• Robert W Hefner

    Robert W. Hefner

    KEBIASAAN – KEBIASAAN HATI

    Beasiswa Fulbright benar-benar menentukan arah karir dan pemahaman saya tentang agama di dunia modern. Pada akhir tahun 1970-an saya ke Jawa Timur sebagai mahasiswa program doktor untuk meneliti sebuah daerah kantong kecil masyarakat Jawa-Hindu dan mayoritas Muslim yang tinggal berdekatan, semua itu dilakukan dalam upaya memahami sifat Islam di Jawa dan perubahan yang berkaitan dengan agama di Indonesia secara keseluruhan. Pada saat saya kembali pada tahun 1985 untuk penelitian lapangan kedua yang berlangsung lebih lama, saya sadar bahwa saya ingin mendedikasikan karir saya untuk mempelajari budaya dan sejarah Islam dari perspektif orang yang hidup dalam masyarakat yang menjalankan Islam dengan cara yang berbeda-beda. Hal ini menjadi tema yang saya kerjakan sampai hari ini, bukan hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia Muslim. Penelitian dari kedua pengalaman Fulbright tersebut memberi saya sekumpulan pertanyaan yang harus terus saya gumuli selama lebih dari 30 tahun.

    Ketika pertama kali tiba di Indonesia, saya kagum pada daya hidupnya. Di satu sisi saya beranggapan pendidikan saya tidak menyiapkan saya pada kenyataan betapa cepatnya Indonesia berubah saat itu. Waktu itu, studi antropologi dan studi Indonesia terlalu terpaku pada masa lalu dan tidak cukup menangkap gelombang perubahan yang tengah melanda Indonesia. Dalam beberapa tulisan etnografis dan sejarah Indonesia timbul kesan bahwa Indonesia adalah tempat yang tenang dan sepi. Tapi tentu saja sejak tahun 1970-an dan 1980- an Indonesia tidak sepi sama sekali, bahkan ramai dan dinamis. Saya terkejut menyaksikan rasa ingin tahu dan semangat belajar yang saya temui di kalangan mahasiswanya.

    Banyak persahabatan awal saya, bagaimanapun, terbina dengan orang desa kebanyakan di Indonesia. Di sebuah desa kecil di pegunungan Tengger saya menjadi teman dekat seorang pendeta Hindu Jawa yang juga seorang petani. Dia seorang pria bijak yang baik dan lembut. Kehidupannya sebagai orang Jawa dan seseorang yang religius telah menjadi titik acuan refleksi saya sendiri pada keimanan dan hubungannya dengan dunia modern sampai saat ini. Ketika pada awal 1990-an saya mulai meneliti kaum intelektual Muslim di Jakarta, Nurcholish Madjid menjadi teman dan juga sumber inspirasi, dan juga Dawam Rahardjo, tokoh intelektual besar Muhammadiyah. Pada akhir 1990- an saya mengenal Azyumardi Azra dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah di Jakarta. Bahkan saat saya melakukan perjalanan ke universitas Islam di negara lain, Pak Azra dan universitasnya mengingatkan saya pada kualitas pendidikan Islam di Indonesia yang luar biasa.

    Penelitian lapangan sangatlah personal, dan, betul, pengalaman penelitian saya di Indonesia telah mengubah saya secara personal. Ibu dan ayah saya adalah orang Midwestern yang sangat santun, sehingga dalam banyak kesempatan, hal itu memudahkan saya untuk menghargai tradisi Indonesia dalam hal kesopansantunannya. Tapi saya memahami sopan santun sebagai lebih dari sekedar kesopanan. Hal ini adalah warisan budaya yang mengajarkan orang untuk menegosiasikan keragaman dan kesepakatan satu sama lain dengan cara yang santun. Gaya keramahtamahan yang santun ini merupakan bagian dari kearifan budaya Indonesia; mempelajari ekspresi dan ritmenya telah mengubah saya selamanya.

    Sekalipun banyak sekali tantangan yang harus dihadapi Indonesia selama ini, saya pikir Indonesia tetap merupakan masyarakat yang penuh pengharapan. Tentu saja, selama 20 tahun ke depan, saya pikir Indonesia ditakdirkan untuk memperoleh pengakuan internasional sebagai salah satu negara yang paling unik dan secara kultural paling penting di zaman kita. Indonesia sudah lama bergumul dengan permasalahan bagaimana orang hidup berdampingan dengan bahagia dalam masyarakat yang kompleks, dan orang-orang Indonesia mengembangkan beberapa kebiasaan hati, meminjam ungkapan Alexis de Tocqueville, dimana kebiasaan itu sangat membantu mereka dalam menghadapi perbedaan. Hidup di dalam perbedaanperbedaan agama bukanlah sesuatu yang muncul secara alami di mana saja, namun saya pikir orang Indonesia telah lama sekali mengalaminya. Orang Barat juga harus belajar kebiasaan hati untuk mengatasi perbedaan penting agama dan budaya.

    Last Updated: Jun 3, 2019 @ 4:27 pm

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 180-182) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox