• Novi Dimara

    Novi Dimara

    Novi Dimara

    Kini, anak-anak Indonesia yang menyaksikan perempuan 34 tahun itu memasuki ruang kelas—berpakaian seragam kuning longgar, helm merah, dan bersepatu bot—mendapat pelajaran lain: perempuan juga bisa menjadi petugas pemadam kebakaran seperti laki-laki.

    Misi Penyelamatan

    Ketika Novi Dimara mengunjungi anak-anak sekolah di Papua, dia meminta mereka untuk mengingat tiga kata penting: berhenti, tiarap, berguling.

    Tiga kata itu bisa menyelamatkan jiwa bila terjadi kebakaran. Novi belajar kata-kata kunci itu di Amerika Serikat pada tahun 2014 ketika mendapat kesempatan bergabung dengan pasukan pemadam kebakaran Arlington County Fire Station 9 dan belajar kajian ilmu dan teknologi kebakaran di Northern Virginia Community College. Kini, anak-anak Indonesia yang menyaksikan perempuan 34 tahun itu memasuki ruang kelas—berpakaian seragam kuning longgar, helm merah, dan bersepatu bot—mendapat pelajaran lain: perempuan juga bisa menjadi petugas pemadam kebakaran seperti laki-laki.

    Atasannya di PT Freeport Indonesia memberi subsidi penugasan Novi di Virginia sebagai penerima beasiswa di State Department’s Community College Initiative Program (CCIP), yang di Indonesia dikelola oleh American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF). Ketika Novi pulang, “Dia lebih positif dan percaya diri,” ujar Jeff Simpkins, penasihat teknis keamanan di perusahaan itu. Setelahnya, Novi, yang lebih percaya diri, meyakinkan Freeport agar menyelidiki setiap panggilan darurat dengan memerintahkan para komandan untuk memantau situasi di lapangan sebelum menyatakan suatu insiden sebagai “alarm palsu”. Sebelum ini, sebuah telepon kilat sudah dianggap cukup.

    Lahir di Jayapura, Novi menghabiskan beberapa tahun masa kecilnya di wilayah terpencil Unurum Guay, tempat ayahnya bertugas sebagai polisi. Pada saat itu, awal 1990-an, perjalanan dari kota ke sana berarti naik truk selama tujuh jam menempuh jalanan yang rusak berat lalu berhenti di jembatan dan menyeberangi sungai dan hutan dengan berjalan kaki selama tujuh jam lagi. Tidak ada listrik.

    Saat tumbuh, Novi bermain permainan yang sama dengan anak laki-laki. Bersama dengan empat saudara laki-lakinya, Novi bermain bola dan bermain kasti. Novi juga perenang yang tangguh dan waspada terhadap arus sungai. Tidak seperti sepupunya yang ingin menjadi pegawai negeri, Novi punya cita-cita lebih pragmatis. Dia masuk sekolah kejuruan untuk menjadi tukang listrik agar bisa membantu penduduk desanya menikmati hidup lebih nyaman.

    Namun, kebiasaan memanjat menara listrik yang tinggi tidak datang dengan sendirinya. Novi takut pada ketinggian. Kendati demikian, dia memaksa diri terus memanjat hingga 20 meter dari atas tanah. Dengan terus berlatih, dia pun berhasil—pelajaran awal tentang membangun keberanian.

    Novi melamar ke Freeport begitu lulus sekolah. Perusahaan itu mempekerjakan Novi sebagai teknisi kebakaran karena penyelidikan terjadinya kebakaran sering berkaitan dengan kerusakan kabel listrik. Ternyata tugasnya tak hanya sampai di situ. Novi juga dilatih untuk bergabung dengan tim penyelamat darurat dan hidupnya menemui perubahan dramatis setelah tahun 2007.

    Novi naik helikopter, turun dengan menggunakan tali dan kain gendongan untuk menyelamatkan para pemanjat yang tersesat di hutan. Dia juga pernah 6 9 membantu perempuan-perempuan yang tinggal di gubuk-gubuk terpencil melahirkan lima orang bayi. Dia menjebol pintu mobil dan menarik keluar sopirnya setelah terjadi kecelakaan di area tambang. Dia bahkan tak ragu memasuki rumah yang terbakar untuk menyelamatkan anjing milik seorang pegawai Freeport.

    “Saat kita menolong orang lain, kita harus bertindak seperti laki-laki, tapi ingatlah bahwa kita ini perempuan,” kata Novi. “Membuat korban merasa nyaman itu penting.”

    Kombinasi empati dan ketangguhan terbukti penting pada satu episode tragis dalam sejarah Freeport. Pada pagi hari 14 Mei 2013, terowongan bawah tanah Big Gossan runtuh sekitar 550 meter dari gerbang tambang emas dan tembaga Grasberg. Tiga puluh delapan karyawan sedang mengikuti pelatihan di dalam terowongan. Saat upaya evakuasi dilakukan, Novi bertugas menerima telepon dari kerabat para korban di pusat komando.

    Novi menangani satu telepon dari seorang istri yang menangis terisak dan bertanya kepadanya, “Apa suami saya bisa selamat? Apa di dalam sana dingin? Apa suami saya ada air minum?” Novi pun ikut menangis. Tetapi dia memaksa diri mengendalikan emosinya lalu berbicara perlahan dan tenang. Dia bilang kepada si penelepon bahwa perusahaan sedang mencoba menyelamatkan korban sesegera mungkin, “dan minta dia berdoa karena kita tak akan berhasil tanpa restu Tuhan.” Si istri terdiam lalu berkata kepada Novi bahwa dia akan berdoa.

    Akhirnya, 10 karyawan Freeport selamat dalam kecelakaan itu, tetapi 28 orang tewas.

    Tahun berikutnya Novi menemukan panutan saat dia pergi ke Virginia. Dia berjumpa para perempuan pemadam kebakaran di Station 9 dan terkesan oleh kekuatan fisik mereka. Dia menyaksikan salah satu dari mereka menaikkan tangga dan semprotan api secara bersamaan, sesuatu yang tak dapat dia lakukan. Itu membuat Novi meminta Freeport menyediakan perlengkapan kebugaran di dalam pos pemadam kebakaran agar timnya bisa berlatih angkat berat saat luang.

    Ketika magang di pusat pengaduan telepon 911, Novi mengagumi atasannya, seorang perempuan Afrika Amerika yang “berbicara dengan berwibawa.” Bagi Novi, pusat pengaduan telepon itu teknologinya jauh lebih canggih ketimbang yang dia tahu di Papua. Tidak perlu bersusah payah menuliskan informasi dengan tangan, misalnya, para petugas menggunakan keyboard dan mengandalkan kode-kode untuk menyampaikan situasi darurat dengan cepat.

    Dalam kuliah di kampusnya, Novi satu-satunya mahasiswi. Semula kemampuan bahasa Inggrisnya jauh tertinggal. Kata seperti “grip” (mencengkeram)—penting bagi petugas pemadam kebakaran—baru baginya. Karena itulah Novi menerima saran dari salah satu dosennya untuk mengembangkan kemampuan bahasa Inggrisnya dengan membaca novel The No. 1 Ladies’ Detective Agency karya Alexander McCall Smith dan menyiapkan kamus bahasa Indonesia/bahasa Inggris di samping kamus Inggris/Inggris yang lebih lengkap. Sementara itu, suaminya terus memberi dukungan moral melalui koneksi Skype.

    Sepulang ke Papua, Novi memutuskan menamai anak ketiganya untuk menghormati petualangannya di Amerika Serikat. Aneela Alexandria Virginia lahir pada 4 Januari 2016. Di dalam lemari bajunya terdapat sebuah kaos mungil Tembagapura berwarna kelabu serupa milik sang ibu.

    Rekan kerja Novi di Freeport mencatat bahwa Novi menunjukkan komitmen khusus terhadap anak-anak dan keselamatan mereka. Bersama dengan lulusan lain Community College Initiative Program, dia ikut serta dalam kelompok pelayanan sosial bernama Look At Me Papua (LAMP). Pada Desember 2015, misalnya, LAMP menyelenggarakan pembagian hadiah Natal dan mengumpulkan beragam mainan dan alat-alat sekolah. Namun, karena terjadi perang antarsuku, sekitar 100 anak tidak bisa pergi ke sekolah dan mengambil hadiah mereka. Novi mendapat izin khusus untuk menyelenggarakan acara itu di pos pemadam kebakaran meski sempat cukup repot dalam mengurus proses birokrasi, kata Boby Yulianto Yomaki, instruktur kepemimpinan di Freeport.

    Novi meminta para petugas pemadam kebakaran laki-laki untuk membersihkan dan menghias pos mereka, yang mereka lakukan tanpa mengeluh. Ini bukti bahwa mereka menghormati Novi. “Dari cara mereka bicara dan memperlakukan dia, saya bisa lihat bahwa mereka tidak meremehkannya,” kata Boby. Tim ini kemudian menjemput anak-anak ke pos, lalu setelahnya mengantar mereka pulang. Semoga tak satu pun dari anggota tim ini yang harus berjibaku menghadapi amukan api.

    Karyawan Freeport lainnya, Frits Worabay, berpendapat bahwa Novi memiliki “profesionalisme dan kepedulian” yang sangat menginspirasi. Keberhasilan Novi mendapatkan beasiswa memotivasi Frits untuk terus belajar, katanya, sehingga dia berkesempatan mengikuti Northampton Community College di Pennsylvania pada 2016–2017 atas bantuan dana CCIP.

    Mengenang makan malam Thanksgiving di Arlington, Novi kini merasa senang bisa merayakan hari raya dengan rekan-rekannya di Freeport. Adapun soal CCIP, dia terus memberi saran sepanjang tahun. “Saya terus mengatakan kepada semua orang, terutama orang-orang Papua, ini kesempatan besar yang harus kalian ambil. Dunia ini tidak kecil.”

    Last Updated: Apr 18, 2019 @ 3:46 pm

    Artikel ini tampil di buku Efek Riak: Alumni Fulbright Mengukir Jejak di Dunia (halaman 67-71) yang diterbitkan pada tahun 2017 memperingati ulang tahun ke-25 AMINEF dan ulang tahun ke-65 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah The Ripple Effect: How Fulbright Alumni are Marking Their Mark on the World. Penulis: Margot Cohen. Penerjemah: Anton Kurnia.

    WordPress Video Lightbox