• Rizal Mallarangeng

    Rizal Mallarangeng

    PADA AKHIRNYA ADALAH ILMU

    “Sebuah bangsa tidak dihormati karena emasnya atau minyaknya, tetapi karena ilmu pengetahuan yang dikembangkannya,” kata Rizal Mallarangeng di kantornya, Perpustakaan Umum, Freedom Institute di Jalan Proklamasi, Jakarta. Pengagum Abraham Lincoln ini merasa, saat mendapat beasiswa Fulbright adalah “one of the best times in my life.”

    “Fulbright memberi fondasi baru untuk mengembangkan hidup,” katanya. “Perubahan yang paling fundamental bagi saya, Fulbright menanamkan cinta pada informasi dan pendidikan untuk masyarakat luas. Pelajaran paling penting yang dapat diterapkan adalah membuka perpustakaan seperti ini.”

    Ia ingin membangun masyarakat yang mementingkan ilmu pengetahuan. Di Jalan Proklamasi ia mengelola sebuah perpustakaan umum, dengan koleksi lebih dari 12.000 judul buku dan 30 jurnal. Itulah perpustakaan publik pertama yang dikelola secara profesional oleh lembaga swasta. Rizal adalah pendiri dan pemimpinnya sejak 2001. “Saya memilih jalan yang jarang ditempuh – I took the one less traveled by,” katanya mengutip sajak Robert Frost, penyair Amerika terkenal, yang berjudul “The Road Not Taken.”

    Rizal bangga menjadi “murid kelima” R. William Liddle di Universitas Ohio State (OSU). Sekembali ke Indonesia, ia berambisi menghidupkan gairah belajar masyarakatnya. “Pusat-pusat informasi harus dihidupkan. Misalnya seperti American Corner di Perpustakaan Universitas Gadjah Mada, tempat saya belajar dulu,” katanya.

    Rizal Mallarangeng kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 1964, adalah seorang pengamat politik dan pencinta sastra. Di ruang kerjanya yang luas, ia memasang poster presiden Amerika, Barack Obama, dan penyair Indonesia terkemuka, Chairil Anwar.

    Di atas mejanya tampak tiga dari sekian banyak buku yang ditulisnya, yaitu Mendobrak Sentralisme Ekonomi Indonesia 1986 – 1992, Pers Orde Baru dan kumpulan esai tentang manusia, masyarakat dan kekuasaan berjudul Dari Langit. Buku setebal 660 halaman itu mendapat pengantar dari jurnalis kenamaan, Goenawan Mohamad.

    Rizal, yang pada masa kecilnya dipanggil Celli, adalah seorang yang lincah di lapangan politik, jurnalistik, dan kemasyarakatan. Ia pernah menjadi staf khusus Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Republik Indonesia. Pada tahun 2008, bersama adiknya Choel Mallarangeng dan kawan-kawan dekatnya, ia mendirikan lembaga konsultasi politik, Fox Indonesia. Pada tahun itu juga ia menyatakan diri ikut dalam pencalonan pemilihan presiden Republik Indonesia 2009. Memang usahanya untuk maju sebagai calon independen tidak berlanjut, tetapi penampilannya memberikan variasi yang segar dalam proses demokratisasi Indonesia. Diakuinya pengalamannya itu terinspirasi oleh kemenangan Barack Obama.

    Ada satu lagi inspirasi yang menjadi obsesi baginya. “Ibukota negara seharusnya menjadi pusat ilmu pengetahuan bangsa kita. Kalau kita lihat ibukota Amerika, Washington, DC, kantor pemerintahan dilengkapi dengan perpustakaan besar, Library of Congress, lembaga ilmu pengetahuan Smithsonian dan berbagai macam museum,” kata Rizal.

    Tidak ada salahnya Indonesia mencontoh hal-hal yang bagus dari Amerika. Sebagai misal, ia ingat bagaimana setiap hari ia harus kerja keras menyiapkan diri, ketika menjadi asisten dosen di OSU. “Sebelum mengajar kita harus benar-benar siap, karena mahasiswa sangat kritis,” kenangnya. Waktu itu Rizal menjadi asisten dosen untuk bidang Perbandingan Politik.

    Sekarang, Rizal yang merupakan cicit panglima perang terakhir kerajaan Bone, lebih banyak melakukan kegiatan keilmuan di Jakarta. Pada akhir pekan, ia berada di lereng gunung Salak, Bogor, mengurus budidaya jamur tiram putih dan kambing boer di perkebunannya. Itulah yang diteladaninya dari para pemimpin Amerika. Di sela-sela kegiatan politik, mereka tetap dekat dengan pertanian dan cinta lingkungan.

    Last Updated: Jun 3, 2019 @ 4:25 pm

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 177-179) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox