i̇şlek caddelere ve kafelerin olduğu kalabalık bir yere sikiş taşınmak isteyen genç çift bekar hayatı yaşadıkları porno huzurlu evlerinden daha sosyal imkanları olan bir porno izle mahalleye taşınmak isterler bu fikri sonrasında anal porno anında soyunmaya başlayan abla dediği kadını görünce yıllarca porno izle abla dememiş gibi onu tek celsede sikerek abla kardeş sex izle ilişkisine yüksek seks mahkemesinin kararıyla son brazzers verirler üvey kardeşlerin şehvetle sikiştiğini gören porno video mature ise boş durmaz ve onların bu eğlenceli ensest sikişmelerine kendisi konulu porno de dahil olur yine bir gün elinde poşetlerle eve gelir ders sex izle çalışmakta olan üvey oğluna yeni iç çamaşırlar aldığını bunları porno babasından önce ona göstermek istediğini söyler

Penjelasan Dokter Cara Menyembuhkan Pasien Covid-19

Jakarta – Saat ini di seluruh negara besar di dunia sedang ditimpa musibah global dengan adanya pandemi virus corona atau Covid-19, yang sudah banyak memakan korban jiwa.

Banyak yang bertanya, bagaimana pasien Covid-19 bisa sembuh setelah dinyatakan positif terinfeksi virus corona. Padahal, di belahan dunia mana pun, hingga kini belum ditemukan vaksin untuk ‘mematikan’ virus tersebut.

Konsultan kesehatan masyarakat dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) dr. Nurul Nadia Luntungan menjelaskan, Covid-19 hampir sama seperti virus flu lainnya, yang dapat sembuh dengan sendirinya.

Sebagian besar yang terkena Covid-19, sebanyak 80 persen memiliki gejala ringan, sedang dan berat. Sementara, jika dihitung secara global, yang memiliki gejala berat sampai meninggal hanya tiga persen. Di luar presentase tersebut pasien dia pastikan bisa sembuh dengan sendirinya.

“Sebenarnya seperti virus flu. Jadi virus ini sebenarnya bisa sembuh dengan sendirinya. Dan sebagian besar orang biasanya gejalanya ringan atau sedang. Tapi 20 persen orang yang terkena (corona) bisa mendapat gejala baru, sedang sampai berat. Kalau angka global sekitar tiga persen itu bisa meninggal dunia karena infeksi tersebut. Tapi, kalau orang-orang yang di luar 3 persen itu, virus nya memang akan sembuh sendiri,” kata Nurul kepada Tagar, Selasa, 7 April 2020.

1584513638674-relawan-jakarta

Giat sukarelawan membuat hand sanitizer di Laboratorium Departemen Kimia Kedokteran Universitas Indonesia, Senin, 16 Maret 2020. (Foto: Tagar/Edy Yuliansyah Syarif)

Wanita lulusan Harvard TH Chan School of Public Health ini menambahkan, yang saat ini menjadi persoalan adalah di mana seseorang tidak mengetahui apakah dia terinfeksi Covid-19 atau tidak, apabila belum melakukan tes.

“Cuma yang menjadi masalah adalah, kita tidak tahu apakah kita orang yang akan gejala ringan, sedang atau berat,” ujarnya.

Dia menuturkan, kelompok rentan biasanya mudah terkena serangan Covid-19, yakni di atas usia 60 tahun. Kemudian, memiliki riwayat merokok lama, kencing manis, darah tinggi dan lain-lain.

Nurul mengatakan, vaksin yang selama ini menjadi pertanyaan banyak orang bukanlah sesuatu yang dapat menyembuhkan pasien-pasien positif Covid-19. Namun, itu berguna untuk mencegah kematian bagi pengidap virus tersebut.

“Jadi gunanya vaksin ini sebenarnya adalah untuk mencegah timbulnya gejala yang berat atau mencegah kematian akibat infeksi virus,” ujarnya.

 

1586232704680-rs-pertamina (1)

Seorang dokter menunjukkan alat tes swab virus Corona berupa Polymerase Chain Reaction diagnostic kit (PCR) di Laboratorium Rumah Sakit Pertamina Jaya, Cempaka Putih, Jakarta, Senin, 6 April 2020. Alat tersebut nantinya dapat melakukan tes virus corona hingga 1.300 sampel tiap harinya. (Foto: Antara/M Risyal Hidayat)

Pada dasarnya, kata Nurul, virus itu bisa dikalahkan oleh pasien yang memiliki imunitas yang baik. Dia menegaskan, vaksin yang ada berguna untuk mencegah gejala-gejala berat corona.

“Tapi guna vaksin itu sebenarnya adalah untuk mencegah gejala yang berat. Jadi saat ini banyak yang hampir masuk ICU, sampai meninggal dunia, sesak nafas berat. Itu karena kekuatan si virus jauh lebih tinggi daripada daya ketahanan orang tersebut. Nah, di situlah vaksin berperan,” kata dia.

“Jadi, pada dasarnya memang virusnya bisa mati sendiri. Akhirnya, karena kalah dengan daya tahan tubuh seseorang yang terinfeksi. Artinya bisa sembuh,” ucapnya dengan nada optimis.

Sementara, untuk pasien yang dinyatakan telah sembuh dari Covid-19, penanganannya hanya menggunakan obat-obatan yang dapat mengurangi gejala yang dirasakan pasien.

“Misalnya pasien itu dikasih obat demam, atau untuk pasien-pasien yang gejala berat memang sudah ada beberapa obat yang dipakai, tapi fungsinya adalah lagi-lagi untuk menurunkan gejala atau meningkat daya tahan tubuh si pasien untuk melawan virus, sambil menunggu sebenarnya lama-lama si virus mati atau hilang di tubuh si pasien,” tutur dia.

Meskipun orang yang berusia muda atau produktif cenderung mampu melawan Covid-19 dengan daya tahan tubuh yang dimiliki, namun dia tetap meminta agar tiap orang selalu waspada dengan penyebaran virus asal Wuhan, China tersebut.

“Sebenarnya memang bisa sembuh sendiri. Cuma kita harus selalu waspada memastikan kita yang sehat dan masih muda juga tidak menulari kelompok yang memang lebih rentan tadi,” katanya.

Selama mengerti cara memutuskan rantai penyebaran Covid-19, kata dia, maka masyarakat tidak perlu khawatir. Namun, harus lebih waspada. “Selama kita mengerti apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukan upaya pencegahan. Mudah-mudahan kita bisa menghadapi Covid-19 ini bersama-sama,” ucap Nurul.

Secara terpisah, Tagar juga menanyakan hal yang sama kepada Ketua Departemen Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dr. Wawaimuli Arozal.

Wawaimuli mengatakan, vaksin sesungguhnya berguna untuk pencegahan virus apa saja, bukan untuk pengobatan.

“Vaksin adalah untuk pencegahan bukan untuk pengobatan, seperti vaksin polio diberikan untuk mencegah penyakit polio,” kata dia kepada Tagar.

Dia meyakini pasien virus corona dapat sembuh jika penanganan yang dilakukan tepat dan sesuai dengan gejala yang didapat dari orang yang terinfeksi.

“Pasien yang menderita Covid-19 sebagian besar (90%) akan sembuh dengan penatalaksanaan yang baik. Artinya, diberikan obat sesuai gejala yang timbul. Disamping itu, yang tidak kalah pentingnya adalah imunitas tubuh kita berperan penting dalam mengeliminasi virus tersebut,” ujarnya.

Dia menekankan, obat-obatan yang diberikan kepada pasien positif Covid-19 mesti sesuai dengan kondisi terinfeksi berat atau ringan, serta selalu memerhatikan gejala yang dirasakan. Asupan yang dibutuhkan mulai dari vitamin, antivirus dan lain-lain.

“Obat yang diberikan pada penderita Covid-19 adalah untuk mengatasi gejala serta obat empiris lainnya. Misalnya ini protokol di RSPI. Ada vitamin, klorokuin, anti virus dan antibiotik,” ucapnya.

 

Last Updated: Jun 18, 2020 @ 10:48 pm

WordPress Video Lightbox