• anies

    Anies R. Baswedan

    USAHA MENCERAHKAN HARUS TERUS BERLANJUT

    Pada suatu hari mobil seorang mahasiswa Indonesia mogok di jalan bebas hambatan di Amerika Serikat. Kebetulan ada seorang pengendara mobil sederhana datang menolongnya. Tetapi, untuk menolong, orang itu harus memutar balik menyetir mobilnya lebih dari 80 kilometer.

    “Waduh, bagaimana saya bisa berterima kasih? How can I pay you?” cerita mahasiswa Indonesia itu. Nama lengkapnya Anies Rasyid Baswedan. Ia terpesona pada kebaikan hati orang yang menolongnya.

    “Ah, gampang,” jawab orang itu. “Kalau kamu melihat orang mendapat kesulitan di jalan, berhentilah. Bantulah dia. Dengan begitu kamu sudah membayar padaku.”

    Anies sangat terkesan. Untuk membayar kebaikan orang, kita tidak harus membayar pada orang yang sama, tapi pada orang lain. Itulah yang dialaminya sewaktu menjalani program beasiswa Fulbright. “Program Fulbright memberi inspirasi kepada saya untuk menyalurkan beasiswa bagi banyak orang lain,” kata Rektor Universitas Paramadina sejak tahun 2007 ini.

    Ibunya, Prof. Aliyah Rasyid, adalah guru besar Universitas Negeri Yogyakarta. Ayahnya, Rasyid Baswedan, seorang intelektual yang pernah menjadi Wakil Rektor Universitas Islam Indonesia. Sedangkan kakeknya, Abdurrachman Baswedan (AR Baswedan), seorang pendiri Republik Indonesia, adalah jurnalis kenamaan yang pernah menjadi Menteri Muda Penerangan. Dengan latar belakang seperti itu, Anies tumbuh sebagai seorang intelektual, mempelopori gerakan Indonesia Mengajar sejak tahun 2010, yaitu menempatkan anak-anak muda untuk menjadi guru di tempattempat terpencil di Indonesia.

    “Setiap usaha mencerahkan, mendidik, dan mencerdaskan bangsa, harus berjalan terus,” katanya. Ia juga ingin mengajak semua intelektual dunia agar datang dan belajar di Indonesia. “Negeri ini gudang dan eksportir ilmu pengetahuan. Perhatikan betapa kaya lingkungan hidup kita. Belum lagi kekayaan sosial dan budayanya,” tutur Anies.

    Jurnal Foreign Policy (FP) di Amerika Serikat, pernah menulis nama Anies Baswedan sebagai salah satu di antara 100 cendekiawan kaliber dunia seperti halnya Samuel Huntington, Francis Fukuyama, Thomas Friedman, dan lain-lainnya.

    Anies memiliki prinsip, daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin. Ia lahir di Kuningan, Jawa Barat, 1969; dibesarkan di Yogyakarta, sampai akhirnya lulus dari Universitas Gadjah Mada. Anies mendapat beasiswa Fulbright untuk meraih master di bidang kebijakan ekonomi dan keamanan internasional di Universitas Maryland di College Park.

    Ia ingat, beasiswa Fulbright hanya cukup untuk hidup pas-pasan. “Beasiswa itu diberikan di muka dan kami harus mengurus pembayaran kuliah sendiri. Kalau semua uang dibayarkan, bagaimana kami bisa makan?” kenangnya. Maka, ketika petugas registar kampusnya bertanya, “Apa yang dapat kami bantu?” Anies kembali bertanya, “Benarkah anda akan membantu saya?”

    Ternyata benar. Anies dibantu bagaimana mengatur pembayaran kuliah dan tetap bisa berbelanja untuk hidup. Ternyata banyak yang menolongnya, hingga mencapai sukses sebagai guru besar. Dan kalau ia bertanya, bagaimana bisa membayar orang yang membantunya? Jawabnya tetap sama: bantulah orang lain. Salurkan beasiswa, cerdaskan dan cerahkan masyarakat, dan jangan berhenti.

    Tantangannya, bagaimana bantuan yang disalurkan dapat lebih efektif dan optimal. Anies mengusulkan agar beasiswa tidak hanya diberikan kepada para mahasiswa yang hendak meraih gelar master atau doktor. “Kalau beasiswa diberikan kepada orang yang sudah jadi, para pemimpin, pakar, manajer maupun direktur yang berpengaruh, maka blog yang ditulis seorang direktur, misalnya, bisa dibaca sampai 5.000 orang sehari,” katanya. “Sedangkan seorang mahasiswa atau guru yang mendapat beasiswa baru akan berperan beberapa tahun lagi. Itu pun tidak langsung menjadi besar. Jadi, untuk mempercepat penyebarluasan semangat dan informasi, baik juga diberikan beasiswa bagi mereka yang sudah sukses.”

     

    Last Updated: Jun 3, 2019 @ 2:08 pm

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 81-83) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox