berkonsultasi tentang materi kuliah atau tugas. Jadi, ini akan sangat membantu mahasiswa terutama bagi yang mengalami kesulitan.

    Selain mengajar bahasa Indonesia dan mengaudit mata kuliah, saya juga berkesempatan untuk memperkenalkan tentang Indonesia melalui presentasi dan ajang seni kebudayaan. Baru-baru ini saya menyampaikan presentasi tentang Indonesia dan juga makanannya di Ash Center. Semua yang hadir sangat antusias dalam mendengarnya dan saya mendapatkan banyak pertanyaan, terutama yang berhubungan dengan politik. Ahamdulillah, saya sudah biasa menjawab pertanyaan dari siswa, jadi saya punya bekal. Mereka juga sangat menikmati makanan yang saya siapkan. Ada lincah, martabak manis, siomay, boh rom-rom, dan bakwan. Semuanya ludes! Hehehe.

    Dalam bidang kesenian, saya terlibat aktif di salah satu grup tari yang baru saja dirintis, yaitu Boston Cenderawasih. Pesertanya sendiri kebanyakan adalah mahasiswa Harvard dan MIT. Sejauh ini kami telah tampil dua kali di Boston. Insyaallah kami pun sedang mempersiapkan untuk penampilan berikutnya di bulan Mei. Sebelumnya pun, saya dan sembilan FLTA lainnya dari Indonesia juga terpilih untuk menampilkan salah satu tarian dari Aceh (likok pulo) di Fulbright FLTA Mid-Year Conference di Washington DC yang dihadiri oleh 405 FLTA dari 55 negara.

    Itulah sekelumit kisah saya, semoga bisa menginspirasi Anda semua. Sungguh, ini adalah program beasiswa penuh yang sangat menarik. Sayang sekali jika diabaikan. Bonusnya, Anda bisa keliling Amerika juga. Jika tertarik, silakan baca informasi lebih lanjut di website AMINEF, https://www.aminef.or.id/.

    This article originally appeared in serambinews.com on March 11, 2019

    Rahmawati is 2018 Fulbright FLTA fellow teaching Indonesian language at Harvard Kennedy School, Harvard University.

    For more of Rahmawati’s experience with the Fulbright – Badan Bahasa FLTA P​rogram

    Last Updated: Apr 5, 2019 @ 6:38 am

    WordPress Video Lightbox