• Michael Sheridan

    Michael Sheridan

    SUARA MEREKA SENDIRI

    Satu hal yang Indonesia dan Fulbright telah berikan kepada saya adalah ruang dan waktu untuk benarbenar memikirkan dan mengembangkan apa yang ingin saya lakukan dalam bidang film, bagaimana saya memproduksi film, dan apa peran dari film itu dalam perubahan sosial. Pada saat saya mengajar di ITB saya benar-benar mulai mengumpulkan gagasan tentang cara mengintegrasikan praktik mengajar dan pembuatan film saya, gagasangagasan yang telah saya rumuskan sepanjang 20 tahun karir saya membuat film dan mengajar. Saya ingin melatih penduduk setempat cara-cara pembuatan film sehingga suara mereka sendiri akan dapat terdengar dan mempengaruhi opini dan kegiatan global, terutama di sekitar isu-isu pembangunan sosial dan ekonomi.

    Sebenarnya, demam berdarah ikut berperan dalam hal ini. Saya terserang demam berdarah di Bandung, dan itulah untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun berlalu saya dipaksa untuk beristirahat.

    Penyakit ini memaksa saya tinggal di tempat tidur dan tidak bergerak selama seminggu. Saya lebih sakit daripada yang pernah saya alami. Tapi saya punya banyak waktu karenanya untuk memikirkan banyak hal, dan pada akhirnya, semuanya tadi memadat di kepala saya dan saya berpikir: ini sangat teramat sehat. Ternyata sakitku itu menjadi sangat berguna. Saya akhirnya menulis sebuah risalah tentang unsur-unsur film yang partisipatif, unsurunsur pelatihan, dan unsur-unsur keterlibatan publik melalui film yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu proyek, dan saya mulai mengembangkan sebuah model baru pembuatan film yang melibatkan masyarakat. Terinspirasi oleh model pertanian yang didukung komunitas, film yang didukung komunitas akan menerapkan prinsip investasi langsung pada orang di lapangan untuk mendukung produksi film berkualitas tinggi dari perspektif lingkungan setempat.

    Para mahasiswa di ITB luar biasa. Mereka sangat cerdas, begitu terlibat dalam pekerjaan kreatif mereka, dan ada sebuah dunia video eksperimental bawah tanah yang begitu bersemangat di sana. Yang paling menonjol tahun itu adalah pameran di mana kami gabungkan video, suara, dan seni instalasi eksperimental. Benar-benar mendebarkan. Itu benar-benar menjadi pengalaman indah bekerja dengan sekelompok mahasiswa dan alumni yang luar biasa, yang dengan cerdik diarahkan oleh dekan Biranul Anas Zaman, dan Profesor Deden-Hendan Durahman, menjadi bidang baru kreativitas yang membantu dimulainya sebuah pendekatan yang lebih luas atas mata kuliah dan kurikulum. Ini adalah pameran video dan seni suara mahasiswa pertama di universitas tersebut yang diselenggarakan di Galeri Soemardja yang bergengsi, dan diterima dengan baik oleh universitas, para staf pengajar, dan komunitas seni lokal.

    Sebelum itu, saya mengajar selama satu semester di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Salah satu hasil terbaik dari masa penugasan saya di sana adalah film videosonic berjudul “Mie Instan” bekerja sama dengan Pak Sardono Kusomo, dekan, dan Yola Yulfianti, seorang koreografer dan penari terkenal yang merupakan anggota kelompok tari Sardono.

    Film ini menyandingkan masalah konsumsi dan kerusakan lingkungan. Film ini ditayangkan di Amerika Serikat, pada saat yang bersamaan dengan Konferensi Bali tentang pemanasan global, sebagai bagian dari pameran bertajuk “Keserakahan, Rasa Bersalah dan Pergulatan; Enam Seniman Menanggapi Perubahan Iklim.” Sardono sendiri sudah bertahun-tahun bekerja sama dengan masyarakat yang tinggal di hutan. Sangatlah inspiratif melihat bagaimana ia melibatkan masyarakat dalam proses penciptaan seni dan kemudian menghasilkan karya pertunjukan bertemakan isu-isu hutan.

    Dari pengalaman ini berkembanglah apa yang telah menjadi pekerjaan saya, organisasi nirlaba yang baru berdiri bernama Community Supported Film (CSFilm). Organisasi ini lahir dari gagasan bahwa perspektif lokal sangatlah penting, jika kita ingin membuat keputusan yang tepat tentang cara membantu orang dalam proses pembangunan sosial ekonomi mereka. Hal ini mendorong apa yang saya tengah saya kerjakan di Afghanistan, yaitu bekerja dengan orang-orang setempat dan melatih mereka membuat film dokumenter dan video jurnalistik. Film-film yang mereka buat ditayangkan dalam puluhan pemutaran dan presentasi mulai dari acara briefings di Kongres AS sampai ke festival-festival film internasional. Kami punya rencana juga melatih masyarakat setempat dalam pembuatan film di Haiti. Saya ingin sekali kembali ke Indonesia suatu hari nanti dan mengembangkan program CSFilm.

    Fulbright saya di Indonesia memberikan landasan yang kuat untuk mengintegrasikan pengalaman dan kegemaran saya dalam pembuatan film dan mengajar. Konteks dan waktu yang disediakan dalam kesempatan ini memperluas perspektif saya dan menciptakan jalur untuk sepenuhnya mengembangkan CSFilm dan kegiatan pentingnya dalam menggunakan media sebagai alat untuk membantu membangun dunia yang lebih damai dan adil.

    Last Updated: Jun 3, 2019 @ 4:06 pm

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 159– 161) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox