• Setiawan Sabana

    Setiawan Sabana

    UTAMAKAN EKSPRESI DAN PRESTASI

    Berkah paling penting kuliah di Amerika Serikat (AS) dengan beasiswa Fulbright adalah menyadari pentingnya individual achievement. “Sebelum berangkat, saya termasuk orang yang pemalu. Takut bertanya apalagi berbicara di depan umum. Sekarang saya mendorong para mahasiswa agar tidak takut berbicara dan menunjukkan kemampuan di depan umum.

    “Saya memperoleh beasiswa Fulbright pada 1981 untuk studi lanjut program master di bidang seni grafis di Universitas Northern Illinois (NIU). Selama hampir dua tahun saya mendapat tambahan keterampilan teknis seni grafis, pengetahuan tentang seni grafis dan seni rupa yang berkembang di Amerika Serikat pada masa itu lewat mata kuliah-mata kuliah yang diberikan. Selain itu, berbagai kehidupan dunia kampus di NIU menjadi bagian dari pengetahuan dan pengalaman yang sangat berarti yang saya peroleh di sana.

    “NIU berada di kota kecil DeKalb yang berdekatan dengan kota besar Chicago. Waktu itu Chicago merupakan bagian dari denyut penting dan dinamis kehidupan bangsa Amerika dalam berbagai aspeknya: sosial, budaya, politik dan ekonomi. Di sana banyak terjadi berbagai kegiatan seni yang penting baik dilihat dari konteks nasional Amerika maupun internasional. Karena itu, saya sering memanfaatkan waktu luang pergi ke Chicago, terutama mengunjungi museum-museum dan galeri-galeri seni rupa yang sering memamerkan karya-karya seniman kontemporer masa itu yang sedang berpengaruh pada perkembangan seni rupa dunia.

    “Berbagai pengalaman sebagai mahasiswa seni, pengetahuan umum tentang seni rupa dan kebudayaan yang berkembang di Amerika waktu itu, ditambah pengalaman merasakan empat musim terutama musim dingin membekali saya banyak hal, yang saya rasakan kemudian sebagai momentum penting dalam perjalanan hidup dan kehidupan saya dalam arti dan maknanya yang dalam.

    “Dari sekian pengalaman yang berharga di Amerika Serikat itu, saya mencatat beberapa hal yang penting dan signifikan baik yang terkait dengan kehidupan pribadi sebagai individu maupun kehidupan berkarir khususnya sebagai dosen seni rupa di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan juga sebagai praktisi seni (pegrafis). Pengalaman kebebasan berekspresi di negeri Paman Sam itu membekali saya untuk mempraktekkan sikap mental seperti itu baik dalam pengertian umum maupun khusus dalam konteks ekspresi seni. Sejak itu kiprah berkesenian saya jauh lebih berkembang. Hal lain yang muncul adalah berkembangnya sikap kritis dan evaluatif terhadap kesenian dan kebudayaan Indonesia secara umum. Masa studi di AS saya kenang sebagai masa transisi yang berharga dalam perjalanan hidup dan kiprah kesenian saya selama ini.

    “Berbekal masukan berharga dari pengalaman tersebut, saya berharap pertukaran kegiatan kerja sama antara Indonesia dan Amerika Serikat dapat terus berlanjut, tentunya dengan memperhatikan aspirasi masing-masing negara yang memiliki nilai kultural yang berbeda dan unik satu sama lainnya. Saya berharap dimensi kebudayaan dapat menjadi substansi nilai yang diusung dan diapresiasi oleh kedua bangsa dalam menggerakkan motivasi, semangat dan program-program kegiatannya. Mudah-mudahan.”

    Last Updated: Jun 3, 2019 @ 4:33 pm

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 189-191) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox