i̇şlek caddelere ve kafelerin olduğu kalabalık bir yere sikiş taşınmak isteyen genç çift bekar hayatı yaşadıkları porno huzurlu evlerinden daha sosyal imkanları olan bir porno izle mahalleye taşınmak isterler bu fikri sonrasında anal porno anında soyunmaya başlayan abla dediği kadını görünce yıllarca porno izle abla dememiş gibi onu tek celsede sikerek abla kardeş sex izle ilişkisine yüksek seks mahkemesinin kararıyla son brazzers verirler üvey kardeşlerin şehvetle sikiştiğini gören porno video mature ise boş durmaz ve onların bu eğlenceli ensest sikişmelerine kendisi konulu porno de dahil olur yine bir gün elinde poşetlerle eve gelir ders sex izle çalışmakta olan üvey oğluna yeni iç çamaşırlar aldığını bunları porno babasından önce ona göstermek istediğini söyler

Ramadan di Amerika, Pengalaman 1 Bulan Yang Merubah Hidup Saya

Mufti Rasyid was awarded Community College Initiative Program to study Media at Parkland College 2011.

Masih terlintas di ingatan saya ketika belajar di pesantren di Jombang sekitar tahun 2002, ustad saya bercerita, “Bersyukurlah kalian hidup di Indonesia, durasi puasa kita selalu sama, di negara lain saudara-saudara kita ada yang harus berpuasa hingga 20 jam sehari”. Saya hanya tertawa saat itu, “Tidak mungkin!”, gumam saya dalam hati. Satu dekade kemudian, apa yang menurut saya tidak mungkin malah menjadi kenyataan yang saya alami sendiri!

Mufti Rasyid, itulah nama saya. Saya adalah penerima beasiswa Community College Initiative (CCI) Program di Parkland College, Champaign, Illinois pada tahun 2011/2012. Selama 10 bulan, saya belajar ilmu komunikasi dan media di kampus ini. Sebagai sarjana pendidikan bahasa Arab, mempelajari ilmu komunikasi adalah hal yang sangat baru buat saya. Namun saya sangat menyukainya karena sesuai dengan bakat dan minat saya.

Kota Champaign tempat saya belajar ini adalah kota yang sangat majemuk. Selain Parkland College, di kota ini juga berdiri megah kampus University of Illinois at Urbana-Champaign (UIUC), salah satu kampus dengan jumlah mahasiswa asing terbanyak di Amerika Serikat.​

16 Jam Menahan Lapar dan Dahaga

Selama hampir setahun saya tinggal di Amerika Serikat, banyak sekali pengalaman yang saya peroleh. Betapa “beruntung”-nya saya, baru seminggu mendarat di Amerika langsung merasakan betapa menantangnya berpuasa di negeri orang. Saat itu adalah bulan Agustus tahun 2011, saat musim panas sedang berada di puncaknya.

Banyaknya jumlah mahasiswa asing di kota ini membuat komunitas Muslim disini berkembang dengan pesat. Di kota ini terdapat CIMIC (Central Illinois Mosque and Islamic Center) yang selalu mengadakan acara buka bersama dan sholat tarawih setiap bulan Ramadan.

Mufti Rasyid seusai menjalani tarawih di CIMIC

Dan tahukah Anda, berapa lama durasi puasa saat itu? 16-17 jam! Bayangkan saja, mulai dari jam 4 pagi kami harus menahan lapar dan dahaga hingga adzan Magrib berkumandang pukul 8 hingga setengah 9 malam!

Berat? Jangan ditanya lagi. Perlu diketahui, musim panas di Amerika berbeda dengan musim kemarau di Indonesia. Disana udaranya sangat kering dan menusuk kulit, sedangkan di Indonesia masih terasa lembab dan berangin. Saking panasnya, matahari serasa tinggal sejengkal dari rambut kita. Berpuasa dalam keadaan seperti ini membuat kepala saya berkunang-kunang dan badan terasa lemas. Rasanya hampir menyerah saja saat hari pertama puasa. Namun saat melihat senyum dan semangat anak-anak kecil disana dalam menunggu buka puasa, rasa lelah saya seketika hilang.

Sekitar jam 7.30 malam saat orang Indonesia mulai sholat tarawih, disini kami masih “ngabuburit” menunggu beduk Magrib. CIMIC (Central Illinois Mosque and Islamic Center) yang terletak tak jauh dari apartemen saya selalu dipenuhi oleh umat Muslim dari seluruh penjuru dunia. Disini selalu diadakan buka bersama dengan system potluck. Jadi tiap harinya ada jadwal yang ditentukan untuk komunitas tertentu dalam menyiapkan hidangan. Misalnya hari ini jadwalnya komunitas Muslim Mesir, besok komunitas Muslim India, besoknya lagi komunitas Muslim Indonesia.

Hal ini tentunya sangat menarik karena kita bisa mencicipi makanan dari segala penjuru dunia. Karena mayoritas komunitas Muslim disini berasal dari Pakistan dan India, hidangan ala India seperti Nasi Biryani, Gulai dan Kebab menjadi menu utama yang sering kami nikmati.

Satu lagi hal yang menarik, selain gratis, acara buka bersama ini juga tak hanya diperuntukkan bagi kaum Muslim tapi sahabat-sahabat yang beragama dan keyakinan lain juga diperkenankan untuk hadir. Sebagai gantinya, beberapa gereja disana juga sering mengundang komunitas Muslim untuk makan bersama dalam acara perayaan Natal. Alangkah indahnya kebersamaan!

Selain mengikuti buka puasa bersama di masjid tempat saya tinggal, saya juga menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa situs bersejarah Islam lainnya, seperti The Mother Mosque of America di kota Cedar Rapids, Iowa yang merupakan masjid tertua di Amerika.

Di depan The Mother Mosque of America

Kita Semua Bersaudara

Pengalaman Ramadan di Amerika yang saya alami selama 1 bulan adalah pengalaman once in a lifetime yang tak bisa dilupakan seumur hidup. Ada banyak hikmah yang saya peroleh terutama tentang toleransi antar umat beragama.

Saya masih ingat beberapa teman dekat saya (warga Amerika yang menganut keyakinan berbeda) yang mengetahui saya sedang berpuasa selalu berusaha untuk tidak makan dan minum secara “bebas” saat berada di dekat saya. Bahkan saat saya merasa hampir menyerah dalam menjalani puasa hari pertama, mereka lah orang pertama yang menyemangati saya. Acara buka puasa bersama yang diadakan CIMIC dengan mengundang warga dari berbagai keyakinan disana juga menunjukkan betapa tingginya semangat toleransi disana.

Tak hanya toleransi antarumat beragama, toleransi antarsesama umat beragama juga terlihat sekali. Sholat tarawih yang saya ikuti di CIMIC membuka mata saya akan keberagaman yang ada dalam agama Islam itu sendiri. Ini pertama kalinya dalam sejarah saya melihat beragam cara sholat dari berbagai mazhab dan aliran yang ada dalam Islam, mengingat komunitas Muslim disana berasal dari seluruh penjuru dunia.

Semakin kita tahu perbedaan yang ada, kita semakin sadar bahwa kita tidak boleh merasa paling benar dan kita harus mampu menghargai semua golongan. Semangat toleransi dan persaudaraan yang saya dapatkan selama belajar di Amerika akan terus saya bawa selama hidup saya.

Sepulang dari Amerika Serikat, saya kembali menekuni profesi sebagai pengajar sambil tetap menekuni bakat dan minat saya dalam media kreatif. Berkat ilmu yang saya peroleh saat mengikuti CCI Program di Amerika, saya berhasil menjadi finalis Eagle Award Documentary Competition 2016 yang diadakan Metro TV.

Saat ini saya bekerja sebagai dosen di jurusan Bahasa dan Sastra Arab di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung. Sebagai dosen, saya tidak hanya ingin mengajar tapi juga menanamkan nilai toleransi dan persaudaraan dan memberi wawasan tentang dunia internasional pada para mahasiswa saya. Dengan cara membagikan pengalaman saya sebagai seorang Muslim yang menjalani CCI Program di Amerika Serikat.

Last Updated: Apr 28, 2021 @ 11:08 am

WordPress Video Lightbox