• Putut Widjanarko

    Putut Widjanarko

    LEBIH MENCINTAI TANAH AIR

    Beasiswa Fulbright ternyata membuat Putut Widjanarko lebih mencintai Indonesia. “Saya makin menyadari kebutuhan masyarakat kita dalam bidang pendidikan dan perbukuan,” katanya. Putut tiba di Amerika Serikat pada bulan Agustus 2001, hanya beberapa hari sebelum serangan atas World Trade Center terjadi.

    “Suasana batin bangsa Amerika langsung berubah. Anak-anak yang tengah bermain di halaman dipanggil supaya cepat-cepat masuk ke dalam rumah. Dosen saya, William Frederick, menyatakan tidak bisa mengajar hari itu, karena pikirannya terganggu. Belum pernah Amerika mengalami kejutan sebesar ini,” katanya.

    Daerah permukiman, tempat tinggal Putut dan keluarganya di Athens, Ohio, segera dijaga oleh polisi. Kebetulan banyak keluarga Arab tinggal di daerah itu. Banyak mahasiswa dari Asia dan Timur Tengah yang merasa kurang terjamin keamanannya. “Beruntung seorang dosen, Ibu Collins, dengan suka-rela mengantar para mahasiswa Indonesia yang hendak pergi berbelanja,” katanya.

    Meskipun demikian, dengan beasiswa Fulbright, Putut bertahan dan tinggal sampai 2003, bersama istrinya yang sempat melahirkan seorang anak di sana. Ia meraih gelar master di bidang Kajian Media dari College of Communication, Universitas Ohio dengan tesis berjudul “Mapping Notions of Cyberspace: Optimism, Skepticsm, and the Issues of Identity and Spirituality.”

    Putut, anak sulung dari enam bersaudara, lahir di Kediri, Jawa Timur, tahun 1965. Baru berumur beberapa bulan, dia sudah dibawa pindah ke Karanganyar, dekat Solo, Jawa Tengah. Ayahnya, pemilik toko buku, sengaja membuatkan perpustakaan khusus untuk keluarga. Itulah yang kemudian membuka cakrawalanya untuk ikut mengembangkan industri perbukuan di Indonesia. Sejak 1993, ia bergabung dengan Penerbit Mizan yang terkemuka.

    Nama Putut Widjanarko terkait erat dengan sukses besar film “Laskar Pelangi”, yang ditonton oleh lebih dari 4,7 juta pemirsa, rekor tertinggi yang pernah dicapai di Indonesia. Itulah film yang mengajak masyarakat peduli pada pendidikan dan menghormati jasa-jasa guru di pedalaman. Nama Putut juga berada di balik program penerbitan bagian dari desertasi Ann Dunham, ibunda Presiden Barack Obama, yang mengangkat masalah kehidupan rakyat kecil di pedesaan.

    Putut sendiri mengawali pendidikannya di bidang teknik fisika di Institut Teknologi Bandung, karena suka pada fisika. Kemudian ia melanjutkan ke Sekolah Tinggi Manajemen dan mendapat gelar S-2nya yang pertama. Segera setelah menyelesaikan program master kedua di Ohio itu, dia kembali ke Ohio untuk menyelesaikan program doktor di bidang ilmu komunikasi massa di Scripps College of Communication. Gelar doktor diraihnya tahun 2007 setelah mempertahankan disertasi berjudul: “Homeland, Identity, and Media: A Study of Indonesian Transnational Muslims in New York City.”

    Isterinya, Elin Driana, juga tengah sibuk mengajukan disertasi untuk meraih gelar doktor di bidang pendidikan. Putut dan Elin, sebagai suami-isteri, diwisuda pada waktu yang bersamaan, yang menurut Putut merupakan pengalamannya yang paling mendalam dan mengharukan selama belajar di Amerika. Kini mereka berdua memperjuangkan cita-cita untuk membangun masyarakat Indonesia yang berpendidikan tinggi dan hidup modern.

    “Melalui buku dan film kita bisa memperkenalkan kehidupan masyarakat Muslim Indonesia yang cinta damai dan menjunjung tinggi kerukunan,” katanya. Apakah Putut ingin memberikan gambaran negerinya sebagaimana Amerika mempromosikan kebudayaannya melalui industry film Hollywood? “Kami belum berpikir ke sana. Tetapi film-film yang kami produksi mulai mendapat perhatian besar di berbagai festival di luar negeri,” kata Putut. Ia menjelaskan bagaimana pendidikan ilmu komunikasi yang diperolehnya berkat beasiswa Fulbright, semakin memperdalam cintanya kepada bangsa, masyarakat dan kebudayaan Indonesia.

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 171-173) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox