• S Celia Lowe

    S. Celia Lowe

    MENGAJUKAN PERTANYAAN

    Hibah Fulbright pertama saya mendanai penelitian disertasi saya di Kepulauan Togean pada pertengahan 1990-an. Pada saat itu, saya mempelajari interaksi antara para ahli biologi konservasi dan masyarakat setempat dalam pembuatan sebuah taman nasional Kepulauan Togean. Saya berpikir sebagaimana orang asing lainnya, utamanya orang Amerika, Anda harus banyak belajar pada awalnya, dan seperti mahasiswa antropologi pada umumnya biasanya masih berusia muda. Saya sudah belajar bahasa Indonesia, tetapi di Kepulauan Togean saya tidak dapat berbicara dalam satu pun dari tujuh bahasa yang digunakan penduduk di sana! Selang dua bulan kemudian seorang teman dari Amerika Serikat datang berkunjung dan dengan cepat saya terserang sakit tenggorokan karena berbicara terlalu banyak. Saya kemudian menyadari bahwa saya sudah dua bulan tidak pernah berbicara dengan siapa pun, saya hanya diam saja, mendengarkan.

    Tantangan lainnya adalah menghadapi stereotip terhadap penelitian saya dan ilmu antropologi pada umumnya. Ada persepsi umum bahwa para antropolog mempelajari masyarakat “primitif,” dan bahwa peran formal antropologi adalah membantu agar pembangunan ekonomi berjalan lebih lancar.

    Dalam beberapa hal, persepsi ini pada umumnya benar adanya untuk sebagian besar abad ke-20, namun banyak antropolog sekarang berpandangan bahwa dirinya menyumbangkan sesuatu yang berbeda. Kami tertarik pada distribusi perbedaan, dan adanya kesenjangan, dalam dunia modern, bukan pada menciptakan pembagian-pembagian semu antara yang primitif dan modern, atau yang masih terbelakang dan yang sudah berkembang.

    Banyak yang telah berubah, baik dalam ilmu antropologi maupun di Indonesia, dan sekarang telah berkembang rasa lebih saling mempercayai, serta dialog. Ada juga pergeseran mendasar baik pada orang Indonesia maupun peneliti asing dalam hal hak untuk bertanya dan memiliki pengetahuan tentang Indonesia. Saya ingat pada tahun 1993, seorang teman yang sedang memberikan sentuhan akhir pada disertasinya meminta saya untuk mampir ke pabrik tepung di Sulawesi Selatan dan bertanya tahun berapa pabrik itu didirikan. Saya pergi ke pabrik itu, tetapi informasi tentang tahun pendirian pabrik itu diperlakukan seperti masalah keamanan nasional, dan mereka meminta saya menunjukkan surat permintaan resmi untuk informasi sederhana tersebut. Masalah seperti inilah yang pada umumnya sudah berubah. Saat ini saya sedang memimpin, untuk pertama kalinya, perjalanan studi ke luar negeri – yang merupakan kerjasama antara mahasiswa Universitas Washington (UW) dan Universitas Indonesia (UI) – dan kami dapat melakukan wawancara tentang program mitigasi iklim dari REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation). Ada sikap yang benar-benar berbeda hari ini terhadap hak untuk mengajukan pertanyaan, dan hal ini menguntungkan mahasiswa Indonesia serta orang-orang seperti saya.

    Pada Fulbright kedua saya, lebih dari satu dasawarsa kemudian, saya mengajar di Yogyakarta. Berdasarkan pengalaman tersebut, saya sekarang tengah menulis karya besar kedua dalam karir saya, sebuah buku tentang flu burung. Karir saya sekarang terarah untuk melacak sains di Indonesia, sehingga saya tertarik pada bagaimana pendekatan orang Indonesia terhadap sains dan bagaimana hal tersebut menunjukkan bagaimana wacana-wacana kebenaran dihasilkan. Kita biasa berasumsi bahwa sains tidak memiliki dimensi budaya, kan? Tetapi ketika kita melihat bagaimana sains tergantung pada pertanyaan yang kita ajukan dan bagaimana tradisi-tradisi sains berbeda-beda di negara yang berlainan, hal itu membantu kita menyadari bahwa sebenarnya sains merupakan bagian dari kebudayaan dan bukan sekedar sebuah lensa yang mendekatkan kita kepada alam.

    Saya sekarang menjadi seorang pakar Indonesia karena kesempatan yang diberikan Fulbright kepada saya; program ini masuk di dua tempat dalam karir saya dan memungkinkan saya melakukan pekerjaan saya yang paling penting. Dan sekarang saya bisa melihat kekuatan dari pertukaran budaya yang dihasilkan oleh program-program seperti Fulbright. Dalam kolaborasi antara mahasiswa UI dan UW, misalnya, kita menyaksikan bagaimana kedua belah pihak tadinya beranggapan bahwa perspektif merekalah yang benar. Para mahasiswa AS sering harus disadarkan bahwa mereka tidak sedang berada di negara dunia ketiga di mana mereka memiliki jawaban terbaik untuk semuanya, dan mahasiswa Indonesia mungkin juga harus belajar bahwa setiap keterlibatan internasional bukanlah berarti adanya persekongkolan neo-kolonial terhadap Indonesia. Kedua belah pihak membawa persepsi mereka yang dapat diubah tadi dalam pertemuan mereka. Dan itu benar-benar suatu hal yang jenius dari Fulbright, bukan? Membuat orang di kedua belah pihak menyadari bahwa sebenarnya apa yang kita miliki adalah perbedaan, tetapi perbedaan ini tidak perlu menghambat kita untuk bekerja sama.

    Last Updated: Jun 3, 2019 @ 4:29 pm

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 183-185) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox