i̇şlek caddelere ve kafelerin olduğu kalabalık bir yere sikiş taşınmak isteyen genç çift bekar hayatı yaşadıkları porno huzurlu evlerinden daha sosyal imkanları olan bir porno izle mahalleye taşınmak isterler bu fikri sonrasında anal porno anında soyunmaya başlayan abla dediği kadını görünce yıllarca porno izle abla dememiş gibi onu tek celsede sikerek abla kardeş sex izle ilişkisine yüksek seks mahkemesinin kararıyla son brazzers verirler üvey kardeşlerin şehvetle sikiştiğini gören porno video mature ise boş durmaz ve onların bu eğlenceli ensest sikişmelerine kendisi konulu porno de dahil olur yine bir gün elinde poşetlerle eve gelir ders sex izle çalışmakta olan üvey oğluna yeni iç çamaşırlar aldığını bunları porno babasından önce ona göstermek istediğini söyler

J Stephen Lansing, Pola Pengetahuan di Balik Kompleksitas Budaya Indonesia

Prof J Stephen Lansing (72). Antropolog Complexity Science Hub Vienna dan Santa Fe Institute. | KOMPAS/AHMAD ARIF

Indonesia telah mengubah jalan hidup J Stephen Lansing (72). Sebagai mahasiswa sarjana fisika, kekayaan budaya di Bali telah memikat dan mengalihkannya ke bidang studi antroplogi hingga menjadikannya sebagai profesor yang memelopori teori kompleksitas dalam ilmu sosial.

Steve, demikian biasa dia dipanggil, masih 21 tahun saat ayahnya, John Lansing (50), Kepala Jurusan Ekonomi Universitas Michigan, Amerika Serikat, meninggal karena kanker otak. ”Saya kecewa, ingin pergi jauh. Kebetulan, di kampus ada pengumuman beasiswa ke luar negeri selama enam bulan,” katanya.

Steve yang saat itu menjadi mahasiswa Jurusan Fisika semester tiga di Wesleyan University langsung mendaftar dan memilih Bali, yang pernah dibacanya selintas. Maret 1971, dia mulai di Bali. ”Saya tinggal di rumah Ida Bagus Sudiasa, brahmana di Sanur, yang juga mengerti antropologi,” katanya.

Dari Sudiasa, Steve mengenal dan tertarik tentang budaya Bali dan juga antropologi. Maka, begitu meraih diploma, dia melanjutkan kuliah di Jurusan Antropologi Universitas Michigan. Tahun 1974-1976, Steve kembali ke Bali untuk penelitian doktoralnya tentang kaitan antara sejarah, agama, dan kesenian di Bali. Kali ini dia menetap di Puri Sukawati.

Sekembalinya di AS, Steve mendapat undangan dari antropolog ahli Indonesia, Clifford Gertz, untuk menjadi penulis disertasinya di Institute for Advanced Study (IAS) di Princeton. Sejumlah ilmuwan kesohor dunia pernah menjadi fellow IAS, di antaranya Albert Einstein, J Robert Oppenheimer, John bon Neumann, dan banyak lagi.

Steve akhirnya menerima doktor antropologi dari University of Michigan pada 1977. Dia kemudian memulai karier profesionalnya di University of Southern California hingga menjadi profesor di bidang antropologi.

Pada 1979, Steve kembali ke Bali untuk mengikuti Eka Dasa Rudra, sebuah ritual langka 100 tahun sekali. ”Saya diminta menjadi pimpinan tim dokumentasi dari kampus tentang acara ini,” ujarnya.

Setelah itu, Steve, yang telah menguasai bahasa Bali, semakin terpikat dengan pulau itu. Salah satu yang paling menariknya adalah tradisi subak Bali, yang saat itu menghadapi tekanan Revolusi Hijau. ”Petani Bali saat itu dipaksa mengabaikan pola tanam yang dijadwalkan pura dan diminta menanam padi sesering mungkin untuk meningkatkan hasil. Hal itu menyebabkan guncangan. Terjadi gagal panen dan ancaman kelaparan,” ujarnya.

Dinamika subak

Steve kemudian mendalami sistem subak di Bali. Dia berupaya menemukan kunci keberhasilan pengelolaan air dan pertanian padi di masa lalu. Ia memulai dengan membaca catatan sejarah tentang para petani Bali yang mulai menggali terowongan dan kanal 1.000 tahun yang lalu.

Dia juga memetakan jejaring irigasi sejak dari danau di Gunung Batur yang mengairi sawah-sawah di lereng gunung ini hingga ke pantai hingga membentuk komunitas subak. Rata-rata, sebuah subak terdiri dari 80 ladang petani dan mencakup sekitar 40 hektar lahan. Subak tetangga yang berbagi sumber air yang sama berkumpul di bawah kuil air.

Secara geografis, Bali terletak sedemikian rupa sehingga pola suhu dan curah hujan memungkinkan petani menanam padi sepanjang tahun. Namun, sistem pengairan subak membuat petani tetap berpegang pada kalender yang ditentukan oleh otoritas pura melalui upacara, dengan memberikan waktu bera atau jeda tanam.

Prof J Stephen Lansing (72). Antropolog Complexity Science Hub Vienna dan Santa Fe Institute. | KOMPAS/AHMAD ARIF

Menurut pengamatan Steve, pengaturan pola tanam tidak hanya memastikan danau cukup air untuk mendukung semua petani dan tanaman mereka. Namun, hal ini juga membantu mengatasi serangan hama. ”Petani Bali telah belajar mengendalikan hama di sawah mereka dengan membanjiri sawah mereka setelah panen,” Lansing menjelaskan. ”Praktik ini telah berabad-abad menghilangkan wabah hama dan melindungi tanaman padi di pulau itu.”

Namun, Revolusi Hijau mengabaikan pengetahuan tradisional ini. Sistem periode bera di seluruh wilayah rusak karena petani diminta menanam padi sepanjang tahun. Pemerintah juga memaksa petani menanam varietas baru yang dianggap lebih produktif, menggantikan varietas lokal. Akibatnya, insiden penyakit bakteri dan virus, bersama dengan populasi serangga dan tikus, meningkat pesat.

Untuk mengatasi ini, pemerintah kemudian mengenalkan pupuk kimia dan pestisida impor. Alih-alih mengendalikan hama, pestisida ini juga membunuh sapi, ikan, dan bahkan meracuni petani. Pada awal 1980-an itu, sebagian besar subak berencana untuk kembali ke sistem subak dengan pola tanam untuk mengendalikan hama dan mengurangi kebutuhan pestisida.

Bersama dengan James Kremer, profesor ilmu kelautan di University of Connecticut, Lansing menciptakan model komputer yang menghubungkan perilaku petani dan lingkungan subak. Model menunjukkan, petani dapat berinteraksi dan belajar satu sama lain, misalnya dengan meniru tetangga yang mendapatkan hasil yang baik, sebuah pola akan segera muncul.

Selain melihat jejaring sosialnya, Steve juga melihat kaitannya dengan penggunaan benih lokal, waktu tanam, hingga pintu air tradisional di sistem Subak. Sistem ini kemudian dirombak proyek Revolusi Hijau. ”Ternyata, sistem tradisional subak ini paling baik dan jauh lebih efisien,” katanya.

Steve kemudian menulis artikel ilmiah berujudul Balinese ”Water Temples” and the Management of Irrigation (American Anthropologist, 1987), yang menunjukkan kaitan manusia dan alam bisa membuat pola yang sangat efisien, harmonis, dan berkelanjutan. Sebaliknya, gangguan dari luar seperti Revolusi Hijau justru akan merusaknya. ”Kuncinya di sistem jaringan yang harmonis dan adaptif secara sosial dan ekologi,” kata Steve.

Makruf, anggota komunitas Punan Batu di Sajau Benau, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, menunjukkan ubi tubong yang menjadi makanan sehari-hari mereka, Jumat (2/9/2022). Untuk protein Punan Batu bergantung pada binatang liar dan ikan sungai. | AHMAD ARIF

Artikel Steve ini kemudian menjadi salah satu pelopor teori kompleksitas (complexity theory) dalam ilmu sosial. Hal ini kemudian memaksa pihak Bank Pembangunan Asia (ADB) yang mengutangi proyek Revolusi Hijau di Indonesia meninjau programnya di Bali.

Walaupun mengalami banyak gangguan, hingga saat ini sistem subak di Bali masih bertahan dan kemudian menjadi Lanskap Budaya Warisan Dunia UNESCO pada 2012. Penelitian Steve tentang pura air di Subak menjadi dasar bagi penganugerahan ini.

Steve yang kemudian menjadi profesor ekologi danbiologi evolusi di Universitas Michigan dan Universitas Arizona mulai tertarik untuk melihat wilayah Indonesia yang lain. Dia kemudian berkolaborasi dengan ahli biologi molekuler dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Herawati Supolo Sudoyo, ke berbagai daerah di Indonesia.

Relasi sosial dan alam

Dia terutama fokus pada kaitan antara bahasa dan budaya dengan genetika. Untuk mendekatkan diri dengan Indonesia, dia mendirikan Complexity Institute dan menjadi profesor di Nanyang Technological University (NTU) di Singapura pada 2015 hingga 2019. Sejak itu dia semakin intensif mengikuti tim LBM Eijkman meneliti berbagai etnis di pedalaman Indonesia. ”Kalau di Indonesia bisa, saya ingin Complexity Instutite dibangun di sini. Sumber pengetahuan saya terutama dari Indonesia,” kata Steve suatu waktu.

Prof J Stephen Lansing (72), antropolog Complexity Science Hub Vienna dan Santa Fe Institute, di perahu, saat menuju ke Punan Batu di hulu Sungai Sajau, Bulungan, Kalimantan Utara, awal September 2022. | AHMAD ARIF

Terbaru, dia terlibat dalam ”menemukan” dan mengenalkan Punan Batu, pemburu dan peramu terakhir Kalimantan, ke dunia luar. Paper yang ditulisnya bersama para peneliti eks LBM Eijkman di jurnal Evolutionary Human Science (2022) merupakan karya ilmiah pertama tentang Punan Batu.

Tak hanya meneliti, Steve juga mencari jalan untuk melindungi Punan Batu dan hutannya. Dia kemudian berkolaborasi dengan berbagai lembaga konservasi untuk meyakinkan Pemerintah Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, agar mengakui Punan Batu sebagai masyarakat hukum adat dan melindungi ruang hidup mereka.

Sekalipun sudah berumur, Steve selalu berupaya ke lapangan, termasuk saat mencari Punan Batu pada akhir 2018, dia harus berperahu selama berjam-jam, berjalan berhari-hari di hutan yang dipenuhi pacet, dan menginap di tenda. ”Tidak ada kata pensiun untuk peneliti. Saya akan terus ke lapangan, sampai akhir,” kata Steve yang kini sedang menyelesaikan buku terbarunya.

Buku ini berupaya menyarikan perjalanan Steve di berbagai wilayah Indonesia. Dari Bali hingga Punan Batu Steve melihat adanya pola pengetahuan di balik kompleksitas budaya. Pola pengetahuan yang dibentuk oleh proses panjang kebudayaan ini dipengaruhi oleh interaksi yang harmonis, tidak linier, dan adaptif antara manusia dan alamnya, serta dipercaya bisa berkontribusi menjawab krisis lingkungan dan krisis iklim saat ini.

J Stephen Lansing

Usia: 72 tahun

Karier:

  • Profesor Eksternal di Complexity Science Hub Vienna dan Santa Fe Institute, dan profesor antropologi emeritus di University of Arizona.
  • Dari 2015 hingga 2019 sebagai pendiri dan Direktur Complexity Institute dan profesor di Asian School of Environment at Nanyang Technological University di Singapura.

Karya Buku:

  • Priests and Programmers: Technologies of Power in the Engineered Landscape of Bali (1991)
  • Perfect Order: Recognizing Complexity in Bali (2006)
  • Guide to Bali’s UNESCO World Heritage (2012)
  • Islands of Order: A Guide to Complexity Modeling for the Social Sciences (2019)
  • Selain buku, Steve juga menulis puluhan artikel di berbagai jurnal ilmiah.

Last Updated: Sep 28, 2022 @ 2:13 pm

WordPress Video Lightbox