i̇şlek caddelere ve kafelerin olduğu kalabalık bir yere sikiş taşınmak isteyen genç çift bekar hayatı yaşadıkları porno huzurlu evlerinden daha sosyal imkanları olan bir porno izle mahalleye taşınmak isterler bu fikri sonrasında anal porno anında soyunmaya başlayan abla dediği kadını görünce yıllarca porno izle abla dememiş gibi onu tek celsede sikerek abla kardeş sex izle ilişkisine yüksek seks mahkemesinin kararıyla son brazzers verirler üvey kardeşlerin şehvetle sikiştiğini gören porno video mature ise boş durmaz ve onların bu eğlenceli ensest sikişmelerine kendisi konulu porno de dahil olur yine bir gün elinde poşetlerle eve gelir ders sex izle çalışmakta olan üvey oğluna yeni iç çamaşırlar aldığını bunları porno babasından önce ona göstermek istediğini söyler

Merayakan Idul Adha di Amerika Serikat, Masih di Tengah Pandemi

Suasana salat Idul Adha di Temple Mosque, tak jauh dari Arizona State University, Amerika Serikat pada tahun ini. Meski relatif lebih longgar dibandingkan perayaan Idul Fitri, salat berjamaah dilakukan dengan tetap menjaga jarak. (Foto: Fiodesy Gemilang Putri)

 

BandungBergerak.id – Perayaan Idul Adha 1442 Hijriah tahun ini terasa sangat berbeda dari biasanya. Tanpa suasana takbir yang terdengar dari masjid di dekat rumah, dan juga tanpa keluarga serta sanak saudara. Namun alhamdulillah, perayaan tahun ini tetap terasa berkesan karena kehadiran keluarga baru di lingkungan baru.

Nama saya Fiodesy Gemilang Putri. Teman-teman biasa memanggil saya Fio. Saya saat ini saya sedang menempuh studi magister di Arizona State University, Arizona, AS, dengan mengambil jurusan aviation human factors. Saya berasal dari Bogor, sempat bekerja di PT Dirgantara Indonesia setelah lulus S1 dari Institut Teknologi Bandung (ITB), sebelum akhirnya melanjutkan studi S2 saya di sini dengan didanai oleh Fulbright scholarship.

Saya memulai kuliah semester pertama pada Agustus 2020 secara daring dari Indonesia. Pandemi Covid-19 membuat saya tidak mungkin berangkat ke AS. Baru pada Desember 2020 saya berkesempatan untuk berangkat ke Amerika untuk memulai semester kedua.

Jumlah Fulbrighter Indonesia di Arizona State University tidak banyak, kurang dari sepuluh orang. Beberapa di antara kami ada yang telah memboyong keluarga mereka ke sini. Para mahasiswa lajang, dan mereka yang tidak membawa keluarga, berkumpul di satu kompleks apartemen tidak jauh dari kampus agar dapat saling membantu jika terdapat kesulitan. Saya sendiri tinggal dengan salah satu Fulbrighter dari Kazakhstan. Tetangga kami berasal dari Pakistan, Meksiko, dan masih banyak negara lainnya. Sungguh sebuah anugerah karena saya dipertemukan dengan teman-teman baru.

Salah satu hal yang menyenangkan dari Arizona State University, khususnya Tempe Campus, adalah keberadaan masjid besar di depan kampus kami yang juga berlokasi dekat dengan gereja. Masjid tersebut bernama Tempe Mosque, yang merupakan bagian dari Tempe Islamic Community Center (ICC). Sebelum berangkat ke AS, senior di sini bercerita bahwa ICC sering mengadakan kegiatan keagamaan dan juga jamuan untuk pelajar-pelajar internasional.

Namun sayang sekali, saat saya tiba di sini, kegiatan tatap muka sedang dilarang karena pandemi. Baru dalam Ramadan kemarin, kegiatan salat tarawih secara langsung kembali diadakan, namun dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Umat harus mendaftar secara daring untuk bisa mendapat slot salat berjamaah. Hal yang sama pun berlaku saat salat Idul Fitri lalu.

Untuk perayaan Idul Adha tahun ini, protokol kesehatan tidak seketat sebelumnya karena rata-rata masyarakat di Tempe dan Phoenix telah divaksin. Salat Idul Adha berjamaah dilaksanakan dalam dua kloter. Saya dan teman-teman Fulbrighter Indonesia memilih kloter terpagi karena tidak ingin terpapar sinar matahari khas Phoenix jika lewat pukul 08.00 pagi. Musim panas di Arizona ini benar-benar menyengat, bahkan ada hari-hari di mana suhu mencapai lebih dari 43 derajat Celcius.

Kloter pertama tidak begitu ramai. Terlihat beberapa wajah yang telah kenal, seperti keluarga muslim dan sesama mahasiswa internasional dari Pakistan, Turki, dan Ghana.

Suasana Kekeluargaan

Setelah Salat Idul Adha, kami mengadakan silaturahim sambil potluck (membawa makanan khas masing-masing) di salah satu unit apartemen kami. Ada yang membawa sambal goreng ati, nasi biryani, dan kue lumpur. Setelah perayaan dengan rekan-rekan Fulbright Indonesia, saya dan beberapa teman mengunjungi salah satu keluarga muslim Turki yang tinggal di Amerika Serikat. Kami disuguhi hidangan khas Turki yang sangat menggugah selera. Idul Adha di Arizona pun jadi terasa seperti di Indonesia karena kami disuguhi makanan tanpa henti.

Salah satu perayaan Idul Adha yang umum terlihat di Indonesia adalah pemotongan hewan kurban di belakang masjid setelah salat. Di Amerika, masjid tidak melakukan pemotongan hewan kurban secara langsung. Pemotongan hewan kurban dilakukan di slaughterhouse (rumah pemotongan hewan) dengan prosedur tersendiri sebelum kemudian didistribusikan. Pemotongan hewan kurban di pekarangan rumah atau gedung dilarang karena limbahnya, khususnya darah hewan, ditakutkan mencemari air dan tanah.

Namun, kegiatan pengumpulan dana untuk kurban dilaksanakan juga di sini. Ada lembaga-lembaga di Amerika Serikat yang mengelola pendistribusian hewan kurban, seperti ICC salah satunya, dan ada juga lembaga cabang Indonesia yang mengumpulkan dana untuk pemotongan hewan kurban di Indonesia.

Perayaan Idul Adha di Amerika Serikat memang berbeda dibandingkan dengan perayaan di Indonesia, namun hangatnya suasana kekeluargaan tetap ada. Bagi saya, makna Idul Adha sebagai momen untuk berbagi, berkorban, dan belajar tentang keikhlasan, tetap terasa di tempat yang beribu kilometer jauhnya dari Ibu Pertiwi.

Demikianlah, studi saya ini, insyaallah membuat saya mampu meningkatkan keikhlasan dan ketakwaan sebagai hamba Allah SWT.

WordPress Video Lightbox