• Wagiono Soenarto

    Wagiono Soenarto

    SEIMBANG PERLU TEROBOSAN

    “Kota, taman, gedung, monumen, pakaian, alat transportasi, perangkat kerja, furnitur dan berbagai benda pakai yang kita gunakan setiap hari selalu diciptakan melalui proses seni dan desain.” Itulah pandangan Wagiono Soenarto, yang mendapat beasiswa Fulbright untuk belajar di Institut Pratt di kota New York pada awal 1980-an.

    Saat itu ia tinggal di kawasan padat dengan tingkat kriminalitas yang tinggi. Suatu malam terjadi pembunuhan, tapi keesokan harinya anak-anak bermain seolah-olah tidak terjadi apa-apa malam sebelumnya. Wagiono menyaksikan petugas kebersihan menghapus bercak darah dan menyingkirkan pecahan botol di tempat anak-anak tengah bermain dengan ceria itu. Uniknya, beberapa tahun kemudian, kawasan Amerika yang dulu kumuh itu, ternyata dapat dibenahi menjadi permukiman yang sehat dan asri.

    Itulah pelajaran paling berharga bagi Wagiono yang kembali berkunjung ke Amerika setelah menjadi rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dan kerap memberikan konsultasi untuk penataan taman serta museum di beberapa kota di dalam negeri.

    “Selain mengajar di IKJ, sebenarnya sampai 2008 saya punya studio konsultan desain ‘Vico Design’ yang melakukan pekerjaan Komunikasi Visual, Desain Pameran dan Desain Museum. Kantor kami tersebut telah ikut menata Anjungan Indonesia di International Expo Hannover, Jerman; di Aichi, Jepang; di Zaragoza, Spanyol; serta Floriade, Hale Meer, Belanda.” Selain itu juga kami mengerjakan tata pamer Investment dan Trade Fair untuk pemerintah Indonesia di sejumlah negara dan kota di seluruh dunia.”

    Wagiono, yang mengambil jurusan seni grafis, lulus dari Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB), 1976 dan meraih gelar master di bidang komunikasi visual dan desain di Institut Pratt, 1983.

    “Selama di Amerika Serikat saya banyak melakukan perjalanan sambil berkemah di New York State dan New Jersey. Kami juga pernah melakukan perjalanan panjang dengan RV Motorhome dari Los Angeles ke Yossemite, Redwood, Lake Tahoe, Mojave Desert, dan Grand Canyon, hingga ke Las Vegas, San Diego dan San Francisco. Selama lebih dari satu bulan kami tidur di mobil caravan besar yang diparkir di Parking Ground yang berfasilitas lengkap, dimana kita bisa ikut bermacam kegiatan sosial dan rekreasi bersama campers lain.”

    Wagiono sangat menikmati pengalaman belajar maupun rekreasinya. “Kehidupan budaya urban di kota New York juga sangat meriah. Ada karnaval, Shakespeare in the Park, festival, kine club, pertunjukan musik dan opera, Broadway dan Off-Broadway, jazz di Greenwich Village,” katanya.

    Bagaimana hubungan antara Indonesia dan Amerika? “Dalam bidang kebudayaan saya rasa sudah ada timbal balik yang berimbang, baik pada program yang berbasis pada budaya tradisi dan warisan (heritage) maupun dalam bidang seni kontemporer-eksprimental. Pertukaran seni melalui jalur akademik maupun jalur profesi sudah berjalan cukup baik,” katanya.

    “Namun dalam industri kreatif, kita tertinggal banyak dalam infrastruktur industri di tingkat global, dan kelembagaan seni-budaya nasional yang menyebabkan banyak pelaku industri kreatif kita jatuh bangun walaupun hanya bersaing dengan spillover industri kreatif negara maju. Pasar Industri Kreatif dunia di Indonesia termasuk kecil dan hanya sedikit dibandingkan dengan pasar internasionalnya, komik, film, software, video, buku yang dari luar menguasai pasar kita sebagai spillover, dan kita belum bisa menghadapi mereka di dalam negeri, apa lagi di luar negeri, meskipun sudah terjadi satudua terobosan kecil,” kata Wagiono.

    Untuk meningkatkan dialog budaya, Wagiono berpendapat bahwa kita perlu memaklumi adanya “gagap berbahasa Inggris” di kalangan seniman Indonesia. “Kalau portfolio dan keterampilan berkesenian lebih diutamakan dari nilai tes bahasa Inggris, pertukaran seniman Indonesia ke Amerika akan lebih berdayaguna,” kata pria kelahiran Bandung, 1949, yang meraih gelar doktor dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia ini.

    Last Updated: Jun 3, 2019 @ 4:49 pm

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 202-205) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox