• Taufik Abdullah

    Taufik Abdullah

    ETOS KERJA CENDEKIAWAN

    Tidak terbayang oleh Taufik Abdullah sekiranya dia tidak mendapat beasiswa Fulbright dan juga kuliah di Universitas Cornell. Pria kelahiran Bukittinggi, 1936 ini pada awalnya lebih tertarik “dunia Barat.” Ia lulus sarjana tahun 1961 dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta dengan skripsi tentang sejarah nasionalisme Eropa, tetapi karirnya justru berkibar setelah banyak menulis mengenai Minangkabau.

    Beasiswa Fulbright telah membuatnya sadar akan kekayaan sejarah kampung halaman, keindahan Siti Nurbaya dan kekuatan Tambo (sejarah lisan Minangkabau). Dengan menulis thesis tentang pembangunan sosial di Minangkabau, ia meraih gelar master dari Universitas Cornell pada 1967. Tiga tahun kemudian, dia meraih gelar doktor dari universitas yang sama untuk desertasinya yang berjudul “Schools and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatera, 1927 – 1933.”

    Bukan hanya gelar master dan doktor yang diperoleh Taufik, tetapi juga kebiasaan untuk cermat berbahasa, rajin membaca, serta giat menulis. Etos kerja sebagai cendekiawan adalah hikmah terpenting dari pengalamannya mendapat beasiswa Fulbright sebagai Asian Scholar-in-Residence (ASIR). “Sampai sekarang, beasiswa ke luar negeri sangat diperlukan untuk membekali para cendekiawan Indonesia,” katanya. Pengalaman belajar di Cornell, membuat Taufik mempunyai kebiasaan mengajar dan menilai mahasiswa lebih cermat. “Dosen saya, Oliver Wolters, selalu membuka thesaurus untuk mencari kata yang tepat, dan lebih memahami makna kata demi kata berikut akar dan padanannya. Makanya, saya juga tidak bisa bekerja tanpa buku kecil ini,” katanya sambil menunjukkan sebuah kamus thesaurus di mejanya.

    Taufik berkantor di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang diabdinya sejak lulus dari UGM dan pernah dipimpinnya antara 2000 – 2002. Sebagai peneliti dan pegiat sosial, Taufik pernah menjadi peneliti di Jurusan Ilmu Politik, Universitas Chicago, Universitas Wisconsin, dan Netherlands Institute for Advanced Studies in the Humanities and Social Science (NIAS) Wassenaar di negeri Belanda.

    Pengalaman penting lain yang berdampak panjang dalam hidup Taufik adalah pelajaran tentang hidup berdemokrasi. Selama belajar di Universitas Cornell, dia melihat bagaimana mahasiswa berdemonstrasi, memprotes perang Vietnam. Demonstrasi itu demikian besarnya, sampai pada suatu ketika mahasiswa akhirnya menduduki kampus. Itu terjadi ketika kultur anak muda mengobarkan semangat “jangan percaya pada orang berumur di atas 30 tahun.”

    Kemarahan dan kejengkelan pada pendahulu itu juga yang rupanya menyulut gairah Taufik untuk mendalami sejarah Minangkabau. “Sebetulnya alasan mengapa saya memilih meneliti Minangkabau juga berkah rasa marah – out of anger. Seolah-olah sejarah hanya terjadi di Pulau Jawa. Waktu itu belum ada yang mempelajari sejarah dan sosiologi di Sumatera, Kalimantan dan lain-lainnya.”

    Begitu ujar Taufik yang pernah menjadi Ketua Komite Eksekutif Program Kajian Asia Tenggara (ISEAS) di Singapura, Wakil Presiden Asosiasi Ilmu Sosial Asia Tenggara di Kuala Lumpur, serta Wakil Presiden Asosiasi Sosiologi Internasional Dewan Riset Sosiologi Agama. Ia telah menulis sekitar 30 judul buku, dan pada tahun 2009 menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Indonesia

    Taufik juga sering diundang mengajar di berbagai universitas baik di Amerika Serikat maupun negeri lain. “Penerjemah terkenal, John McGlynn, pernah menjadi mahasiswa saya di Wisconsin,” kenangnya. “Dia tidak mau ketika saya suruh membuat makalah lima halaman tentang mengapa tertarik mempelajari sastra Indonesia. Tetapi dia lebih suka memilih menjawab dua dari lima pertanyaan yang saya berikan. Masing-masing pertanyaan dijawabnya dengan esai sepanjang 15 halaman. Jadi, disuruh menulis lima halaman tidak mau, malah membuat 30 halaman,” ceritanya.

    Taufik berkesimpulan, yang paling penting adalah memberi kesempatan siswa berpikir bebas dan tidak membatasi ekspresinya. Suka-cita untuk berpikir dan belajar sendiri inilah yang diperlukan oleh para cendekiawan Indonesia. Melalui Fulbright, Taufik merasa telah melakukan transformasi pribadi. Seorang dosennya yang terkenal, Claire Holt ketika bertemu lagi dengan Taufik bertanya, “Tiga puluh tahun lalu, saya bertemu seorang mahasiswa yang pendiam dan pemalu. Dimana orang itu sekarang?”

    Pengalaman itulah yang membuat Taufik memberikan rekomendasi agar penerima beasiswa Fulbright ditingkatkan terus jumlahnya. Ia ingin Indonesia mendapatkan sarjana yang tidak pemalu dan pendiam, melainkan cendekiawan yang bekerja dengan gembira, serius dan lebih mencintai Tanah Airnya.

    Last Updated: Jun 3, 2019 @ 4:36 pm

    Artikel ini tampil di buku DARI SABANG SAMPAI MERAUKE Memperingati Ulang Tahun 60/20 Fulbright dan AMINEF (halaman 192-195) yang diterbitkan pada tahun 2012 memperingati ulang tahun ke-20 AMINEF dan ulang tahun ke-60 Fulbright di Indonesia.

    Judul asli adalah Across the Archipelago, from Sea to Shining Sea Commemorating the 60/20 Anniversary of Fulbright and AMINEF. Penerjemah: Sagita Adesywi dan Piet Hendrardjo.

    WordPress Video Lightbox