• Sapardi Djoko Damono

    Sapardi Djoko Damono

    BEBAS DARI KEINGINAN UNTUK SERAGAM

    Pada tahun 2003 salah seorang alumni Fulbright memenangkan hadiah Achmad Bakrie Award karena jasa-jasanya mengembangkan perpuisian Indonesia. Dia adalah penyair Sapardi Djoko Damono. Pria kelahiran Surakarta, 1940, ini juga dosen, bahkan pernah menjadi dekan pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia.

    “Saya mendapat beasiswa ke Universitas Hawaii untuk program nir-gelar pada tahun 1970 – 1971. Waktu itu ada program pengiriman dosendosen kita ke Amerika Serikat untuk menyusun dua mata kuliah yang diharapkan menjadi mata kuliah wajib di universitas, yakni ilmu sosial dasar dan ilmu humaniora dasar,” kata penyuka cerpen-cerpen William Saroyan ini.

    Sapardi mencatat bersamanya ada sekitar 20 orang dosen yang dikirim ke Amerika Serikat. “Tugas kami sebenarnya menyusun mata kuliah, dan tidak terutama untuk belajar. Meskipun begitu, ada rekan-rekan yang dikirim ke Universitas California di Berkeley untuk ilmu sosial dasar, akhirnya mereka berhasil mendapatkan gelar master. Di antaranya adalah Pak Gondomono, Pak Juwono Sudarsono, Pak Kamanto Soenarto, Pak Basoeki Soehardi, dan Pak James Danandjaja.”

    “Di Honolulu kami mengikuti beberapa kuliah. Kami bebas memilih apa saja yang kami sukai, dan waktu itulah saya mendapatkan pengalaman yang baru. Ada mata kuliah yang disusun bersama, yaitu oleh mahasiswa dan pengajar. Dari beberapa kuliah dan pergaulan dengan mahasiswa dari berbagai negeri itulah saya mendapat pengalaman yang sama sekali baru tentang bagaimana sebaiknya menyelenggarakan pendidikan tinggi,” ceritanya.

    Sapardi terkesan, karena, “Yang masuk ke dalam pikiran dan kesadaran saya adalah bahwa pendidikan tinggi bebas dari keinginan untuk seragam, dan tidak ada niat untuk menyeragamkannya baik dalam struktur maupun dalam kurikulumnya. Waktu itu kami juga diberi kesempatan untuk berkeliling di Amerika daratan berkunjung ke beberapa universitas unggulan.”

    Kebebasan untuk tidak sama atau seragam dengan yang lain, memang merupakan ciri khas penyair Sapardi Djoko Damono. Sajak-sajaknya bersifat liris, tidak mengikuti pola-pola penulisan tradisional yang mengutamakan pemenggalan baris, susunan kata dan permainan bunyi. Itulah yang membuat Sapardi dihargai sebagai seorang pembaharu dalam perpuisian Indonesia.

    “Mengenai hubungan Indonesia dengan negeri adikuasa seperti Amerika Serikat sangat penting dan harus dijaga terus kelangsungannya. Hubungan itu akan memberikan pilihan-pilihan yang bisa sangat berharga bagi kita untuk mengelola berbagai masalah budaya, sosial, dan politik. Kita tidak usah merasa terjajah oleh siapa pun, tetapi justru harus siap mengambil segala sesuatu yang bermanfaat bagi kita – asal tidak sekadar menerima saja tanpa kecerdasan dan keberanian untuk memilihnya. Ini hanya bisa berlangsung kalau pertukaran kaum intelektual berlangsung semestinya.”

    Meskipun Sapardi tidak lama belajar di Amerika, cukup banyak tulisannya, baik puisi maupun cerita pendek yang lahir dengan inspirasi dari sana. Salah satu karyanya yang terkenal adalah tentang sepasang sepatu yang dibelinya di Chinatown di San Francisco. Sepatu itu dianggapnya sama kuat dengan sepatu buatan Cibaduyut yang bila disayangi bisa dipakai sampai puluhan tahun.

    Peneliti sajak-sajak penyair AmerikaInggris T.S. Eliot ini dikenal sebagai seniman dan cendekiawan yang sederhana. Mengenai program pertukaran mahasiswa, Sapardi berpesan harus ditingkatkan. “Kita sebaiknya meneliti dan mempelajari segala sesuatu yang berkaitan hal-hal yang tidak bisa kita dapatkan di sini. Demikian juga mahasiswa Amerika sebaiknya belajar tentang segala sesuatu yang tidak mungkin didapatkan di negerinya.”

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 186-188) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox