Catatan Reflektif: Kilas Balik Satu Tahun Perjalanan sebagai Fulbrighter

Andri Fernanda adalah penerima beasiswa Fulbright Doctoral Degree di University of Washington, tahun keberangkatan 2025.

Tulisan ini merupakan refleksi yang lahir dari hasil kontemplasi atas satu tahun perjalanan studi saya sebagai salah satu penerima Fulbright PhD Scholarship di University of Washington. Bagi saya, menjadi Fulbrighter bukan hanya tentang menempuh pendidikan di Amerika Serikat, tetapi juga tentang bagaimana membawa cerita, pengalaman, dan perspektif Indonesia di ruang akademik, sosial, dan budaya di sana. Sederhananya, tulisan ini adalah kulminasi dari apa yang telah saya pelajari dan yang mampu saya bagikan dari perjumpaan dan interaksi baik secara material, kultural, dan intelektual selama satu tahun pertama saya menginjakkan kaki di Seattle sebagai seorang Fulbrighter.

Awal Mula Perjalanan Fulbright

Sedikit kilas balik ke belakang mengapa akhirnya saya memilih dan berjodoh dengan Fulbright. Sejujurnya, bisa saya katakan bahwa di sepanjang perjalanan—baik akademik, profesional, dan personal—saya banyak bertemu dengan para Fulbrighters. Di setiap pertemuan dan percakapan yang terjadi dengan mereka saya bisa menyimpulkannya dengan satu kalimat: mereka adalah orang-orang yang tidak hanya inspiratif, tetapi juga rendah hati, terbuka, dan suportif. Dari sinilah saya merasakan keinginan untuk menjadi bagian dari mereka. Tetapi, momentum puncaknya ketika saya bertemu dengan Nina Asher, seorang Professor dari University of Minnesota yang saat itu datang ke Bangka Belitung sebagai seorang Fulbright Specialist. Saat itu saya menawarkan diri secara sukarela ke jurusan untuk membantu mobilitasnya selama ia berada di Bangka Belitung. Hampir di setiap perjalanan kami selalu mengobrol santai terkait isu bahasa, sastra, dan budaya. Hingga satu momen ia mengatakan bahwa Amerika adalah tempat yang cocok untuk saya melanjutkan studi doktoral. Tentu ini membuat saya kaget, lantas saya menjawab bahwa saya tidak cukup percaya diri. Namun sebuah kata-kata darinya yang membuat saya akhirnya yakin untuk mencoba: “I’m saying this not only as a professor, but also as a friend, I truly believe you deserve this opportunity, and I’m sure you can make it.” Ini menjadi pemantik besar yang mendorong saya mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi, dan langsung di awal tahun depan saya memberanikan diri untuk mendaftar beasiswa Fulbright. Seperti keinginan awal saya, saat itu Fulbright menjadi satu-satunya beasiswa yang saya daftar, dan saya bersyukur saya diterima di percobaan pertama.

Proses tentang pemilihan bidang studi yang saya pilih saat ini juga bisa dibilang cukup menarik. Sebagai orang yang lahir dan tumbuh di Sumatra, saya memiliki keyakinan bahwa masih banyak hal yang belum dieksplorasi di pulau ini. Saya semakin yakin ketika saya pindah ke Bangka Belitung dan melihat bahwa di bumi serumpun sebalai ini tidak hanya kaya dengan timah dan sumber mineral lainnya, tetapi juga kaya akan bahasa, tradisi, dan budaya lokal. Sayangnya, semua kekayaan—baik alam dan budaya—ini menghadapi ancaman kepunahan yang sangat besar di depan mata. Urgensi yang saya lihat di Bangka Belitung ini yang akhirnya membuat saya yakin dan mantap untuk melanjutkan PhD in Asian Languages and Cultures. Dan benar saja, pilihan ini bukan hanya membuat saya di terima di University of Washington, namun juga membuat saya memperoleh dukungan pendanaan berupa pembebasan biaya kuliah penuh untuk program doktoral saya. Tentu saya sangat bersyukur, karena studi doktoral saya mendapatkan dua dukungan pendanaan sekaligus; dari Fulbright dan University of Washington.

First-Gen: Antara Harapan dan Tantangan

First-gen atau first-generation student adalah sebutan untuk mereka yang menjadi orang pertama dalam anggota keluarga yang merasakan dan mendapatkan kesempatan untuk menempuh atau menyelesaikan studi di perguruan tinggi, yang artinya mereka tidak memiliki anggota keluarga yang bisa memberi arahan, menjadi rujukan, membagi pengalaman terkait dengan bagaimana memulai, menjalani, dan menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Sebagai seorang first-gen student, saya tidak memungkiri bahwasannya saya sempat kesulitan dan tertatih, saat menghadapi tantangan, rintangan, tekanan, dan kebingungan dalam menavigasi, mentranslasi, serta meresonansi perjalanan akademik hingga akhirnya saya bisa sampai di titik bisa menulis tulisan ini. Tidak perlu contoh yang rumit seperti kesulitan memahami budaya akademik di Amerika Serikat, bahkan hal-hal yang bagi orang lain sederhana seperti cara berkomunikasi dengan profesor harus saya pelajari sendiri dari awal. Kalau dianalogikan, first-gen student itu seperti orang yang berjalan ke tempat tujuan yang belum pernah ditempuh oleh siapa pun sebelumnya; tanpa peta, tanpa tahu rutenya, bagaimana medannya, dan apa saja aturannya.

Beruntungnya, University of Washington menyediakan ruang dan dukungan untuk mahasiswa first-gen sehingga saya benar-benar merasa dirangkul. Ada banyak resources yang disediakan seperti community connections, mentoring, community-building programs, networking, bahkan panduan bagaimana mendapatkan mentor yang tepat. Dan saya tidak menyangka bahwa saya menjadi salah satu first-gen yang ceritanya diangkat di laman resmi College of Art, University of Washington. Selain itu, saya juga diundang untuk menjadi salah satu pembicara di acara First-Gen Finansial Literacy Conference yang diselenggarakan oleh Residental Community Student Association, University of Washington.

Membawa Indonesia: Representasi, Ekspresi, dan Diplomasi

Selanjutnya, saya merupakan orang Indonesia sekaligus Fulbrighter pertama yang diterima di program PhD in Asian Languages and Cultures, University of Washington. Dengan percaya diri saya bisa katakan Indonesia selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas, dan di beberapa pertemuan budaya, sejarah, dan karya sastra Indonesia menjadi fokus utama diskusi kami di dalam kelas. Di departemen, saya dipercaya untuk menjadi senator mewakili departemen Asian Languages and Literature di GPSS (Graduate and Professional Student Senate) University of Washington. Kesempatan ini kemudian membuka ruang bagi saya untuk menjadi salah satu Committees Exclusive to GPSS Senators. Hingga akhirnya, saya berhasil terpilih menjadi anggota Judicial Committee di GPSS melalui proses pemungutan suara yang langsung melibatkan seluruh senator di tiga kampus UW: Seattle, Tacoma, dan Bothell. Tentu saja, ini adalah posisi penting untuk menunjukkan representasi mahasiswa Indonesia dan mahasiswa dari Global South di dalam ruang pengambilan keputusan terkait dengan kebijakan untuk mahasiswa pascasarjana. Posisi ini memungkinkan saya memiliki suara untuk menyampaikan berbagai isu yang dihadapi mahasiswa pascasarjana, mulai dari aksesibilitas dan isu tentang kesetaraan di kampus, pendanaan, dan persoalan lainnya terkait kehidupan kampus. Di sini, saya akhirnya mempelajari dan memahami bagaimana demokrasi kampus di Amerika Serikat bekerja; mulai dari keterlibatan dalam diskusi, proses negosiasi dan advokasi, hingga pengambilan keputusan.

Dalam konteks seni dan budaya, saya merasa beruntung ketika Khatinda Mounivong (salah satu mahasiswa PhD dan juga pengajar di School of Drama) mengajak saya untuk ikut berpartisipasi pada drama yang ia tulis dengan judul Dead in a Foreign Land yang dipentaskan di acara IGNITE New Works Festival, sebuah festival seni lintas disiplin yang diselenggarakan oleh School of Drama, University of Washington. Jujur saja, ini merupakan pengalaman pertama kalinya saya berkolaborasi langsung dengan orang-orang yang memiliki latar belakang seni dan teater. Dari pementasan drama yang kami lakukan dan runtutan keseluruhan acara festival selama tiga hari, saya makin menyadari betapa kuatnya ruang seni dan pertunjukkan berfungsi sebagai medium untuk menyampaikan ide, cerita, pengalaman lintas ruang, waktu, dan budaya.

Fulbright: Bukan Sekedar Beasiswa, Namun Jejaring Global

Satu hal yang menurut saya membuat Fulbright berbeda, karena Fulbright bukan hanya memberikan bantuan pendanaan kesempatan studi di Amerika Serikat, tetapi juga membuka akses ke jejaring global. Melalui program seperti Enrichment Seminar, Fulbright memberi kesempatan untuk membangun relasi, memperluas koneksi lintas negara, serta terlibat dalam pertukaran budaya dan diplomasi antar negara. Dalam kasus saya, Fulbright memberikan kesempatan kepada saya untuk menghadiri seminar Fulbright di Washington D.C. dengan tema Celebrating 250 Years of America: Building a Nation selama 4 hari yang semuanya dibiayai penuh; mulai tiket pulang pergi, hotel, serta seluruh kebutuhan lainnya. Kegiatan ini memungkinkan saya bertemu langsung dengan para Fulbrighter dari berbagai negara di seluruh dunia dan dari latar belakang disiplin ilmu yang berbeda. Kami berkesempatan mengunjungi situs-situs bersejarah, seperti The National Archives Building, The United States Capitol, The Martin Luther King Jr. Memorial, The Lincoln Memorial, Mount Vernon, dan Alexandria. Saya bisa mengatakan bahwa kegiatan ini akhirnya bukan hanya menjadi ruang untuk saya memahami perjalanan sejarah Amerika Serikat, namun juga ruang untuk saling terhubung dengan Fulbrighter dari seluruh dunia.

Menjadi PhD Student

Sebagai mahasiswa PhD, saya telah mempresentasikan dua tulisan saya di Spring 2026 Student Conference yang diselenggarakan oleh Center for Southeast Asia and its Diasporas dan AIFIS—MSU (American Institute for Indonesian Studies—Michigan State University) Conference. Selain menjadi presenter, saya juga sempat terlibat sebagai koordinator dalam penyelenggaraan seminar panel hybrid sebagai bagian dari kelas Decolonizing Authenticity in Southeast Asian Translation yang diampu oleh Dr. Nazry Bahrawi. Seminar ini disponsori oleh Department of Asian Languages and Literature dan Center for Southeast Asia and its Diasporas. Dalam kegiatan tersebut, saya bertugas sebagai penghubung komunikasi dengan tiga akademisi yang diundang untuk berbagi pemikirannya, diantaranya adalah Dr. Baskara T. Wardaya dari PRAKSIS Jesuit Center for Research and Advocacy, Dr. Rachmi Diyah Larasati dari University of Minnesota, Twin Cities, dan Dr. Sylvia Tiwon dari University of California, Berkeley.

Coretan di Musim Panas

Saat ini, saya sampai pada penghujung musim panas 2026, yang artinya ini juga merupakan penghujung dari akhir tahun pertama saya. Jujur, saat ini saya merasakan sensasi yang sama sebelum seperti saat saya memasuki tahun pertama—bersemangat, antusias, namun juga gugup dan deg-degan. Saya tidak tahu apa yang akan saya temui di tahun kedua dan akan seperti apa perjalanannya nanti, tapi di situlah letak nikmatnya sebuah perjalanan. Yang bisa saya lakukan adalah mempersiapkan dari dan menyusun peta perjalanan, meski saya tahu bahwa perjalanan selalu memiliki cara untuk memberikan kejutan. Namun satu hal yang pasti, sebagai seorang Fulbrighter, saya di sini bukan hanya sekedar berjalan dan meninggalkan jejak, namun juga merajut relasi dan koneksi lintas ruang, budaya, bahasa, dan negara.

Terakhir, bagi siapapun yang saat ini ingin melanjutkan studi di Amerika Serikat, jangan merasa rendah diri dan minder dengan apa yang kalian miliki, sehingga hal tersebut menghalangi kalian untuk mencoba mendaftar beasiswa Fulbright. Percayalah, sering tanpa kita sadari hal-hal yang selama ini kita anggap sebagai sesuatu yang biasa di dalam hidup ternyata adalah sesuatu yang sangat bernilai untuk dibagikan kepada dunia. Saya menunggu Anda bergabung menjadi bagian dari komunitas Fulbright, salah satu jejaring beasiswa yang paling dikenal dan prestisius di dunia.

Saya tunggu kalian para Fulbrighter masa depan!

WordPress Video Lightbox