• R William Liddle

    R. William Liddle

    TEMPAT YANG TEPAT

    Untuk seorang ilmuwan politik di tahun 1959, ketika saya mulai kuliah di tingkat pascasarjana, Asia Tenggara adalah salah satu tempat yang paling tepat. John Kennedy akan segera terpilih sebagai presiden, program Korps Perdamaian akan dimulai; pusat perhatian dunia terarah ke negara-negara yang sudah lepas dari penjajahan ini. Dan Indonesia adalah salah satu negara terbesar di dunia, negara yang dapat memainkan peranan di pentas dunia. Bahkan anda bisa membayangkan Indonesia sebagai sebuah BRIC. Dan ketika tengah menimbang-nimbang fokus penelitian saya, saya ingat berpikir ketika itu bahwa kalau saya ditendang keluar dari Indonesia — karena perintah Soekarno, mungkin akan sulit untuk mempelajari politik di Indonesia — tapi toh masih ada Malaysia sebagai pilihan lain. Tapi ketika saya mulai belajar bahasa dan sejarahnya dan lain sebagainya saya langsung terpikat pada Indonesia.

    Dua hal terjadi pada diri saya karena Fulbright. Pertama, Fulbright memungkinkan saya datang kembali ke kawasan tersebut untuk pertama kali sejak melakukan penelitian disertasi dulu. Saya tinggal di sebuah kota kecil di Sumatera Utara melakukan penelitian ilmu politik secara antropologis antara tahun 1962 dan 1964 dan segera setelah rampung saya pergi ke Universitas Chicago untuk belajar di bawah bimbingan antropolog Clifford Geertz. Dan kemudian saya mendapat pekerjaan di Universitas Ohio State (OSU) dan saya sibuk menulis disertasi saya dan sebagainya, sehingga pada tahun 1967 saya tidak merasa terlalu dekat lagi dengan kawasan tersebut. Tentu saja apa yang terjadi di Indonesia pada tahun 1965 – 1966, saya tidak menyaksikannya sendiri. Saya berada jauh sekali, dan tidak ada internet. Dan kesempatan pertama untuk kembali lagi adalah ketika menerima beasiswa Fulbright ke Singapura. Saya didanai tahun 1968 – 1969 untuk mengajar di Universitas Singapura yang sudah tua, dan saya senang mendapatkan kesempatan itu. Ada begitu banyak lalu lintas intelektual di Singapura, dengan para akademisi dan yang lainnya yang datang dan pergi. Dan saya adalah ahli Asia Tenggara, jadi saya mengajar tentang Indonesia dan kawasan ini selama bertugas di sana, yang memungkinkan saya lebih memperdalam lagi pemahaman saya tentang Indonesia.

    Setelah itu kesempatan berikutnya untuk datang ke Indonesia untuk jangka waktu yang panjang — dua tahun — adalah program di Aceh yang didanai oleh Fulbright. Ide awalnya berasal dari Geertz, yang menulis proposal ke Ford Foundation, yang memilih dosen tingkat S-2 di bidang ilmu-ilmu sosial yang belum pernah melakukan penelitian lapangan dan mendidik mereka melakukannya dengan pendekatan antropologis di suatu pusat penelitian selama satu tahun di Ujung Pandang (sekarang Makassar) atau Banda Aceh. Saya sebenarnya sudah lama ingin melakukannya tetapi dana belum tersedia, jadi ketika Fulbright mendanai program itu, saya langsung mengambil kesempatan tersebut.

    Pada saat itu jugalah saya memulai karir kedua saya sebagai penulis kolom untuk Tempo, Kompas, The Asian Wall Street Journal, The Far Eastern Economic Review, dan surat kabar serta majalah lainnya. Hal ini tak akan mungkin terjadi kalau seandainya saya tidak tinggal di kawasan itu.

    Sisi lain dari itu semua itu adalah para mahasiswa saya yang telah mendapat beasiswa Fulbright. Beberapa di antaranya yang aktif saya ikut pilih, seperti Rizal Mallarangeng, dari Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta. Djayadi Hanan adalah yang terbaru dan terakhir. Setidaknya ada setengah lusin orang yang mendapat beasiswa Fulbright ke Ohio, dan hal ini sangat penting bagi kemampuan saya untuk mendidik orang Indonesia untuk menjadi akademisi dan berkontribusi pada perkembangan ilmu politik di Indonesia. Ohio tidak seperti Singapura; tidak ada orang-orang yang datang dan pergi sepanjang waktu. Saya harus pergi keluar dan menemukan mereka!

    Saya telah lama sekali menjadi ahli Indonesia. Di Amerika pun, hidup saya sangat dipengaruhi oleh pekerjaan dan rekan-rekan Indonesia saya. Saya dapat bercakap dalam bahasa Indonesia dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia. Dan saya tinggal di negara bagian Ohio, belajar dan mengajar tentang Indonesia, selama 47 tahun.

    Kalau saya tengok kembali karir saya, saya melihat bahwa saya berpandangan bahwa Indonesia dan Amerika Serikat mudah untuk diperbandingkan. Keduanya adalah negara modern, yang dibangun sendiri. Tidak seperti Jepang atau Perancis, atau Jerman, yang penduduknya mempunyai latar belakang etnis atau keturunan dari nenek moyang yang sama; Indonesia adalah bangsa yang berasal dari orang-orang yang memang ingin hidup bersama, seperti halnya kami di Amerika Serikat.

    Last Updated: Jun 3, 2019 @ 4:22 pm

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 174-176) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox